Paguyuban Puri Wiji, 27 Tahun Berkiprah Nguri-Uri Budaya Tosan Aji

Ketua Paguyuban Pecinta Tosan Aji Drs. ST Sukirno saat 'nyondro' sebilah keris koleksi salah satu anggota paguyuban ( Christian Saputro)

SumateraPost, Semarang – Paguyuban pecinta tosan aji Semarang “Puri Wiji” memperingati HUT- nya yang ke-27. Gegara pandemi Covid-19 peringatan hari lahir komunitas ini digelar dengan sederhana di kediaman bapak Suparwoto, di Perumahan Dosen Unnes, Jalan Dewi Sartika III/30, Semarang, Minggu (4/4).

Suparwoto mengatakan, biasanya, anggota paguyuban Puri Wiji didirikan pada 2 April 1995 ini menggelar pertemuan rutin di Museum Ronggo Warsito, Semarang. “Tetapi karena pandemi, Museum sementara ditutup, otomatis pertemuan rutin Puri Wiji juga agak terkendala. Tetapi ada beberapa kali pertemuan digelar di rumah anggotanya,” terang Suparwoto .

Salah satu anggota paguyuban Puri Wiji Agus Budi Santoso sedang “nyondro’ sebilah keris pusaka ( Christian Saputro)
Suparwoto, membeberkan, ada pun tujuan didirikannya komunitas pecintan tosan aji Puri Wiji ini menjadi wadah untuk menguri-uri budaya berupa tosan aji, baik berupa keris, tombak, badik dan lainnya. “Budaya adiluhung warisanmaha karya dari para empu ini harus terus diuri-uri, dirawat agar tetap lestari. Jangan sampai nantinya kalau kita belajar keris justru dari orang asing. Sekarang saja Doktor ahli keris justru dari negara Jerman, bukan dari Indonesia,” ujar Suparwoto prihatin.

Baca Juga :  Jangan Sampai Pudar, TNI Bersama Masyarakat Terapkan Budaya Gotong Royong

Suparwoto menambahkan, Puri Wiji juga menjadi wadah silaturahmi para anggotanya, untuk bersama-sama belajar tentang tosan aji sebagai warisan budaya yang sarat muatan kearifan lokal dan filosofi.

Pertemuan Minggu siang, yang sekaligus peringatan HUT Puri Wiji, mengusung tema : “Keris Luk 7”. Belasan keris milik para anggota paguyuban dibabar dipajang di atas meja.

Baca Juga :  Dandim 0715/Kendal Pimpin Sertijab Danramil Perwira Staf Dan Pindah Satuan

Suparwoto, selaku tuan rumah, Minggu siang itu, membuka pertemuan dengan mengungkap makna filosofis dari Keris Luk 7 yang dijadikan tema. Keris sebagai budaya adiluhung mengandung banyak makna yang tersurat maupun yang tersirat. Untuk keris pusaka luk 7 sendiri memiliki makna yaitu angka tujuh merupakan lambang kesempurnaan ilahi. Keris ber-luk 7 terutama diperuntukan bagi orang-orang yang menganggap hidup keduniawiannya sudah sempurna, sudah cukup, sudah tidak lagi mengejar keduniawian dan untuk lebih menekuni hidup kerohanian.

Suparwoto menandaskan tujuh ini sendiri punya makna mistis. “Allah menciptakan semesta dengan tujuh tahapan. Kemudian , juga ungkapan langit ke tujuh, yang punya makna langit ada 7 tingkatan, ” terang Suparwoto

Baca Juga :  Bentuk Tim P2DD, Pemkab Brebes Jalin Koordinasi dengan BI

Gelar acara berikutnya, yang berlangsung gayeng, ketika para anggota paguyuban, secara bergiliran “nyandra” atau mengindentifikasi koleksi keris yang dipajang. Keris-keris secara estafet diamati oleh para anggota yang masing- masing membedah kesejarahan dan pamornya.

Ketua Paguyuban Puri Wiji, Drs Stephanus Sukirno, berharap pandemi Covid -19 segera berakhir, sehingga Puri Wiji bisa menggelar kegiatannya, kembali di Museum Ronggo Warsito kembali. “Ke depan diharapkan tentunya Puri Wiji bisa lebih bertumbuhkembang dan lebih luas lagi bisa mengedukasi masyarakat soal tosan aji yang merupakan warisan adiluhung leluhur bangsa kita” ujar Stephanus Sukirno yang juga anggota DPRD Jateng ini. (Christian saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here