Modus Dinikahi Siri, Seorang Anak Dibawah Umur Dicabuli Berkali-Kali

Sumaterapost.co | Tulang Bawang – Diduga menjadi korban pencabulan anak dibawah umur MY (14), Anak dari ibu HLM (50) warga ditiyuh Indraloka 2 Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat melaporkan pelaku Hi DR (55) ke Polsek Banjar agung pada jumat, 16 Januari 2022 Lalu .

Menurut keterangan MY (14) korban pencabulan dibawah umur “awal ceritanya korban My (14) bertemu dengan pelaku Hi Dr (55) membujuk agar tinggal dirumahnya dan di iming-imingi dengan alasan, jika (MY) ikut tersangka Hi DR dia menjanjikan akan disekolahkan sampai menjadi dokter dan akan diberikan fasilitas, kendaraan, rumah dan lainya,” jelasnya kepada awak media di kediamannya yang terletak di Tiyuh Indraloka Dua, Kecamatan Way Kenanga.

“Iya kami ikuti mas karna saya pikir saya ingin bersekolah dan ingin melanjutkan masa depan yang lebih cerah,” tambahnya, Selasa, 25 Januari 2022.

Pernyataan pelaku Hi DR tersebut di saksikaan ibu korban berinisal HLM agar memberi izin untuk ikut pelaku Hi DR namun faktanya janji pelaku tersebut tidak terbukti hanya untuk mengelabui saya dan Keluaga saja,” Paparnya MY kepada awak media.

Baca Juga :  Sekda Tuba wakili Bupati Tulang Bawang Winarti menjadi Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke -144

Selanjutnya pelaku Hi Dr mengajak saya menikah siri dengan alasan sebagai ikatan, “saya tidak mengetahui apa yang namanya nikah siri, saya kaget tiba tiba malam itu datang lah penghulu , berinisial (DS) kemudian menikahkan saya dengan (Hi Dr) saya sempat menolak, karena perjanjian saya dan ibu saya hanya sebatas ikatan tidak Lebih , Namun selang beberapa hari kemudian saya dipaksa untuk melayani berhubungan intim oleh (Hi Dr) saya sempat menolak tapi saya diseret dari kamar ibu saya dan terjadilah pemerkosaan tersebut, dan itu Dilakulan pelaku sudah berulang kali.

Sebagai korban setelah saya sudah digagah pelaku berulangkali mengatakan bahwa tidak suci lagi dan dituduh sudah hamil. sedangkan waktu kejadian malam itu ibu saya yang mencuci sprey banyak berceceran darah, bahkan saya sampai jalan merangkak rangkak,” paparnya.

Baca Juga :  Ini Jawaban Dari Inspektorat Tuba Terkait Laporan Oknum Sekcam Gedung Aji dan Sekdes Penawar Baru

“parahnya lagi saya dituduh pelaku Hi DR mengkonsumsi narkoba, bahkan mabuk mabukan, Demi Allah jangan kan memakai narkoba tau jenisnya yang dimaksud pelaku pun saya tidak tau bahkan saya berani tes (urine) apabila saya benar-benar mengkonsumsi sesuai dengan tuduhan Hi Dr saya siap dipenjarakan oleh pihak berwajib,” cetusnya.

Tidak sampai disitu saja Hi DR pelaku menuduh saya dan ibu saya menggelapkan motor Honda Beat, Namun kami berani bersumpah dan siap ditangkap polisi apabila tuduhan Hi DR itu tidak benar, tapi kami menduga ada kejanggalan dengan hilangnya motor Beat tersebut.

Atas peristiwa ini saya miminta kepada awak media untuk didampingi, melaporkan ke pihak berwajib, kapolsek banjar agung, untuk menindak lanjuti, laporan kami selaku Korban agar menangkap pelaku Hi DR untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, dengan sampai saat ini kapolsek banjar agung belum ada tindakannya terhitung sudah 10 hari lamanya dengan alasan hasil (visum) belum keluar,” ujar korban.

Baca Juga :  Sekda Tuba wakili Bupati Tulang Bawang Winarti menjadi Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke -144

“Selaku Korban MY dan ibu nya HlM berharap kepada pihak penagak hukum untuk segera menindaklanjuti laporan kami agar Hi DR (pelaku) segara ditangkap dan diproses secara hukum yang berlaku di Republik Indonesia,” harapnya.

Kepada Komisi Perlindunagan Anak Indonesia (KPAI) dan Lembaga Perlindungan Anak Dibawah Umur (LPA) diharapka agar dapat menindak lanjuti, kasus pencabulan yang dilakukan oleh Hi DR agar pelaku segera ditangkap dan diproses hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai pasal 19 ayat 1 tentang sistem peradilan pidana anak dibawah umur, larangan seksual terhadap anak dibawah umur yang diatur dalam pasal 76E Undang-Undang No. 35 tahun 2014 dan Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Dibawah Umur, ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak (5.000.000.000 lima milyar rupiah)

(Den /tim)