SEMARANG — Di dinding ruang pamer Front One HK Hotel Resort Semarang, awan menggantung rendah di puncak Gunung Sumbing. Ia tak bergerak. Tak juga menghilang. Ia seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang, atau mungkin sekadar menjadi saksi bisu atas kesunyian yang abadi.
Di sudut lain, seorang ibu dipanggil dari kejauhan melalui sebuah pertanyaan sederhana yang tertulis dalam judul karya: Mak, di mana?
Tak jauh dari sana, tubuh-tubuh rebah berhadapan dengan layar kaca. Sebagian tampak lelah, sebagian tampak nyaman dalam keterasingan digital. Di dinding berikutnya, tersisa jejak-jejak waktu yang pelan-pelan memudar, sementara para tenaga medis berdiri tegak, seolah menjaga ingatan kolektif tentang masa ketika dunia sempat berhenti bernapas.
Lima lukisan itu berbeda tema. Namun, ketika dipertemukan dalam pameran bersama bertajuk “Nyawiji”, semuanya seperti berasal dari satu percakapan panjang tentang manusia. Percakapan itu datang dari tangan Marsim.
Perupa yang kini menetap di Jombang itu bukan nama baru dalam pergaulan seni rupa Jawa Timur dan Yogyakarta. Lulusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta tersebut telah melintasi berbagai ruang pamer sejak akhir dekade 2000-an. Namun, yang menarik dari Marsim adalah keteguhannya untuk tidak pernah benar-benar meninggalkan kehidupan sehari-hari sebagai sumber utama penciptaannya.
Ia tidak berburu tema-tema besar yang jauh dari jangkauan atau terlalu abstrak untuk dipahami. Ia justru memungut hal-hal yang dekat, yang sering kali luput dari perhatian: ibu, gunung, pandemi, kesunyian, perubahan perilaku manusia, serta kenangan yang perlahan menua. Dalam setiap goresan kuasnya, Marsim tampaknya berusaha melakukan sesuatu yang mustahil: menyimpan waktu.
Metafora Kabut dan Keteguhan
Dalam karya Awan di Puncak Gunung Sumbing, lanskap tidak berhenti sekadar sebagai pemandangan indah. Gunung menjadi metafora tentang keteguhan, tentang sesuatu yang permanen di tengah dunia yang cair. Sedangkan awan yang menutupi puncak menjelma menjadi simbol ketidakpastian. Seperti hidup itu sendiri.
Kita tahu puncak itu ada. Kita tahu tujuan itu ada. Namun, tidak selalu kita bisa melihatnya dengan jelas. Lukisan itu seperti mengingatkan bahwa perjalanan manusia sering kali dilakukan tanpa kepastian penuh. Kita berjalan di antara kabut, sambil mempercayai arah, sambil berharap bahwa tanah di bawah kaki kita masih pijakan yang nyata.
Bagi Marsim, gunung bukan hanya objek geografis. Ia adalah keadaan batin. Ia adalah tempat di mana manusia berhadapan dengan kekecilannya di hadapan alam, sekaligus menemukan kekuatan untuk terus mendaki meski pandangan terhalang kabut.
Pulang ke Pelukan yang Hilang
Lalu ada Mak Di Mana.
Judulnya sederhana, tetapi menyimpan gema emosional yang panjang. Pertanyaan itu barangkali pernah terucap oleh setiap anak dalam hidupnya, terutama di saat-saat paling rentan. Sebuah panggilan yang tidak sekadar mencari sosok ibu secara fisik, melainkan juga mencari rasa aman, kasih sayang, dan tempat pulang.
Di tangan Marsim, ibu hadir bukan sebagai figur biologis semata. Ia menjelma menjadi memori. Ia menjelma menjadi rumah yang kadang baru terasa nilainya ketika telah jauh ditinggalkan. Karya ini berbicara pelan, tetapi menghunjam lama. Ia mengajak penonton untuk menengok ke belakang, untuk mengingat suara yang mungkin sudah jarang didengar, dan untuk menyadari bahwa ada bagian dari diri kita yang selalu mencari jalan kembali ke asal.
