Pelaku Seni Kecewa, Janji Pemko Binjai Berikan Fasilitas Tak kunjung Terealisasi

SumateraPost, Binjai – Lembaga Atjeh Internasional Indonesia (LAII), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan, pengajaran, sosial, kebudayaan, pariwisata, kesenian, dan bahasa asing, menyatakan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kota Binjai, khususnya dengan kinerja Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan.

Pasalnya, penyediaan sarana dan prasarana pengembangan seni yang sebelumnya dijanjikan sebagai lokasi wisata berkarya internasional, serta sanggar pelatihan pembuatan karya seni lilin dan daur ulang sampah, hingga saat ini tidak kunjung terealisasi.

“Terus terang saja kami kecewa. Sebab ini sudah dijanjikan lama. Anak-anak yang kami latih juga kecewa, karena merasa pelajaran seninya terus tertunda. Seakan-akan pemerintah daerah tidak mendukung kami. Padahal kami hanya ingin memajukan wisata seni di Kota Binjai ,” ungkap Ketua LAII Kota Binjai, Zulkifli, Minggu (22/11).

Menurut pria yang sempat dinobatkan sebagai Insan Inspiratif Pendidikan Kota Binjai 2019 ini, sejak 2018 Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Binjai memfasilitasi penyediaan sanggar pelatihan pembuatan karya seni lilin dan daur ulang sampah di Lantai II Gedung Sky Cross, setelah sebelumnya memanfaatkan rumah tua di Jalan Jenderal Sudirman sebagai sanggar.

Diakui Zulkifli, banyak anak-anak dan pelajar tertarik mengikuti pelatihan dan pelajaran seni di tempat itu, mengingat sarana dan prasarana diberikan secara cuma-cuma alias gratis.

Namun karena Gedung Skycross akan direnovasi, maka pihaknya pun diminta menempati sementara Arena Eks Gedung MTQ, untuk selanjutnya kembali ke tempat semula setelah proyek renovasi selesai dikerjakan.

“Awalnya Pak Walikota setuju sanggar seni kami ditempatkan di Arena Eks Gedung MTQ. Sayangnya itu tidak bisa kami gunakan, karena PD Pembangunan juga berkantor di sana. Sehingga kami terpaksa menunggu hingga Gedung Sky Cross selesai direnovasi,” terang warga Kelurahan Binjai Estate, Kecamatan Binjai Selatan tersebut.

Hanya saja begitu proses renovasi Gedung Sky Cross selesai dikerjakan dan pihaknya bersiap menempati lokasi semula, justru Pemerintah Kota Binjai tidak lagi memberikan izin pinjam-pakai tempat, dengan alasan akan digunakan oleh Pemerintah Kota Binjai.

Hal tersebut sesuai dengan uraian Surat Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Binjai, Muhammad Mahfullah Pratama Daulay, Nomor: 028-10921 tanggal 30 Desember 2019, perihal pinjam-pakai tempat.

Menariknya, kata Zulkifli, saat Hendra, salah seorang anggota LAII Kota Binjai, mengunjungi Lantai II Gedung Sky Cross pada 18 Zeptember 2020, dia justru terkejut karena sebuah aquarium berisi ornamen seni telah hilang.

Menyadari hal itu, Hendra berinisiatif menemui Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Binjai, Hedi Novria, guna mempertanyakan keberadaan aquarium tersebut. Namun dia hanya menemui Kepala Bidang Pasar, Jaya Sitorus.

“Memang tidak lama setelah menemui Pak Jaya dan menceritakan semuanya, aquarium hasil karya seni kami tadi dikembalikan. Akan tetapi ornamennya sudah tidak ada lagi,” ujar Zulkifli.

Atas dasar itu pula, diakuinya, Hendra kembali menemui Jaya Sitorus. Namun bukannya mendapat jawaban.yang memuaskan, Jaya Sitorus justru marah, karena merasa aquarium tersebut merupakan aset Pemerintah Kota Binjai dan ornamen seni yang hilang itu bukanlah tanggungjawabnya.

Padahal menurut Zulkifli, aquarium yang menjadi aset Pemerintah Kota Binjai ukurannya lebih kecil dibandingkan aquarium yang berisi ornamen seni inventaris LAII Kota Binjai.

“Karena panik dan bingung, Hendra lantas menemui saya. Dari situ kami menemui kenalan kami yang juga seorang wartawan, lalu memberitakan persoalan tersebut di salah satu media online,” terang Zulkifli.

Menariknya, setelah pemberitaan itu dimuat di media massa, Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Binjai, justru membuat berita bantahan di media massa lain.

Selain itu, Kepala Dinas Kepala Bidang Pasar, Jaya Sitorus, meminta pihaknya untuk tidak lagi membesar-besarkan persoalan tersebut, dengan catatan akan mengganti biaya pembuatan ornamen aquarium dan memberikan lokasi baru untuk sanggar pelatihan pembuatan karya seni lilin dan daur ulang sampah.

Selanjutnya, pada 21 September 2020, Jaya Sitorus meminta LAII Kota Binjai memilih tiga lokasi baru yang dijanjikan akan dijadikan sebagai lokasi sanggar seni alternatif, yakni Gedung Pujasera, Pasar Bundar, Pasar Rambung.

Namun karena mempertimbangkan daya jangkau, akses transportasi, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung lainnya, Zulkifli akhirnya memutuskan memilih Pasar Tunggurono sebagai lokasi alternatif.

“Dengan berbagai pertimbangan itu, kami pun ajukan pinjam-pakai tempat di Pasar Tunggurono. Alhamdulillah saat itu Pak Jaya setuju. Dia pun langsung survey ke lokasi dan meminta kami menyiapkan proposal pengajuan biaya dan keperluan pengganti ornamen aquarium yang hilang,” ungkap Zulkifli.

Akan tetapi janji tinggal janji. Sebab setelah pertemuan itu, dia selalu saja gagal menemui Jaya Sitorus, saat hendak ditemui di kantornya. Bahkan komunikasi dengan pejabat terkait juga terputus. Sebab berulang kali dihubungi via chat whatsapp, Jaya Sitorus tetap tidak merespon.

“Melalui Surat Nomor: 012/10/LAII/2020, tanggal 13 November 2020, kami dari LAII Kota Binjai juga telah mengadukan dugaan tindak pidana pencurian dan perusakan terhadap barang inventaris hasil kesenian LAII, serta dugaan pencemaran nama baik anggota LAII kepada polisi” seru Zulkifli. (andi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here