Jakarta – Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM Jaya) mendorong pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Frans Seda. Tokoh yang dilahirkan di Maumere di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal di Jakarta pada 31 Desember 2009. Frans Seda merupakan politikus, pengusaha, tokoh gereja, dan menteri pada 1963-1973.
Dorongan tersebut diungkapkan tokoh masyarakat asal Maumere dan pendiri KBM Jaya, Josef Blasius Bapa di sela seminar nasional “Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa” yang diselenggarakan KBM Jaya di Jakarta, Jumat, (20/1/2023).
Para pembicara dan panitia berfoto bersama pada seminar nasional “Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa” yang diselenggarakan Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM Jaya) di Jakarta, Jumat, 20 Januari 2023.
Blasius Bapa mengaku mengenal Frans Seda sejak 1956. Blasius pernah menjadi staf khusus saat Frans Seda menjabat menteri perhubungan.
“Waktu beliau menjadi menteri perhubungan pada 1968-1973, saya menjadi staf khusus. Saya bantu Pak Frans dan mendapatkan penugasan khusus bidang politik dan nasional,” katanya.
Frans Seda yang lahir pada 4 Oktober 1926, lanjut Blasius Bapa, merupakan tokoh yang cerdas dan banyak berkontribusi bagi negara, khususnya menjelang akhir kekuasaan Orde Lama. Ketika itu inflasi melonjak hingga 650% dan oleh Frans Seda berhasil diturunkan menjadi 112%. Frans Seda juga melakukan pembenahan menyeluruh pada organisasi Kementerian Keuangan ketika menjabat menteri keuangan pada 1966 sampai 1968.
Pendiri KBM Jaya tersebut menyatakan pihaknya akan mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Frans Seda kepada panitia nasional yang dibentuk oleh Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, sekaligus menggalang dukungan di sejumlah kabupaten, kota, dan provinsi.
Dukungan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Frans Seda juga disampaikan wartawan senior, Rikard Bagun. Dia menyatakann Frans Seda layak mendapat gelar pahlawan nasional dari pemerintah.
“Kami dan beberapa pihak mengajukan (usulan pemberian gelar pahlawan nasional, Red) karena Pak Frans Seda tidak hanya dikenal dan diingat, tetapi pikirannya dihidupkan dan diaktulisasikan generasi sekarang dan generasi ke depan. Semua itu harus dipatrikan melalui gelar pahlawan nasional,” katanya.
Selain Blasius Bapa dan Rikard Bagun, pembicara lain dalam seminar tersebut, antara lain Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia 1988-1993 Adrianus Mooy, anggota DPR Melchianus Markus Mekeng, akademisi Mikhael Dua Tengangatu, rohaniwan Katolik Franz-Magnis-Suseno, dan Ketua Umum KBM Jaya Petrus Selestinus.
Sejumlah tokoh juga memberikan testimoni tentang pengalaman dan kebersamannya dengan Frans Seda. Mereka yang memberi testimoni, antara lain Komjel Pol (Purn) Gories Mere, Servulus Bobo Riti, dan anggota DPR, Ansy Lema.(Beritasatu.com)




