Proses Kreatif “Memoar Jus Jeruk” Menuju Pementasan di Boen Hian Tong Semarang
SEMARANG — Ruang pertunjukan di Amerta Home Brewer, Banyumanik, Semarang, terasa lebih intim pada perhelatan “Meramu Dapur Pertunjukan”, akhir pekan lalu. Lampu yang temaram, jarak panggung yang nyaris tanpa sekat, serta penonton yang duduk melingkar menghadirkan suasana reflektif. Bukan hanya jarak fisik antara pemain dan penonton yang menyempit, tetapi juga jarak antara ingatan kolektif dan keberanian untuk kembali menyebut tragedi Mei 1998.
Kegiatan ini menghadirkan Memoar Jus Jeruk, proses kreatif kelima menuju pementasan puncak peringatan tragedi Mei 1998 yang direncanakan digelar di Boen Hian Tong, kawasan Pecinan Semarang. Pilihan lokasi tersebut bukan tanpa makna. Pecinan Semarang menjadi salah satu ruang historis yang menyimpan jejak peristiwa kerusuhan 1998, sehingga pertunjukan ini sekaligus menjadi ikhtiar menghadirkan kembali ingatan di ruang yang memiliki konteks sejarahnya.
Berbeda dari pertunjukan pada umumnya yang menyajikan karya dalam bentuk final, “Meramu Dapur Pertunjukan” justru membuka prosesnya kepada publik. Penonton diajak menyaksikan bagaimana gagasan disusun, data sejarah dirangkai, tubuh dilatih, dan simbol-simbol artistik diuji. Dapur kreatif dibuka apa adanya—lengkap dengan percobaan, keraguan, dan pencarian bentuk.
Jus jeruk dipilih sebagai metafora utama dalam karya ini. Minuman yang tampak segar dan sederhana itu menyimpan rasa pahit yang tidak sepenuhnya hilang.
Seperti ingatan tentang Mei 1998—diperas dari pengalaman, disaring melalui narasi resmi, disajikan ulang dalam berbagai versi, bahkan kerap dihapus dari ruang publik. Metafora ini menjadi pintu masuk untuk membicarakan luka kolektif yang belum sepenuhnya selesai.
Di atas panggung, dua performer, Titis dan Nela, tampil mengenakan celemek sembari menggendong cermin di punggung. Dapur yang identik dengan ranah domestik dan keseharian, pada malam itu berubah menjadi ruang politis. Cermin yang mereka bawa memantulkan wajah penonton, menghadirkan pertanyaan sunyi: siapa yang diingat dalam sejarah? Siapa yang namanya hilang? Dan siapa yang memilih untuk tidak terlibat?
Suara blender yang meraung menjadi elemen bunyi yang dominan. Denting peralatan dapur, potongan data, serta fragmen narasi tentang kekerasan terhadap perempuan pada Mei 1998 berpadu dalam komposisi yang menggugah. Tubuh para performer bergerak di antara narasi dan keheningan, menghadirkan suasana yang kadang riuh, kadang hening menekan. Di titik inilah kesadaran dibangun: suara korban sering kali tenggelam oleh riuhnya isu-isu yang lebih viral dan cepat berganti.
Sejumlah penonton tampak larut dalam pertunjukan. Diskusi singkat selepas acara memperlihatkan bahwa pendekatan membuka proses kreatif justru menghadirkan kedekatan emosional yang kuat. Publik tidak sekadar menyaksikan karya jadi, tetapi ikut merasakan denyut penciptaannya.
Penyelenggara menegaskan, kegiatan ini bukan untuk menawarkan jawaban final atas sejarah kelam tersebut. Seni pertunjukan, menurut mereka, bukan ruang penghakiman, melainkan ruang dengar dan ruang rawat. Ingatan perlu terus dirawat agar tidak membeku menjadi arsip dingin yang kehilangan daya gugah.
Menuju pementasan puncak di Boen Hian Tong, dapur kreatif ini akan terus menyala. Setiap proses menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menjaga agar tragedi Mei 1998 tidak hilang dari kesadaran generasi berikutnya. Bagi para penggagasnya, sejarah tidak cukup dibaca dalam buku atau dokumen resmi. Ia perlu dirasakan—dihidupkan kembali dalam tubuh, bunyi, dan keberanian untuk mengingat.
(Christian Saputro)




