Pameran Foto Kebhinekaan “Unity” di Pecinan

Kolaborasi karya Agus Budi Santoso

SumateraPost, Semarang – Pameran foto bertajuk : “Unity” diusung 8 fotografer Semarang ditaja di Warung Kopi Alam, Gang Warung, Pecinan, Semarang.

Pameran yang dibuka , Jumat, 14 Februari 2020 ini , akan memajang 16 karya fotografer dari berbagai genre yaitu; Agus Budi Santoso, Suwito Wito, Liang Thay Siek, Hendrik Mulyadi, Adhitya Kurnia Chandra, Abdul Hakim, Centry Amalo dan Adeline Gunawan. Pameran kan berlangsung selama sebulan penuh.

Menurut Agus Budi Santoso, ide pameran ini berawal dari komunitas jalan sehat “Kamis Sehat”, yang anggotanya banyak fotografer. Kemudian ide ini digodok dalam beberapa kali pertemuan di Warung Kopi Alam.

Lebih lanjut, Agus menambahkan , pameran ini bertujuan untuk merawat keragaman dan silaturhami antar pehobi fotografi dan juga apresian dari berbagai latar etnis dan genre fotografi yang diminati. Dalam pameran ini juga akan digelar diskusi dan artis talk. “Lewat karya fotografi ini dan pameran ini, kami berupaya merawat kebinekaan, sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat Semarang dalam bidang fotografi,” ujar fotografer yang pernah menggelar pameran tunggal ini.

Tentang Fotografer

Agus Budi Santoso

Seorang insinyur pehobi fotografi yang gemar perjalanan dan kuliner. Fotografer justru bisa mengalahkan pekerjaan kesehariannya sebagai pengawas proyek. Jadi jangan heran kalau dalam berbagi event di Semarang, Solo dan Jogyakarta, sering melihatnya asik dengan kamera andalannya.

Adeline Gunawan

Satu-satunya fotografer cewek yang ikut dalam pameran “Unity” ini. Adeline yang punya keinginan jadi manusia yang terus belajar dan mempraktikannya, dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul. Adel yang juga punya hobi main piano dan paduan suara ini memiliki jari istimewa, diujung jarinya tercipta gambar-gambar dengan sentuhan yang luar biasa. Dengan jarinya pula ia memainkan tuts piano dengan apik dan suaranya pun tak kalah merdu yang membawanya menjadi salah satu anggota grup paduan suara bergengsi di Semarang.

Abdul Hakim Nurmaulana

Hakim panggilan karib forigrafer ini menjadikan kamera alat untuk bersoasialisasi. Pemikir yang suka traveling ini mengejawantahkan kisah perjalanannya dalam bingkai fotografi dan videography. Hakim founder Labstory, tempat dia menungakan beragam kisahnya dalam karya rupa foto dan cerita.

Aditiya Kurnia Chandra

Kesibukannya bekerja di sebuah instansi Pemkot Semarang tak memadamkan kecintaannya dalam bidang fotografi. Adit penyuka fotografi genre landscape dan human interest.

Hendrik Mulyadi

Kecintaannya dalam bidang fotografi tak diragukan lagi. Kemana pun pergi Hendrik panggilan keseharian fotigrafer ini selalu menenteng kamera. Hendrik dengan senjatanya kamera, menabalkan dirinya sebagai pengagum, pencari dan pengabdi moment.

Liang Thay Siek

Fotografer ini tak pilih-pilih dalam membidik obyek, karena Thay panggilan karib fotografer ni juga pemerhati social dan budaya. Di sela kesibukannya dalam mengelola kegiatan social budaya yang jadi agenda Thay membukukan

Pemikiran dan pengamatan lingkungannya jadi bahasa visual melalui karya fotografi yang detil.

Gentry Amalo

Gentry Amalo yang mengakui menjalani kehidupanya bagai air yang mengalir. Perjalanannya sebagai pekerja di bidang sosial yang mengantarnya ke berbagai tempat direkamnya dalam jehak digital fotografi yang juga jadi hobinya.

Suwito

Lulusan Arsitektur Universitas Tri Sakti (Jakarta) ini dikenal sebagai fotografer dan vidografer sepesialis handphone yang pilih tanding. Kemampuannya tak diragukan lagi, meski dengan handphone tak kalah dengan kamera DSLR. Karya-karyanya banyak ditunggu para penggiat event di Semarang yang secara sukarela diliputnya. Karena liputan fotografi dan videonya selain indah, detil dan berkisah. “Yang terpenting karya saya bermanfaat,” ujar Wito, panggilannya karibnya, suatu kali.

(Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here