Menyorot Pola Kerja Penangan Covid- 19 di RSIA Hermina Yasmin

SumateraPost, Bogor– Kematian pensiunan guru olah raga Sekolah Dasar Negeri di Kota Bogor berinitial AW, warga RW 07 Kelurahan Tegal Gundil Bogor Utara menyisakan masalah. Pihak keluarga sulit menerima kalau orang tua mereka di vonis corona dan dikebumikan berdasarkan protokol covid.

Ketua covid RW 07 Kelurahan Tegal Gundil, Bogor Utara, Achmad Adjiji, mengatakan pensiunan guru olah raga itu, menderita sakit diabetes dan ginjal, acapkali keluar masuk rumah sakit. Namun demikian bukan Covid- 19. Saat meninggal AW di vonis Covid-19 hingga jenazahnya ditahan rumah sakit RSIA Hermina Yasmin, kekeh dimakamkan protokol covid

Adjidji menjelaskan, tanggal 27 September 2020, AW pernah di sweb dan hasilnya negatif. Saat masuk RSIA Hermina, AW kembali di Swab, tetapi hasil swabnya baru keluar, setelah tiga hari AW meninggal.

“Pihak keluarga menginginkan jenazah AW dimakamkan oleh keluarga, tetapi pihak RSIA Hermina menolak untuk dibawa pulang dan bersikukuh dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19 dengan alasan, AW terindikasi Covid-19” ujar Adjiji saat diminta penjelasan Rabu (14/10/2020) petang.

Ketua Covid- RW 07 Bantarjati Tegal Gundil prihatin atas kejadian tersebut. “Kasihan keluarganya, karena ditudung kematian AW karena covid, jadi warga tidak ada yang mau ikut selamatan dirumahnya karena takut covid, warga enggan lewat kerumahnya takut tertular covid. Sejak kematian AW, jadi dijauhi warga” ungkap Adjiji.

RSIA Hermina Yasmin saat dikonfirmasi enggan menemui wartawan, terkesan menetapkan birokrasi berbelit dan saling lempar. Cukup lama menunggu untuk meminta penjelasan terkait hal itu. Sulitnya mendapatkan informasi dari RSIA Hermina Yasmin, menyimpan curiga mendalam seperti ada yang ditutupi.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Retno saat diminta penjelasan lewat WhatsApp baru menjawab dua hari berikutnya. “Sedang kami telusur kasus ini ke RS Hermina,” ucap Retno

Jawaban singkat Kepala Dinas Kesehatan Sri Retno ini, sangat menggelikan. Terkesan kematian seorang pasien Covid- 19 di RSIA Hermina, tidak dikoordinasi antara pihak rumah sakit dengan jajaran Satgas covid di Kota Bogor. Kurang profesionalan Satgas covid, dibuktikan amburadulnya pelayanan penanganan covid-19 di kota hujan.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Bogor OKI Kurniawan saat diminta pendapatnya atas keganjilan status pasien atas vonis RSIA Hermina Yasmin Covid- 19, belum ada hasil swab. Oki Kurniawan mengatakan, seorang pasien Covid- 19, dapat saja dicuriga Suspek atau pasien berstatus probable Covid- 19 saat menjadi pasien.

Namun demikian harus dibuktikan dengan hasil swab tes sebelumnya, baru pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Penjelasan Ketua Covid- RW 07 Tegal Gundil Bogor Utara Ahmad Adjidji almarhum baru akan mendapat hasil tes swab tiga hari setelah meninggal.

Sebelumnya AW, dilakukan tes swab 27 September lalu dan dinyatakan negatif. Dikatakan, AW mengidap penyakit diabetes dan ginjal, sebelum dirawat di Hermina Yasmin.

Masih menurut Kabid Yankes Oki Kurniawan pasien terkena Covid- 19 harus dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Tentunya didukung bukti bahwa pasien tersebut terkena corona. Hal itu diatur berdasarkan ketentuan Permenkes No 446 Pedoman penangan covid- 19 revisi kelima.

Dikatakan, bila rumah sakit merugikan keluarga pasien atau melanggar ketentuan Covid- 19 dapat terkena sanksi dan jadi masalah besar. OKI menegaskan, keluarga pasien dapat mengadukan pada Dinkes Kota Bogor untuk di tindak lanjuti. “Bila ada kasus bermasala, Rumah sakit tersebut terkena masalah besar,” kata OKI.

Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim, dalam keterangannya lewat WhatsApp menyatakan “Jenazah yang belum di swab, pemulasarannya dilakukan dengan standar Covid-19, karena jenazah itu sudah masuk kategori probable atau menunjukan gejala medis Covid-19 ‘ jelas. Dedie.

Dedie juga menyinggung bila seseorang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan meninggal, pembiayaannya sangat tergantung dengan proses perawatannya, comorbid atau tidak dan lama perawatan. “Jadi tidak ada istilah anggaran khusus seseorang meninggal karena Covid-19, tetapi akumulasi proses penanganannya saja,” pungkas Dedie.

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko di Semarang beberapa waktu lalu mengatakan, rumah sakit yang sengaja memberi status Covid-19 pada pasien, demi mendapatkan uang dinilai berbahaya. Karena dapat mempertebal tak percayanya masyarakat atas fasilitas dan tenaga kesehatan. Berakibat penanganan pandemi makin kacau merusak data Covid-19 itu sendiri.

Moeldoko menjelaskan, definisi meninggal karena Corona harus kita lihat kembali. Jangan sampai semua kematian itu selalu dikatakan karena Covid-19. “Jangan pula akan menguntungkan pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan dari definisi itu,” katanya. (Den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here