Muara 16, Bengkel Tani Mitra PTPN VII

SumateraPost, LAMPUNG TENGAH – Bengkel alat-alat pertanian Muara 16 itu lebih dikenal sebagai pandai besi. Di seputaran Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, nama pandai besi ini cukup moncer sebagai penghasil cangkul, sabit, alat dodos kelapa sawit, dan lainnya. Menjadi mitra PTPN VII sebagai UKM binaan, usaha yang ditekuni turun-temurun keluarga itu terus berkembang.

Di belakang nama itu, ada nama Adip Solehudin. Pemilik dan mengelola bengkel yang mempekerjakan tiga karyawan ini memang tertarik dengan dunia bengkel sejak kanak-kanak. Tak heran, ada ektensi angka 16 pada nama bengkelnya sebagai penanda bahwa bengkel yang dikelolanya adalah “cabang” ke 16 dari usaha sejenis dalam keluarganya.

Dari usianya masih kanak-kanak biasa menghabiskan waktu di bengkel milik sang kakek. Bahkan setelah duduk dibangku SMP, pria yang akrab disapa Adip ini sudah mulai membantu sang kakek bekerja dibengkel setelah pulang sekolah.
Ini juga yang membuat Adip memilih sekolah jurusan teknik mesin setelah tamat SMP. Apalagi usaha bengkel ini merupakan warisan turun-temurun keluarganya.

Tiga tahun sekolah kejuruan perbengkelan, Adip belajar memodifikasi berbagai barang bekas untuk didaur ulang dijadikan alat alat pertanian. Setelah tamat sekolah SMK, Adip fokus membantu sang kakek di bengkel sambil terus belajar.

Tahun 2005 pria cekatan ini mulai memberanikan diri membuka usaha sendiri. Mengandalkan modal tabungan hasil kerja membantu sang kakek, Adip membuka Bengkel Muara 16. Diberinama ini karena bengkel yang dibuka Adip merupakan cabang ke 16 dari seluruh bengkel yang dibuka keluarganya.

Bengkel yang dibukanya memang dikhususkan untuk memproduksi alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, dodos alat panen sawit, dan alat untuk membuat pakan ternak.

Untuk penjualannya, bapak tiga orang anak ini tidak hanya mengandalkan pembeli datang ke bengkelnya, tapi lebih menjemput bola ke pembeli. Di bengkelnya ada tiga orang yang khusus membantu menjual keliling keluar daerah.

“Alhamdulillah, banyak permintaan dari pelanggan yang dari luar daerah, terutama wilayah Lubuk Linggau. Petani disana banyak yang memesan cangkul,” kata dia.
Suami dari Lia Novitasi ini mengaku pernah juga beralih profesi menjadi petani, tapi bukannya untung malah merugi. Ia juga pernah menjadi peternak, tapi hasilnya sama tetap merugi. Akhirnya kembali menekuni dunia bengkel lagi.

“Mungkin memang sudah menjiwai sebagai tukang bengkel ini, sehingga usaha lain malah terus merugi,” katanya.
Saat ini, ada 2 orang pekerja yang membantu memproduksi alat alat pertanian di bengkelnya. Produksinya terus mengalami peningkatan. Banyak petani yang sudah mulai memesan ke bengkelnya.

Ia juga bersyukur, bisa menjadi sebagai mitra binaan PTPN VII. Menjadi bagian PTPN VII sangat dinanti para UKM yang ada di desanya. Ia berharap, sebagai mitra PTPN VII bukan saja sebagai penerima pinjaman, tetapi bisa kerjasama sebagai pemasok alat panen sawit.

Saat ini dibengkelnya tidak hanya membuat peralatan pertanian, tapi juga melayani perbaikan mesin-mesin pertanian milik petani yang ada di Desa Jayasakti, Kecamatan Anaktuha Lampung Tengah.
Dalam sehari bengkelnya bisa membuat 10 buah cangkul. Apalagi saat ini sudah ada mesin hummer sebagai pemukul, hasil modifikasi alat-alat bekas.

“Dalam pembuatan peralatan petani yang paling lama membuatnya yakni alat pemotong rumput. Satu alat bisa memakan waktu 3 sampai 4 hari,” katanya.
Usaha yang digelutinya terus bertumbuh bersama kegigihannya dan pengetahuan manajemen yang diterima dari pelatihan dan bimbingan dari PTPN VII. Saat ini, dengan pengaturan manajemen keuangan, ia bisa mengatur siklus dana yang didapat dengan lebih tepat guna. Omsetnya terus meningkat hingga saat ini mencapai Rp 20 juta perbulan.

Soal harga, kata pria kelahiran 10 Agustus 1981, khusus produksi cangkul diberi harga Rp 95 ribu per unit. Namun, pembeli dalam partai banyak, harga kodian diberi diskon Rp5 ribu per unit.
Bagi petani yang membutuhkan alat pertanian, datang saja ke bengkel Muara 16 yang berlokasi di Desa Jayasakti Kecamatan Anak Tuha. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here