Novel “Membongkar Yang Terkubur” Diluncurkan Semarang

0

SumateraPost – Widya Mitra, Ein Institute, Boen Hian Tong dan Penerbit Ombak berkolaborasi menggelar acara Peluncuran dan Diskusi Novel bertajuk : “Membongkar Yang Terkubur, ”, karya Dewi Anggraeni.

Kegiatan yang menghadirkan novelisnya Dewi Anggraini, dan juga nara sumber pemantik diskusi Triyanto Triwikromo (Sastrawan), DR.Widjayanti Dharmowijono(Peneliti Imagologi) dan Rukardi Achmadi (Sejarawan) ini akan ditaja di Aula Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, Jalan Erlangga Barat VII/33 Semarang, Jumat (7/2), Pukul 13.30 – 17.00 WIB.

Menurut jurnalis cum sastrawan Seno Gumira Ajidarma, novel tentang diaspora Tionghoa Indonesia yang dibutuhkan.”Novel ini ; ditulis dengan matang, informatif, dan juga lancer, ” ujar Seno Gumira Ajidarma, mengomentari novel karya mantan wartawan MBM Tempo ini.

Sementara peneliti kawakan yang juga guru besar Faluktas Ilmu Budaya (FIB) Univeritas Indonesia, Melani Budianta, mengatakan, novel ini

terjalin struktur rumit ibarat sebuah puzzle silsilah keluarga 7 generasi yang membuka jalinan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Yang tergali dari kubur adalah berbagai “hantu” masa lalu, termasuk sentimen rasial, sejarah pembantaian, prasangka dan kebencian, sekaligus juga politik dalam praktik keseharian seperti siklus kekerasan domestik, poligami terselubung, sampai penyakit turunan. “Menghadirkan struktur perasaan zamannya, novel ini merupakan bahan yang kaya untuk reproduksi kreatif, penelusuran ilmiah dan pembelajaran kritis tentang kebangsaan, ” ujar Melani Budianta.

Baca Juga :  Lima Penyair India Dipastikan Hadir pada Festival Puisi Internasional

Dewi Anggraeni sendiri dikenal sebagai penulis fiksi dan nonfiksi, yang sudah beberapa waktu tinggal bersama sebagian keluarganya di Melbourne, Australia. Tulisan-tulisan Dewi, dalam bentuk buku, artikel, kolom, dan esai terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, di Australia, Indonesia, Inggris, Hongkong, Malaysia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Sebelum pemberedelan Tempo pada 1994, Dewi merupakan koresponden Tempo di Australia. Sesudah itu ia bekerja untuk Forum Keadilan dan The Jakarta Post. Pada 1998 Dewi kembali menjadi kontributor Tempo yang memulai penerbitannya lagi.

Karya-karya fiksinya dalam bentuk buku antara lain; Snake, Journeys through Shadows, Neighbourhood Tales, Stories of Indian Pacific, Parallel Forces, dan The Root of All Evil. Sedangkan buku- buku nonfiksinya adalah Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa (versi bahasa Inggrisnya Breaking the Stereotype: Chinese Indonesian Women Tell Their Stories), Dreamseekers: Indonesian Women as Domestic Workers in Asia, dan Who Did This to Our Bali?

Untuk bukunya, Breaking the Stereotype ditulisnya dengan dukungan logistik nonmoneter dari Faculty of Arts, Monash University, Melbourne, Australia. Stories of Indian Pacific dengan bantuan dana dari The Australia Council for the Arts, dan Journeys through Shadows dengan bantuan dana dari Arts Victoria, Australia. Sedangkan Dreamseekers didanai penuh oleh International Labour Organisation (ILO). Untuk yang berminat mengikuti acara yang digealr gratis ini bisa mengontak narahubung: Hesti 085867739494. (Christain Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here