Kerja Sama Alliance Française Semarang & Roemah Difabel Semarang ini tidak lahir dari hasrat untuk dipuji, apalagi sekadar ditonton. Ia tumbuh dari keberanian untuk hadir—utuh, jujur, dan apa adanya. Di ruang Alliance Française Semarang ini, karya-karya sahabat difabel dari Komunitas Sahabat Difabel–Roemah D (KSD–RD) di bawah bimbingan founder Noviana Dibyantari berdiri sebagai penanda penting: bahwa merdeka bukanlah kata hiasan, melainkan pengalaman yang dijalani oleh tubuh, dirasakan oleh batin, dan disimpan dalam ingatan.
Merdeka, di sini, menjelma sebagai denyut yang hidup. Ia mengalir dari tangan yang menggambar dengan caranya sendiri; dari mata yang membaca dunia melalui bunyi, cahaya, dan sentuhan; dari tubuh yang menolak tunduk pada ukuran-ukuran normalitas. Setiap lukisan adalah pernyataan yang tenang namun tegas: aku ada, aku berkarya, dan aku setara.
Inklusi dalam pameran ini tidak hadir sebagai rasa iba, bukan pula sebagai pengistimewaan. Ia tumbuh sebagai kesadaran bersama—bahwa seni tidak pernah bertanya tentang kesempurnaan tubuh, melainkan tentang kejujuran ekspresi. Karya-karya ini tidak meminta dipahami dengan kasihan, tetapi mengajak kita menatap dengan empati, mendekat dengan rasa hormat.
Melalui pendampingan pelukis Giovanni Susanto, para perupa Roemah Difabel—Yohan, Danang, Rizky Amalia, Faradhela, Yuni, Willi, Rafi, dan Sheva—menemukan dan merawat bahasa visual mereka masing-masing. Di Roemah D, seni dijaga sebagai ruang aman: ruang untuk mencoba dan menemukan, untuk jatuh dan bangkit, untuk bertumbuh tanpa tekanan seragam. Perbedaan tidak disamakan, tidak dirapikan, melainkan dirayakan sebagai kekayaan.
Setiap garis, warna, tekstur, dan bentuk yang hadir dalam pameran ini adalah jejak perjalanan. Ada kisah tentang ketekunan yang sunyi, tentang luka yang diolah menjadi makna, tentang kegembiraan kecil yang akhirnya menemukan tempatnya. Karya-karya ini tidak berteriak, tetapi berbicara lama—tinggal di hati, mengendap di ingatan.
Pameran “Merdeka dan Inklusi”, yang terwujud melalui kolaborasi Alliance Française (AF) Semarang dan Roemah Difabel Semarang, mengajak kita belajar ulang tentang makna merdeka:
merdeka untuk mengekspresikan diri,
merdeka untuk diakui tanpa syarat,
merdeka untuk berkarya tanpa harus menjelaskan keterbatasan.
Semoga ruang ini—di Jalan Dr. Wahidin No. 54, Candisari, Semarang—menjadi tempat kita menurunkan prasangka, memperlambat pandangan, dan membuka hati. Sebab di hadapan karya-karya sahabat difabel KSD–RD, kita kembali diingatkan bahwa seni—seperti kemanusiaan—hanya akan utuh jika ia memberi ruang bagi semua.
Selamat menyimak, merasakan, dan merayakan.
Di sinilah inklusi menemukan bentuknya yang paling jujur: membumi, setara, dan merdeka.
Selamat berpameran.
Semarang, Februari 2026
Christian Heru Cahyo Saputro
Jurnalis | Pemerhati Seni Rupa
Bermukim di Semarang




