Semarang — Pameran lukisan bertajuk “Liberté d’inclusion” dengan sesanti “Aku Ada, Aku Berkarya, Aku Setara” akan digelar di Kantor Alliance Française (AF) Semarang, Jalan Dr. Wahidin No. 54, Kaliwiru, pada 11–21 Februari 2026. Pameran ini akan dibuka secara resmi pada Rabu (11/2/2026) pukul 13.00 WIB dan terbuka untuk umum.
Pameran tersebut merupakan hasil kerja sama Alliance Française Semarang dan Roemah Difabel Semarang, menghadirkan karya-karya perupa difabel yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Difabel–Roemah D (KSD–RD). Delapan perupa yang terlibat yakni Danang, Yohan, Faradhella, Yuni, Rizky Amalia, Raffi, Sheva, dan Willi, dengan pendampingan pelukis Giovanni Susanto.
Pengamat seni rupa Christian Heru Cahyo Saputro, yang menulis kata pengantar pameran ini, menyebut “Liberté d’inclusion” sebagai pernyataan tentang kemerdekaan yang dialami secara personal oleh para perupa difabel. Menurutnya, karya-karya yang dipamerkan lahir dari keberanian untuk hadir apa adanya dan menolak batasan-batasan normalitas yang kerap dilekatkan pada tubuh difabel.
“Setiap lukisan adalah pernyataan yang tenang namun tegas: aku ada, aku berkarya, dan aku setara,” ujarnya.
Ia menegaskan, inklusi dalam pameran ini tidak dibangun atas dasar rasa iba, melainkan kesadaran bahwa seni tidak pernah menanyakan kesempurnaan tubuh, tetapi kejujuran ekspresi. Proses kreatif para perupa berlangsung dalam suasana yang aman dan setara, tanpa tuntutan penyeragaman gaya, sehingga perbedaan justru menjadi kekuatan utama karya.
Direktur Alliance Française Semarang menyampaikan bahwa pameran ini sejalan dengan komitmen AF sebagai lembaga budaya yang memandang seni sebagai bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan. Pameran ini juga digelar dalam rangka menyambut kunjungan kerja Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, ke Kota Semarang.
Sementara itu, Founder Roemah Difabel (RD) Noviana Dibyantari menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari tekad Roemah Difabel pada tahun 2026 untuk terus mengawal sahabat difabel agar merdeka berkarya dan ikut mewarnai Indonesia. Menurutnya, pameran ini bukan sekadar ruang tampil, melainkan bagian dari proses pendampingan jangka panjang agar penyandang disabilitas memiliki kepercayaan diri, akses, dan pengakuan yang setara di bidang seni dan budaya.
“Kami ingin memastikan bahwa sahabat difabel tidak hanya diberi panggung, tetapi juga didukung untuk bertumbuh dan diakui karya-karyanya,” katanya.
Melalui program “Merdeka Berkarya, Warnai Indonesia”, Roemah Difabel menegaskan keyakinan bahwa disabilitas bukanlah batasan untuk berprestasi. “Disabilitas BISA,” ujar Noviana.
Pameran “Liberté d’inclusion” diharapkan menjadi ruang perjumpaan nilai tentang kebebasan berekspresi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman manusia. Melalui seni, publik diajak menurunkan prasangka, memperluas empati, serta memaknai kembali arti inklusi dalam kehidupan bersama.
(Christian Saputro)




