Oknum Polisi Pemerkosa dan Pembunuh Dua Gadis di Medan Tetap Divonis Mati

Sumaterapost.co, Medan – Pengadilan Tinggi (PT) Medan menguatkan vonis mati terhadap Aipda Roni Syahputra. Oknum polisi yang bertugas di Polres Pelabuhan Belawan tersebut terbukti melakukan pemerkosaan dan pembunuhan dua gadis.

“Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Medan tanggal 11 Oktober 2021 Nomor 1554/Pid.B/2021/PN Mdn yang dimintakan banding tersebut,” ujar majelis hakim banding seperti dilansir dari SIPP PN Medan, Kamis 6/1/2022) pagi.

Keputusan itu dibacakan majelis hakim yang diketuai Wayan Karya SH MHum didampingi hakim anggota, Dr Henry Tarigan SH MHum dan Krosbin Lumban Gaol SH pada Senin 29 November 2021.

Sebelumnya, pengadilan tingkat pertama menjatuhkan vonis mati terhadap Aipda Roni Syahputra oleh majelis hakim yang diketuai Hendra Sutardo. Majelis hakim menilai oknum polisi tersebut terbukti bersalah melanggar Pasal 340 KUHPidana jo Pasal 65 KUHPidana.

“Mengadili, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Roni Syahputra oleh karenanya dengan pidana mati,” tegas hakim Hendra Sutardodo, dalam sidang virtual di Ruang Cakra 5 Pengadilan Negeri (PN) Medan, 11 Oktober 2021.

Baca Juga :  Tingkatkan Pelaku UMKM Go Digital, Pemkab Sergai-Kemenparekraf Gelar Bimtek

Menurut majelis hakim, hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa dilakukan secara sadis, salah satu korban berusia anak-anak dan terdakwa merupakan aparat penegak hukum. “Sedangkan hal yang meringankan, tidak ditemukan,” kata hakim.

Putusan tersebut sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Aisyah yang sebelumnya menuntut terdakwa Aipda Roni Syahputra dengan pidana mati.

Mengutip dakwaan JPU Aisyah mengatakan, pada 20 Februari 2021 sekitar pukul 14.00 WIB, terdakwa yang tertarik dengan korban Riska Fitria (21) warga Lorong VI, Veteran Bagan Deli, Medan Belawan, yang merupakan tenaga honorer di Polres Pelabuhan Belawan, menghubungi Riska untuk bertemu dengan alasan untuk membicarakan masalah titipan.

Terdakwa dan korban Riska lalu janjian bertemu di Polres Pelabuhan Belawan. Dari rumahnya, terdakwa mengendarai mobil Xenia miliknya. Sedangkan korban Riska ditemani tetangganya Aprila Cinta (13) yang juga menjadi korban dalam perkara ini.

Sesampainya di Polres Pelabuhan Belawan, terdakwa menyuruh korban Riska dan Aprila naik ke mobilnya. Korban Riska sempat curiga dan bertanya kepada terdakwa. Selanjutnya terdakwa mengemudikan mobil ke arah Jalan Haji Anif, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang.

Baca Juga :  Sambut HUT Bhayangkara Ke-76, Polres Sergai Gelar Pertandingan Badminton

Karena terdakwa sangat bernafsu dan sangat tertarik dengan tubuh Riska, maka terdakwa menarik tangan sebelah kiri Riska. Karena kaget, Riska menolaknya. Sementara terdakwa tetap memaksa korban dan memeluk serta meremas buah dada Riska.

Saat itu, Riska kembali berontak dan temannya Aprila langsung berteriak namun terdakwa menganiaya kedua korban. Kepala kedua korban dipukul. Tangan diborgol, mulut dilakban.

Lalu terdakwa membawa kedua korban ke Hotel Alam Indah di Jalan Jamin Ginting, Kelurahan Simpang Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan dan memesan kamar seharga Rp 80 ribu.

Lalu, tanpa sepengetahuan room boy, terdakwa memasukkan kedua korban ke kamar. Di dalam kamar, terdakwa mencoba memperkosa korban Riska terlebih dahulu.

Namun, karena Riska sedang datang bulan, sehingga dengan kesal terdakwa kembali memakaikan celana Riska. Dikarenakan nafsu birahi terdakwa belum tersalurkan, maka terdakwa melampiaskannya kepada korban Aprila.

Baca Juga :  Siap Dicalonkan Ketua PW NU Sumut, DR Saritua Harahap : Siap Membawa Perubahan

Puas memperkosa, terdakwa lalu membawa kedua korban ke rumah terdakwa, masih dengan posisi tangan diborgol dan mulut dilakban. Sebelum tiba di rumah, terdakwa menghubungi istrinya yakni saksi Elvrina Makmur Chaniago alias Pipit.

Tiba di rumah, terdakwa memasukkan kedua korban ke kamar. Terdakwa menyekap keduanya. Istri terdakwa sempat bertanya kenapa kedua korban dibawa ke kamar, namun terdakwa langsung mengancam akan membunuh istrinya jika banyak tanya.

Esoknya, karena pikiran terdakwa semakin tidak menentu, takut aksinya diketahui orang, timbul niat terdakwa untuk menghabisi nyawa kedua korban.

Korban pertama yang dibunuh terdakwa adalah Riska. Terdakwa mengambil bantal dan duduk di atas perut Riska dengan menekan sekuat tenaganya sehingga Riska tewas. Dengan cara sama, terdakwa juga membunuh Aprila.

Mayat keduanya lalu dibuang di dua lokasi berbeda. Mayat Riska dibuang di kawasan Perbaungan, Kabupaten Sergai, dan mayat Aprila dibuang di Jalan Budi Kemasyarakatan, Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Medan. (bay/rel)