Malaman, Ritual Menerangi Jalan Arwah-arwah yang Pulang

SumateraPost, Liwa – Gelar malaman, meski tak semeriah biasanya, karena pandemi Covid 19 di Sebarus masih berlangsung Sabtu (23/5) malam seperti dilaporkan Eliza dari pekon Sembayung, Sebarus, Liwa, Lampung Barat.

Dalam bulan Ramadhan, ada malam-malam yang sangat dinanti oleh warga Lampung Barat. Tak hanya malam Nuzul Quran, saja tetapi malaman keduapuluhtujuh ramadhan (malaman pitu likokh) dan malam terakhir alias malaman buka dibi. Ritual malaman pitu likokh dan malam buka dibi sudah dilaksanakan sejak jaman dulu.

Menurut Eka Fendi Aspara warga Liwa, acara tradisi malaman ini masih berlangsung hingga kini di pekon-pekon di daerah Kebun Tebu, Belalau, Sukau, dan Batu Brak. “ Kalau di pekon-pekon yang dekat kota sudah jarang ada paling di satu dua pekon. Padahal acara ini cukup menarik untuk sajian pariwisata,” ujar guru penyuka fotografi ini.

Lebih lanjut, Eka Fendi Aspara, membeberkan, acara malaman berupa acara keliling kampung di malam keduapuluhtujuh ramadhan dengan menggunakan obor yang terbuat dari bambu. Pawai obor keliling ini tentunya banyak diikuti para muli mekhanai (bujang gadis). Ini menarik untuk ajang silaturahmi dan saling mengenal. Sedangkan para orangtua menyaksikan dari beranda rumah panggung, ” terang Eka Fendi Aspara Alliwa.

Eka menambahkan, biasanya di depan halaman rumah masing-masing ada obor dari bambu yang dinyalakan juga, atau tumpukan batok kelapa yang dilubangi dan disusun dalam sebatang kayu kopi yang ditancapkan.

Guru SDN 1 Way Mengaku, Eliza mengatakan, acara malaman tak seramai dulu. “Dulu hampir setiap pekon ada. Tetapi sekarang makin sedikit yang melakukan tradisi malaman, bisa jadi tradisi ini tergusur, karena makin banyaknya hiburan, termasuk televisi dan gadget,” terang Elisa yang asli kelahiran Sembayung, Sebarus, Lampung Barat.

Elisa menambahkan kepercayaan warga disini semakin tinggi batok kelapa yang disusun, semakin jelas roh keluarga yang telah meninggal untuk kembali ke rumah.”Semakin tinggi batoknya yang dibakar, rohnya semakin jelas tidak nyasar,” ujar Elisa.

Sementara itu, Yulianto Nuzuli, Pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat membenarkan, kalau tradisi ini malaman ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Lampung Barat. Tetapi Tradisi ini kembali dilaksanakan dengan tujuan untuk melestarikan budaya yang sudah menjadi ciri khas di beberapa kecamatan di Lampung Barat ini. “Bulan ramadhan tahun lalu, kami membangkitkan kembali. Bahkan akan menjadi akan acara malaman ini menjadi agenda tahun yang rutin digelar seperti dulu. Tetapi tahun ini terkendala wabah pandemi Covid 19. Jadi kami batalkan,” tandas Yulianto.

Yulianto membeberkan , tujuan dari tradisi malaman ini, kalau menurut kepercayaan nenek moyang dulu adalah untuk menyambut arwah-arwah leluhur. Jaman dulu masyarakat Lampung punya kepercayaan pada malam 27 Ramadan ke atas seluruh keluarga (yang sudah meninggal) akan pulang ke rumah. “Menurut mereka pada malam-malam tersebut arwah-arwah akan pulang ke rumah keluarganya masing-masing. Untuk itu, agar arwah-arwah itu tidak kesasar nyasar maka didepan rumah masing-masing diberi penerangan berupa malaman itu,” kisah Yulianto yang bermukim dari Pekon Muarajaya.

Bertepatan dengan malam takbiran usai sholat tarawih, dilaksanakan kembali tradisi malaman yang khusus ini sebut Malaman Buka Dibi. Malaman ini berlangsung lebih meriah, karena puasa telah berakhir dan esok lebaran tiba. Biasanya susunan batok-batok lebih tinggi, karena batok yang terkumpul dari kelapa yang digunakan untuk membuat rendang dan gulai taboh untuk persiapan santapan lebaran meruah.
Elisa menambahkan, kalau jaman dulu sebelum ada listrik, sisa batok yang sudah menjadi arang dimanfaatkan untuk menyetrika baju lebaran. “Harapannya tradisi harus terus dirawat. Saya berharap anak-anak milenial juga mau melestarikan tradisi nenek moyangnya,” tandas Elisa yang juga mengajarkan seni kriya yang bercorak tradisi Lampung Barat yang tahun lalu berhasil menyabet juara pertama Se Provinsi Lampung. (CHC Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here