Miris, Ayah Dibunuh, Bayi Mungil ini Bertahan Hidup Dalam Pelarian

Sumaterapost.co – Seorang mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Cox’s Bazar berkata, hari itu Ahad (15/10) seluruh pintu perbatasan yang menjadi tapal batas antara sisi barat Myanmar dan sisi timur Cox’s Bazar ditutup. “Militer Bangladesh, untuk sementara waktu menutup perbatasan, tidak ada pengungsi baru Rohingya yang bakal masuk dalam beberapa hari ke depan,” begitu pernyataan yang dikatakan perwakilan mitra ACT yang menemani selama di Cox’s Bazar.

Kami, Tim ACTNews, awalnya tentu memercayai kabari itu. Ada alasan khusus terkait keamanan kamp pengungsian yang sudah amat sangat membludak. Bayangkan, hanya sejak tanggal 25 Agustus lalu – ketika pertama kali konflik kembali membara di Rakhine State – sampai dengan tanggal 10 Oktober, data menyebut ada lebih dari setengah juta pengungsi baru yang masuk meminta perlindungan di Bangladesh.

Artinya jika ditotal dengan jumlah pengungsi baru yang sudah datang lebih dahulu ke Cox’s Bazar, berarti ada lebih dari satu juta pengungsi Rohingya yang menyesak di Cox’s Bazar! Wajar jika di hari Ahad kemarin, seluruh zero line atau titik nol yang menjadi gerbang ratusan ribu Rohingya masuk mengungsi ke Bangladesh belum bisa dilewati.
Laju pengungsi Rohingya tak pernah berhenti, sehari ribuan jiwa lari mengungsi tapi kami, Tim ACTNews sudah dekat sekali dengan tapal batas, Hari Ahad itu kami menyusuri sepanjang aliran Sungai Naf, sungai yang menjadi saksi dari arus sejuta lebih pengungsi Rohingya ke Bangladesh.
Dengan berbagai pertimbangan matang, kami bersama mitra lokal di Cox’s Bazar terus melanjutkan laju mobil sampai ke titik paling ujung selatan dari negeri Bangladesh, daerah itu punya Shahpori dwip, bagian dari wilayah setingkat kecamatan Teknaf di Distrik Cox’s Bazar.

Dari atas peta terlihat jelas, Shahpori dwip menjadi wilayah yang berada persis di tepian Sungai Naf paling selatan. Shahpori dwip ini yang menjadi gerbang masuk utama ratusan ribu pengungsi Rohingya selama beberapa pekan terakhir. Makin ke selatan kami mengarahkan mobil, portal penjagaan dari militer Bangladesh makin ketat.

Tetapi pilihan untuk mendatangi langsung Shahpori dwip pada akhirnya menjadi pilihan yang tepat. Apa yang kami temukan betul-betul membuat hati terhenyak. Di sepanjang satu kilometer menjelang Shahpori dwip, jejeran orang-orang Rohingya berjalan dengan gontai.

Langkah mereka tampak lelah sekali. Si ibu menggendong bayinya, sementara bocah kecil lain ada yang memanggul beberapa perabotan dan baju yang masih sempat dibawa mengungsi. Beberapa lainnya tampak terkapar di atas tanah di tepian jalan. Sudah berapa lama mereka berjalan kaki dari Rakhine? Tak pernah ada yang bisa menduga.

Imaji tentang ironi dan nelangsa terpampang jelas di depan mata. Seketika membatalkan anggapan kami sebelumnya, yang sempat percaya bahwa arus pengungsi Rohingya ke Bangladesh ditutup sementara di hari itu. faktanya, tak pernah ada hari tanpa kedatangan ribuan pengungsi Rohingya dari seberang. Gerbang tak pernah ditutup.
Rusmaidah, bayi empat bulan ikut ibunda jalan kaki tujuh hari Tidak sampai 30 menit berdiri menatapi nelangsa luar biasa di depan mata, paling tidak, ada lebih dari 50 orang Rohingya yang baru saja melintas. Itu hanya 30 menit, kata militer Bangladesh yang menjaga perbatasan, ada lebih dari 200 orang Rohingya yang baru saja datang dari Maungdaw, Myanmar, masuk menuju gerbang Shahporidwip di Cox’s Bazar.

Wajah mereka sama, lusuh sembari membawa barang-barang yang masih sempat dipanggul, menggendong bayi-bayi lemas yang tak pernah mengerti mengapa mereka terusir. Emosi yang terasa siang itu di Shahporidwip benar-benar perih, sebagian besar perempuan Rohingya yang baru saja tiba menggendong bayinya sembari terisak menangis. Si bayi hanya menatap nanar tak punya tenaga.

Seperti Rusmaidah misalnya, bayi ini tampak termenung lemas. Berdiam di rangkulan sang Ibunda, Kata si Ibunda, Fatimah namanya, Ia dan bayinya baru saja tiba dari perjalanan jauh, lari dari kekalutan dan ketakutan yang mencekam di kampung mereka di Rakhine State.

“Saya dari Maungdaw, tujuh hari lalu berjalan kaki, menyeberang pakai perahu nelayan sampai ke sini, tolong saya,” kata Fatimah kepada translator kami.
Sang Ibunda pun menangis, tak sampai hati membayangkan betapa pedih penderitaan yang harus dialami. Apalagi Fatimah bertutur dalam isaknya, bahwa ayahanda Rusmaidah ikut terbunuh, diberondong peluru militer Myanmar hanya sesaat ketika rumah-rumah di kampung mereka dibakar.

Ketika rumah-rumah mereka dibakar itulah, sang bayi Rusmaidah bergegas digendong oleh ibunda, lari dari kampung mereka. Mengikuti rombongan tetangga juga saudara lainnya keluar dari kampung, lari dari rasa takut dan ancaman pembunuhan.

Fatimah makin tertunduk lemas, terisak tak henti ketika terbayang bahwa jasad suaminya, sang ayahanda si bocah Rusmaidah tak pernah sempat diurus dan dikuburkan sebagaimana mestinya, ditinggal begitu saja di dalam kampung yang baru saja dibakar oleh serdadu Burma. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here