Semarang – Pagi itu, di kampus modern Binus POJ City Semarang, ruang pertemuan dipenuhi suasana yang tidak sekadar formal, melainkan juga penuh harapan. Di balik meja yang dihiasi dokumen kerja sama, dua tokoh pendidikan—Dra. Kiki Martaty W., Direktur Alliance Francaise (AF) Semarang, dan Freddy Purnomo, Direktur Binus Semarang—menandatangani sebuah perjanjian yang diyakini akan menjadi babak baru bagi dunia pendidikan dan kebudayaan di kota ini.
Kerja sama yang terjalin pada Rabu, 24 September 2025 itu bukanlah sekadar penandatanganan hitam di atas putih. Ia adalah jembatan, yang menghubungkan dua dunia: dunia ilmu pengetahuan dan dunia kebudayaan. Alliance Francaise, sebagai lembaga internasional yang selama puluhan tahun setia mengenalkan bahasa dan budaya Prancis di Indonesia, kini bersanding dengan Binus, sebuah universitas yang tumbuh dengan visi global dan reputasi akademik yang tak diragukan.
“Ini bukan hanya soal bahasa,” ujar Kiki Martaty dengan mata berbinar. “Kami ingin menghadirkan pengalaman lintas budaya yang dapat memperkaya mahasiswa, membuka cakrawala mereka, dan menyiapkan generasi muda Semarang untuk melangkah ke dunia internasional.”
Nada serupa disampaikan Freddy Purnomo. Bagi Binus, kolaborasi ini merupakan bentuk nyata dari komitmen mereka dalam membentuk talenta global. “Mahasiswa kami akan mendapatkan kesempatan lebih luas, bukan hanya belajar bahasa Prancis, tetapi juga memahami filosofi, seni, hingga dinamika masyarakatnya.
Dengan begitu, mereka lebih siap bersaing sekaligus berkolaborasi di dunia global,” tuturnya.
Dari kerja sama ini, lahir sejumlah program: kursus bahasa Prancis yang lebih terstruktur, seminar budaya, hingga peluang pertukaran akademik. Bayangkan, seorang mahasiswa Binus Semarang yang semula hanya mengenal kota kelahirannya, kini berpeluang menapakkan kaki di Paris, Lyon, atau Marseille—
membawa pulang cerita, pengalaman, sekaligus jejaring baru yang tak ternilai.
Lebih dari sekadar program pendidikan, kolaborasi ini juga menegaskan bahwa Semarang semakin kokoh berdiri sebagai kota yang terbuka terhadap pertemuan budaya. Sebuah ruang yang mempertemukan tradisi Jawa yang kaya dengan semangat globalisasi, menjadikan mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam memandang perbedaan.
Seperti dua tangan yang bersalaman, Alliance Francaise dan Binus University telah memulai sebuah perjalanan bersama. Sebuah perjalanan yang akan mengantarkan generasi muda pada cakrawala baru—di mana bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga jembatan untuk memahami dunia. (Christian Saputro)




