Meski Kasasinya Ditolak MA, Juanda Tetap Tak Bergeming Tuntut Ganti Rugi Sesuai

SumateraPost – Satu Kepala Keluarga di Kelurahan Indralaya Mulya Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir-Sumsel yang terkena dampak pembebasan lahan proyek jalan tol Indralaya -Muara Enim bersikeras tak mau meninggalkan rumah yang dihuninya bersama 8 anggota keluarganya. Pria paruh baya ini tak terima lantaran uang ganti rugi yang diberikan tak sesuai menurutnya.

Kepada media ini, Bapak Juanda menceritakan perihal penolakan yang Ia dan keluarga lakukan bukan bermaksud menghalangi program Pemerintah Pusat (PP) demi kemajuan negara ini. Sebaliknya, Ia sangat mendukung program pembangunan jalan tol yang dilakukan PP ini. Namun menurutnya, Ia tak bisa menerima pembayaran ganti rugi atas lahan dan rumahnya yang hanya ditetapkan senilai 946 juta,jelasnya saat dikonfirmasi di rumahnya, Kamis (10/06/2021).

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa sebelumnya aset miliknya ini dihargai oleh KJPP Pusat Eko seharga 2,5 milyar. Akan tetapi menurut Badan Pertanahan Nasional Kabupaten OI, lahan dan rumahnya hanya sebesar 946 juta saja.

Baca Juga :  Pembangunan GOR Mini B Srikaton Kekurangan Volume, Kadispora : No Comment

“Perbedaan nilai ganti rugi yang menurutnya tak sesuai inilah yang membuat saya hingga kini masih bertahan di rumah ini dan tak bergeming sedikitpun. Saya dan keluarga menginginkan kebijakan yang sesuai dari pihak BPN OI”,bebernya.

Terpisah, menurut Ardi Kepala Seksi Pengadaan Tanah dan Pengembangan saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa penilaian ganti rugi di era sekarang memang telah berbeda, sudah tidak seperti dulu yang ada sistem tawar menawar.

“Namun ganti rugi terkini yakni berdasarkan hasil keputusan yang dalam hal ini melibatkan pihak ketiga yakni Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP) yang sudah mendapat izin dari Menteri Keuangan”,ujarnya.

Baca Juga :  Audit BPK, Rehabilitasi Ruang Kelas SMP Negeri Simpang Kosgoro Kekurangan Volume

Masih kata Ardi, pada waktu itu pak Juanda merasa keberatan dengan nilai ganti rugi tersebut. Kemudian beliau (Juanda-red) mengajukan gugatan keberatan ke Pengadilan Negri (PN) Kayu Agung. Namun gugatan beliau dinyatakan kalah oleh pihak PN dan dimenangkan pihak KJPP.

“Selanjutnya, beliau kembali mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) Palembang, lagi-lagi gugatan tersebut ditolak dan dimenangkan oleh KJPP”,tuturnya.

Meskipun telah dinyatakan kalah dan gugatannya ditolak, lanjut Ardi, akan tetapi pak Juanda tetap bersikukuh menolak ganti rugi ini. Kami sudah beri tenggang waktu hingga hari ini. Apabila beliau tetap pada pendirian kerasnya itu,maka uang ganti rugi ini akan kami serahkan ke pengadilan.

Sebenarnya, lanjut Ardi, permasalahan ini terjadi dikarenakan kesalahpahaman saja. Pak Juanda menginginkan ganti rugi sebesar 2,5 milyar. Itu artinya, beliau menetapkan harga lahannya 5 juta per meter. Sementara lahan di bagian terdepan (posisi depan jalan utama) dihargai 1.5 juta. Sedangkan rumah beliau bukan di jalan utama dan dihargai 8 ratus ribu rupiah menurut penilaian KJPP.

Baca Juga :  BNNK OI Ajak Pewarta Serukan Giat P4GN pada Dunia Usaha atau Swasta

Ardi menambahkan, beberapa waktu lalu, pihaknya (BPN) telah memanggil Pak Juanda untuk menjelaskan lagi terkait hal ini. Namun beliau tak mau menerima penjelasan kami dan tetap menolak ganti rugi ini.

“Negara tidak mungkin menunggu terlalu lama lagi. Proyek ini harus tetap berjalan. Bila beliau sudah terbuka pikirannya, silahkan ambil uang ganti ruginya di Pengadilan dan aset tersebut saat ini telah menjadi milik Negara. Pihak Dinas Perkim lah yang nantinya akan mengurus masalah pembongkaran rumah pak Juanda ini”,tutupnya. (F’R)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here