Pedagang Emas Dipasar Nagari Salimpaung Mengaku Belum Dimintai Keterangannya Oleh Aparat Kepolisian Polres Tanah Datar

SP.co, Sumatera Barat, Tanah Datar,- Pembangunan Pasar Nagari Salimpaung, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar yang dibangun dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018 dengan nilai kegiatan sejumlah Rp 1 Milyar lebih ini sudah rampung sejak Desember 2018 lalu. Namun hingga hari ini kios-kios tetap sejumlah 7 petak ini masih belum juga dapat ditempati oleh pedagang dan terlihat kios tetap ini masih dalam keadaan terkunci (Seperti pada photo)

Ketika hal ini di konfirmasi kepada beberapa orang pedagang yaitu Roni dan Pun yang sudah bertahun-tahun berdagang di pasar itu mengatakan kepada awak media, disaat pembangunan pasar Nagari Salimpaung dilakukan, kami terpaksa pindah dan menyewa toko milik warga yang masih berlokasi disekitar pasar itu dan pada bulan Agustus 2018 lalu, dimana pembangunan kios pasar Nagari Salimpaung sedang berlangsung, Kami didatangi oleh Edwar dan beberapa orang lainnya yang mengaku sebagai Pengurus Pasar Nagari Salimpaung, mereka meminta uang porsekot untuk sewa kios tetap di pasar Nagari Salimpaung yang baru nanti, jika porsekot tidak diberikan nanti tidak akan diberikan kios yang baru, karena masyarakat sudah banyak yang antri untuk kios-kios ini, akhirnya ya terpaksa memberikan uang sejumlah Rp 1.000.000,- (Satu juta rupiah) untuk porsekot itu, dan masing masing kami diberi sebuah kwitansi sebagai tanda terimanya, ucap Pun  kepada awak media ini.

“Delapan bulan sudah berlalu, semenjak kami serahkan uang porsekot itu, namun hingga saat sekarang ini masih belum ada kejelasan dari pihak pengurus pasar ataupun pihak pemerintah, kami ingin kejelasan namun yang kami dapat hanya janji-janji belaka dari pengurus pasar itu” keluhnya.

Ketika hal ini dikonfirmasi langsung kepada Edwar pengurus Pasar Nagari Salimpaung beberapa waktu lalu melalui via cellularnya, Edwar membenarkan bahwa dirinya sudah meminta uang kepada pedagang toko mas dan pedagang bumbu, masing-masing memberikan uang sejumlah Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) untuk porsekot setiap petak kios tetap ujarnya kepada awak media ini, Edwar juga memberitauhakan, Saya ini adalah Ketua Pengurus Pasar Nagari Salumpaung yang sudah di SK kan oleh Wali Nagai Salimpaung sejak adanya proyek pembangunan pasar Nagari tahun 2018, ucapnya

Setelah melihat, mendengar dan mengumpulkan informasi yang beredar ditengah2 masyarakat, khususnya masyarakat Nagari Salimpaung, akhirnya awak media ini mencoba mengkonfirmasikan hal ini kepada Kapolres Tanah Datar AKBP Bayuaji Yudha Prajas, SH yang didampingi Kasat Reskrim Polres Tanah Datar AKP Edwin SH.MH Kamis 25 April 2019, dalam diskusi singkat diruang kerja Kapolres itu, Edwin mengatakan bahwa kami juga sedang mendalami hal ini, beberapa orang sudah diminta keterangannya, termasuk Wali Nagari Salimpaung dan kita lihat saja nanti apa keterangan yang kita dapat dari Wali Nagari ini ucapnya.

Edwin menambahkan, ketika ditanya polisi kepada pedagang emas ini, tidak ada satupun yang berani bicara, malah mereka mengatakan tidak masalah terang Edwin dihadapan Kapolres Tanah Datar kepada awak media ini, Saat ditnya media ini tentang adanya dugaan pungutan yang tidak memiliki dasar dan ketetapan hukum yang jelas, Edwin menjawab, Pungutan yang tidak ada dasar hukum dan aturan yang tetap itu adalah salah, tetapi pasal apa yang akan kita tetapkan ucap Edwin, Pasal 378 tentang penipuan tidak bisa, Pasal 368 tentang pemerasan tidak bisa dan Pasal 12 e Undang-undang korupsi juga tidak bisa “carilah orang yang mengerti hukum nanti jika pasalnya ada akan kami pelajari, dalam hal ini sudah habis ilmu untuk mencari pasalnya dan kita sudah juga sudah gelar perkara ini untuk mencari pasal tentang hal ini. terang Edwin.
AKP Edwin SH. MH. yang mengatakan bahwa Polisi sudah bertanya kepada pedagang emas, belakangan diduga kuat tidak benar, Keterangan yang berhasil dihimpun oleh awak media yang mengubungi Roni pedagang toko mas Azwar mengaatakan bahwa dirinya belum pernah ditanya oleh polisi terkait hal ini sampai dengan saat sekarang, ucap Roni saat dihubungi awak media ini Kamis 25 April 2019 melalui via Cellular miliknya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pun Pedagang toko mas lainnya yang juga sudah memberikan uang sejumlah Rp 1.000.000 kepada Edwar pengurus Pasar Nagari Salimpaung ini, “lun ado wak ditanyo Polisi lai do, apolagi di panggia” (belum ada saya ditanya Polisi, apalagi dipanggil) ucap Pun kepada awak media ini dihari yang sama, bahkan Pun dan Roni ini mengatakan jika nanti kita dipanggil untuk diminta keterangan oleh aparat kepolisian terkait hal ini, Saya siap untuk memenuhi panggilan terasebut dan bersedia memberikan keterangan sebagaimana keterangan yang saya jawab atas pertanyaan wartawan, pungkasnya.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Noor Aufa salahsatu Praktisi Hukum yang dihubungi media, Minggu 28 April 2019 mengatakan “memungut sejumlah uang tanpa didasari aturan dan kepastian hukum yang jelas adalah sebuah bentuk pelanggaran terhadap hukum dan itu bisa dikatakan Pungutan Liar (PUNGLI)  Pasal pemerasan dan itu jelas ada ancaman pidananya” terang Noor Aufa, Ia menambahkan, setelah dicermati, tidak mungkin ada transaksi antara sipeminta dengan sipenerima uang tanpa adanya tekanan dari sipeminta, dalam kasus ini contohnya begini “jika uang porsekot tidak diberikan maka nanti tidak akan diberikan kios” hal ini termasuk dalam unsur paksaan yang dapat mengarah pada  pemerasan karena, pemerasan itu bukan hanya tekanan terhadap fisik saja namun tekanan kata yang bisa membuat orang tertekan pisikisnya dan akhirnya terpaksalah sipemberi uang ini mengabulkan keinginan sipeminta uang yang dikarenakan rasa takut dan saya rasa ini jelas adalah sebuah tekanan pisikis terhadap sipemberi uang dari si peminta uang, ucap Noor Aufa SH. CLA menegaskan. Bagaimana bisa aparat penegak hukum disana memutuskan tidak ada pasalnya, jika ceritanya begini saya duga ada apa-apanya ini, ucap Noor Aufa sembari tertawa dibalik cellularnya.   ***