Refleksi Generasi yang Terkoneksi namun Tersendiri
Sementara itu, Generasi Rebahan memperlihatkan Marsim sebagai pengamat sosial yang tajam. Ia merekam fenomena zaman digital tanpa tergesa-gesa menghakimi. Istilah “generasi rebahan” yang ramai diperbincangkan beberapa tahun terakhir diterjemahkan menjadi refleksi visual tentang perubahan cara hidup manusia modern.
Dunia yang dulu bergerak di jalanan, di pasar, di balai-balai pertemuan, kini banyak berlangsung di balik layar. Percakapan berpindah ke ruang virtual. Aktivitas berpindah ke ujung jari. Marsim tampaknya tidak sedang mengejek siapa pun. Ia sekadar mengajukan pertanyaan yang menggantung, sebagaimana awan di puncak gunung: setelah teknologi membuat segalanya lebih mudah, apakah manusia menjadi lebih dekat satu sama lain? Ataukah kita justru semakin terjauh dalam kesendirian yang terhubung?
Lukisan ini adalah cermin bagi kita semua. Ia menunjukkan kenyamanan yang menipu, di mana tubuh mungkin diam, tetapi pikiran berkelana ke tempat-tempat yang tak tersentuh.
Jejak yang Tersisa dan Solidaritas yang Rapuh
Pada karya Yang Tersisa, waktu menjadi tokoh utama. Segala sesuatu yang dianggap penting pada akhirnya akan berlalu. Bangunan runtuh. Benda rusak. Orang-orang pergi. Yang tersisa hanyalah jejak. Ingatan. Dan cerita.
Lukisan ini terasa seperti catatan sunyi tentang kefanaan. Tentang bagaimana manusia terus berusaha menyimpan makna di tengah kenyataan bahwa tidak ada yang benar-benar abadi. Marsim mengajak kita untuk menerima kehilangan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari siklus yang membentuk siapa kita.
Kemudian hadir Medis. Barangkali inilah karya yang paling mudah dikenali konteksnya. Ia lahir dari pengalaman pandemi yang pernah mengguncang dunia. Namun, Marsim tidak menempatkan tenaga kesehatan sebagai tokoh heroik yang jauh dari manusia biasa, setinggi patung perunggu.
Sebaliknya, ia memperlihatkan keberanian yang lahir dari pengabdian sehari-hari. Para tenaga medis dalam karya itu tampak seperti kita semua: manusia yang sama-sama takut, sama-sama rentan, sama-sama memiliki keluarga yang menunggu di rumah, tetapi tetap memilih bertahan demi orang lain. Dalam banyak hal, Medis adalah monumen kecil bagi solidaritas. Ia mengingatkan bahwa di saat dunia retak, manusialah yang menjadi lemnya.
Seni sebagai Ruang Berhenti Sejenak
Maka, ketika seluruh karya itu ditempatkan dalam satu ruang yang sama, pengunjung sesungguhnya sedang diajak berjalan melintasi berbagai lapisan kehidupan. Dari gunung ke rumah. Dari keluarga ke teknologi. Dari kehilangan ke harapan. Dari pandemi ke kemanusiaan.
Barangkali itulah yang membuat karya-karya Marsim terasa akrab. Ia tidak menawarkan jawaban-jawaban besar atau solusi instan. Ia tidak menggurui. Ia hanya mengajak orang untuk berhenti sejenak, memandang sebuah lukisan, lalu menemukan dirinya sendiri di sana.
Dalam dunia yang serba cepat, di mana waktu seolah-olah menjadi musuh yang harus dikalahkan dengan produktivitas, Marsim menawarkan alternatif. Ia menawarkan ruang untuk diam. Untuk merenung. Untuk merasakan.
Karena pada akhirnya, seni bukan selalu tentang apa yang dilihat mata. Kadang, seni adalah cara paling sunyi untuk menyimpan waktu. Agar kita tidak lupa. Agar kita tetap manusia. Dan agar, di tengah kabut ketidakpastian, kita masih bisa menemukan puncak yang kita cari. (Christian Saputro)




