Semarang – Boen Hian Tong (Perkumpulan Rasa Dharma) Semarang kembali helat acara Mengenang Tragedi Mei ’98 dengan menggelar Ritual Rujak Pare Sambal Kecombrang. Helat kali ini yang mengusung tema : “Abaikan Nama Baik, Lawan, Laporkan” menghadirkan narasumberi pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Ir.Azmi Abuabakar.
Perhelatan ini digelar dimarkas Boen Hian Tong, di Gedung Rasa Dharma, Jalan Gang Pinggir 31, Kranggan, Semarang, Sabtu 17 Mei 2025.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 18.00 WIB yang dipandu Asrida Ulinuha diawali dengan ritual sembahyang Tien dipimpin WS Andi Gunawan di pintu masuk Gedung Rasa Dharma hingga ke altar leluhur. Pemasangan pita hitam di lengan kiri peserta doa. Dilanjutkan dengan perarakan ke ruang Sinci dengan membawa bunga sedap malam yang diringi dengan lantunan puisi sebagai catatan refleksi saat peserta doa berjalan beriringan menuju sinci Ita Martadinata di altar utama Boen Hian Tong.
Sesampai di depan altar para peserta doa meletakkan Bunga Sedap Malam untuk Ita dan dilanjutkan sembahyang dipimpin ole WS Andi Gunawan dengan melangitkan doa Tragedi Mei 1998 kehadirat Tuhan. Tragedi Mei 1998 merupakan moment yang tidak mudah dilupakan, masih tidak terlupakan
“Kami berkumpul bersama di tempat ini, untuk bersama menundukan diri, menegakkan kesusilaan menghormat kepada para korban Mei 1998 , terutama sebagai simbol Sinci Ita Martadinata yang diletakkan di Gedung Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang,” dedah Wense Andi.
Melalui asap dupa yang melambung kelangit luas, sambung Andi, semoga harapan doa kami kepada seluruh korban tragedi Mei 1998 dapat diberikan ketenangan di alam keabadaian, bersama dengan Sang Pencipta Yang Maha Adil .
Menolak lupa sebagai bentuk tugu peringatan, lanjut Wense Andi, melalui simbol ritual rujak pare sambel kecombrang membuat kami untuk dapat terus belajar meneladani kejadian untuk berbuat lebih baik dalam kehidupan tanpa melupakan sejarah
Seperti Kata Sang Budiman “ Hidup aku menyukai , kebenaran aku menyukai juga, tetapi kalau tidak dapat kuperoleh kedua – duanya , akan kulepaskan hidup dan kupegang teguh kebenaran.”
Semoga teladan Ita Martadinata, dan koraban mei 1998 menjadikan kita selalu ingat menjunjung kebenaran dalam jalan kebajikan, berkeadilan dalam kemanusiaan.
“Kami selalu mendoakan semoga keluarga korban yang masih dalam kepahitan semoga dapat selalu dikuatkan dan menjalani kehidupan kedepan lebih baik.Kami yakin dan percaya, Huang Tian Shang Ti senantiasa Penilik, Pembimbing dan Penyerta kehidupan kami.” pungkas Ws. Andi Gunawan mengakhiri doanya.
Ketua Panitia Peringatan Tragedi Mei “98 Tahun 202, Rudi Hartono dalam sambutannya, mengatakan sangat mengapresiasi para undangan yang ikut dalam peringatan ini.
Hari ini, lanjut Rudi, kita berkumpul untuk mengenang tragedi Mei 1998 yang telah meninggalkan luka mendalam bagi banyak keluarga dan individu.
“Tragedi ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga trauma emosional yang berkepanjangan,” ungkapnya.
Lebih lanjut Rudi memaparkan, tahun ini peringatan mengusung tema : “Abaikan nama baik, Lawan, Laporkan” untuk mengingatkan kita bahwa kebenaran dan keadilan tidak boleh dibungkam oleh kepentingan pribadi atau kelompok.
“Kita harus memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan dan melaporkan pelanggaran hak asasi manusia, tanpa takut akan konsekuensi atau tekanan,” imbuhnya.
Rudi menandaskan peringatan ini bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kita harus belajar dari pengalaman pahit ini dan berusaha untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, lebih toleran, dan lebih menghargai hak asasi manusia.
“Mari kita gunakan momen ini untuk merefleksikan pentingnya kesadaran kolektif dalam melawan ketidakadilan dan melaporkan pelanggaran hak asasi manusia. Mari kita berjanji untuk terus berjuang demi kebenaran dan keadilan, dan untuk memastikan bahwa tragedi seperti ini tidak terulang lagi,” tegas Rudi.
Sementara itu, Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim mengatakan, pihaknya pertama kali menggelar acara mengenang Tragedi Mei 98 dengan makan rujak Pare dan sambal bunga kecombrang pada tahun 2018. Jadi gelaran Ritual Rujak Pare Sambal Kecombrang sudah digelar delapan kali.
Nanti lanjut, Harjanto kita akan menikmati rujak pare mentah dengan sambel bunga kecombrang. Pare yang melambangkan sejarah pahit. melambangkan kepedihan kekerasan dan ketakutan yang dialami orang Tionghoa saat tragedi ‘98. Dan perempuan Tionghoa disimbolkan dengan bunga kecombrang.
Ini untuk mengingatkan kepada kita tragedi jangan sampai terjadi lagi. Beberapa waktu lalu juga di Universitas Ciputra Surabaya diadakan peringatan yang serupa dari Boen Hian Tong juga menghadiri. Kegiatan ini dengan mengundang Sejarawan Profesor Peter Carey dari UK.
“Kita harus bisa menghadapi kepahitan itu kita telan untuk ita move on. Dengan mengakui mudah-mudahan akan membuat kita perlahan bisa mengobati. Hal ini sudah terjadi tak bisa diputar ulang lagi. Kalau kita menyangkal kita tidak bisa karena hal itu sudah terjadi,” Ketua Boen Hian Tong Harjanto.
Dilanjutkan dengan ritual mengulek sambel kecombrang dan mencampur nasi ulam bunga telang. Sebelum diskusi digelar para peserta ritual dan undangan bersama-sama menikmati nasi ulam, rujak pare sambel kecombrang, soto dan kudapan lainnya. (Christian Saputro)




