Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Jurnalis, Pengamat Pariwisata dan Lingkungan, tinggal di Semarang
Di banyak tempat, pariwisata tumbuh dengan suara bising. Beton didirikan cepat, jalan dilebarkan, dan alam kerap diperlakukan sebagai latar—cantik untuk difoto, rapuh untuk dijaga. Namun di sudut-sudut Ungaran Barat dan Gunungpati, Semarang, ada cara lain menumbuhkan destinasi: cara yang dimulai dengan mendengar alam, menanam dengan sabar, dan berjalan perlahan bersama warga.
Di sanalah Rotary District 3420 menanamkan jejaknya—menghijaukan bumi sambil memakmurkan ruang hidup.
Pagi yang Menyelaraskan Niat
Pagi masih muda ketika Bumi Perkemahan Jatirejo mulai berdenyut. Jam baru menunjukkan sepuluhan, udara Gunungpati dingin dan jernih, membawa aroma tanah basah yang lama tak tersentuh hujan besar. Di bawah tegakan pepohonan, orang-orang berkumpul bukan untuk tergesa, melainkan untuk menyelaraskan niat.
Hari itu, penghijauan bukan sekadar agenda. Ia adalah perayaan kesadaran.
Gerak tubuh dalam line dance membuka pagi—ringan, tanpa hiruk. Lalu suara-suara dari panggung mengambil alih keheningan. Ketua Pelaksana Gerakan Rotary Hijaukan Negeri, Linggayani Soentoro, berdiri dengan nada yang tidak meninggi, tetapi tegas dan menenangkan.
“Gerakan ini tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas menanam pohon,” ujarnya, “tetapi sebagai upaya menanam kesadaran—bahwa destinasi wisata, alam, dan manusia harus tumbuh bersama, saling menguatkan.”
Kata-kata itu tidak berhenti di udara. Ia menjelma dalam serah terima bibit tanaman kepada Kwartir Cabang Pramuka dan Disperkim Kota Semarang—sebuah isyarat bahwa keberlanjutan adalah kerja estafet, bukan kerja satu hari.
Dari Panggung ke Tanah
District Governor Rotary District 3420, Dyah Anggraeni, kemudian mengambil mikrofon. Pagi yang semula dingin terasa menghangat oleh keyakinan yang ia sampaikan.
“Menghijaukan bumi adalah bagian dari memakmurkan kehidupan. Ketika kita menjaga hutan, mata air, dan tanah, kita sedang menjaga masa depan pariwisata dan generasi yang akan datang.”
Prosesi pembukaan dilakukan tanpa gegap gempita. Bibit ditanam secara simbolis, tanah ditutup kembali dengan hati-hati. Tidak ada tepuk tangan berlebihan. Di Jatirejo, alam tidak dijadikan latar upacara—ia menjadi subjek utama.
Ratusan bibit ditanam untuk menguatkan fungsi bumi perkemahan sebagai ruang belajar, paru-paru kota, dan daerah tangkapan air. Pariwisata, di titik ini, tidak dipahami sebagai arus kunjungan semata, melainkan sebagai hubungan jangka panjang antara manusia dan lanskap.
Curug Indrokilo: Kata yang Menjelma Akar
Perjalanan berlanjut ke lereng Gunung Ungaran, Dusun Indrokilo, Desa Lerep. Di sini, Curug Indrokilo jatuh dengan sabar. Airnya tidak pamer, tetapi setia mengalir, seolah menyimpan ingatan panjang tentang hutan dan manusia.
Penanaman dilakukan di dua titik selama dua jam. Rotary, warga, komunitas, dan relawan berdiri sejajar. Tidak ada barisan depan atau belakang—hanya tangan-tangan yang bekerja bersama.
Di sela kegiatan, Dyah Anggraeni kembali berbicara, kali ini tanpa panggung.
“Kalau pohon ini tumbuh, ia tidak hanya menahan tanah. Ia menahan harapan. Dan pariwisata yang baik selalu dimulai dari harapan yang dijaga.”
Bagi warga Indrokilo, momen penyerahan bibit bukanlah seremoni. Curug adalah penjaga mata air, dan penghijauan adalah cara merawat hidup. Saat bibit berpindah tangan, amanah pun berpindah—dari organisasi kepada komunitas, dari program kepada keseharian.
Iriban: Di Mana Alam dan Budaya Bertemu
Di Iriban, mata air desa, lesung ditabuh perlahan. Music in the Forest mengalun, menyatu dengan gemericik air dan desir angin. Ayam pecode disantap bersama, tanpa sekat. Di sini, pariwisata tidak tampil sebagai tontonan, melainkan sebagai perjumpaan.
Alam tidak dijual. Ia dihidupi.
Apa yang terjadi di Indrokilo dan Jatirejo menunjukkan bahwa destinasi wisata yang lestari tidak lahir dari eksploitasi, melainkan dari perawatan. Pohon-pohon ditanam bukan untuk mempercantik brosur, tetapi untuk menjaga tanah, air, dan keberlanjutan hidup.
Janji Panjang yang Tak Pernah Usang
Menanam, bagi Rotary, bukan peristiwa sesaat. Ia adalah komitmen lintas waktu.
Sejak lebih dari satu abad lalu, Paul Harris—pendiri Rotary—menanam pohon sebagai simbol persahabatan dan penghijauan dunia. Bagi Harris, pohon bukan sekadar makhluk hidup, melainkan pernyataan moral: bahwa manusia yang beradab adalah mereka yang memikirkan hari esok, bahkan ketika ia tak lagi ada.
Lebih dari seratus tahun kemudian, pesan itu menemukan kelanjutannya—hari ini, di Semarang.
Komitmen itu kini terangkum dalam Supporting the Environment, fokus ketujuh dari Seven Areas of Focus Rotary International. Namun sejatinya, ketujuh fokus itu saling berkelindan: perdamaian tak mungkin lahir di bumi yang rusak; kesehatan rapuh tanpa air bersih; pendidikan kehilangan masa depan jika lingkungan runtuh.
Menjaga bumi berarti menjaga seluruh sendi kehidupan—termasuk pariwisata.
Jejak yang Tumbuh
Rotary District 3420 tidak berhenti pada angka—325 bibit, 1.050 bibit—karena pohon tidak hidup dari statistik. Ia hidup dari perawatan, pemantauan, dan rasa memiliki. Komunikasi dengan warga, pendampingan komunitas, dan kerja lintas organisasi menjadi bagian dari tanggung jawab itu.
“Kami ingin meninggalkan jejak yang tumbuh, bukan jejak yang melukai,” kata Linggayani Soentoro di akhir kegiatan.
Pohon-pohon yang ditanam hari ini kelak menjadi peneduh langkah-langkah baru.
Mata air yang dijaga akan terus mengalirkan kehidupan. Dan di Ungaran Barat serta Gunungpati, Rotary District 3420 membuktikan bahwa hijau bukan sekadar warna—ia adalah komitmen yang hidup, bertumbuh, dan diwariskan.
Pariwisata yang makmur, ternyata, tidak selalu lahir dari pembangunan besar. Kadang ia bermula dari satu lubang kecil di tanah, sepasang tangan yang menanam, dan keyakinan bahwa masa depan layak diperjuangkan—pelan-pelan, bersama. (*)




