Pembangunan 1000 Hunian untuk Rohingya Segera Dimulai!

Sumaterapost – Kalau sudah hujan lebat, pasti atap di seluruh lapisan gubuk itu bakal bocor. Jika hujan makin bertambah lebat, hunian paling berharga dengan dinding terpal, juga atap terpal, serta lantai beralas tanah itu bakal kebanjiran. Air menggenang bisa sampai setinggi lutut, membuat siapa pun penghuninya urung terlelap ketika hujan datang dimalam hari.

Mau bagaimana lagi? Hunian paling berharga itu kini hanya berupa gubuk terpal sangat-sangat sederhana. Berteman dengan pengap, ditambah aroma busuk, dan anyir ketika terik siang. Tak luput juga dihampiri banjir didalam kamp, kalau hujan sudah turun sangat lebat.

Tak hanya satu atau dua, gubuk-gubuk terpal di seantero kamp itu juga bakal mengalami hal serupa. Padahal gubuk-gubuk pengungsian itu adalah harta satu-satunya, kini menjadi harta paling berharga. Tempat darurat demi raga bernaung kala siang terik, tempat lelap direbahkan kala malam.

Sejak akhir Agustus 2017 kemarin, ketika konflik kembali meletus antara serdadu Myanmar dan orang-orang Rohingya di Sittwe, lebih dari setengah juta warga Rohingya nekat mengungsi.

Mereka melarikan diri dari kekejaman serdadu Myanmar, meninggalkan rumah yang dibakar habis oleh para serdadu militer itu.

Catatan terakhir di 26 Oktober 2017, atau dua bulan pascateror terbaru bermula, lebih dari 600.000 jiwa pengungsi baru Rohingya datang dan masuk ke Bangladesh, bergabung dengan ratusan ribu lain pengungsi Rohingya yang sudah mengungsi terlebih dahulu bertahun-tahun silam.

Kini jika ditotal, berarti nyaris ada 1 juta pengungsi Rohingya yang bertumpuk, menyesak, mengisi celah-celah lereng dan bukit di area Distrik Cox’s Bazar, Chittagong, Bangladesh. Mereka mendirikan tenda-tenda kamp pengungsian darurat, hanya berbekal terpal dan tikar seadanya.

Ini adalah cerita tentang hal paling pilu yang dialami nyaris sejuta pengungsi Rohingya. Tentang rumah, tentang harta paling berharga.

Tenda terpal dan lantai tanah di kamp-kamp pengungsian itu kini menggantikan rumah yang direnggut, dibakar, dan dihancurkan di kampung halaman. Kebutuhan kamp pengungsian yang lebih layak pun mendesak untuk disegerakan.

Karena urusan hunian bagi pengungsi Rohingya menjadi hal paling mendesak, sudah berpekan-pekan tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) memulai segala sesuatunya langsung dari Cox’s Bazar, Chittagong, Bangladesh.

Tim ACT di Cox’s Bazar menyiapkan dengan matang segala urusan izin, desain, dan rencana pembangunan hunian sementara untuk keluarga Rohingya.

Menurut presiden ACT, Ahyudin kepada media mengungkapkan pihaknya tengah berupaya menyiapkan 2000 shelter di Bangladesh. “Tahap pertama 1000 shelter akan dibangun pekan depan,” ungkapnya.

Orang nomor satu di lembaga kemanusiaan global itu mengungkapkan dalam program pembangunan shelter yang disebut ICS (integrated Communication Shelter) itu akan dilengkapi sekolah, masjid, pasar dan sarana penunjang lainnya. “Selain shelter, ada 100 masjid dan 100 sekolah. Dukungan umat tentu sangat diharapkan agar program tersebut bisa dilaksanakan,” imbuh Ahyudin.

Menjawab apa yang diungkapkan Ahyudin tersebut, tim ACT di Bangladesh  optimis bisa merealisasikannya dalam pekan ini.

Pasalnya di akhir Oktober, izin sudah didapat, lokasi pembangunan pun sudah disiapkan. Bambang Triyono selaku Direktur Global Humanity Response (GHR) – ACT mengatakan, insya Allah di pekan pertama November 2017, ACT bakal memulai pembangunan tahap awal 1000 hunian sementara untuk ribuan keluarga Rohingya. Kompleks hunian sementara ini akan dibangun di Blok EE, Kamp Ukhiya, Kutupalong, Cox’s Bazar.

“Shelter yang akan kami buat dengan material bambu. Lebih baik, lebih kuat bahannya. Izin alhamdulillah sudah kami dapatkan beberapa hari lalu. Saat ini hanya tinggal menunggu eksekusi pembangunannya. Total 1000 shelter nanti akan menempati area sekitar 15 hektar,” papar Bambang.

Pembangunan hunian sementara sumbangsih masyarakat Indonesia untuk keluarga Rohingya ini berada di tengah kepadatan Kamp Pengungsian Kutupalong, kamp yang menampung jumlah pengungsi Rohingya terbesar di Distrik Cox’s Bazar. Dari statistik terbaru yang dirilis per tanggal 26 Oktober kemarin, ada lebih dari 425.500 pengungsi Rohingya yang menyesak di kamp ini.

Bambang memaparkan, dari 1.000 shelter atau hunian sementara yang dibuat, akan terdiri dari beberapa set. Setiap set terdiri dari 12 pintu. Jadi, total akan ada 84 set unit shelter.

“Pembangunannya akan dilakukan bertahap. Sekitar 12 atau 24 unit dalam satu atau dua set akan kita bangun dengan memindahkan terlebih dahulu 25 keluarga dari 25 tenda. Setelah shelter jadi, mereka baru akan dipindahkan kembali ke shelter yang baru,” ujar Bambang.

Jika pola pembangunan terjaga sesuai jadwal, insya Allah perkiraan paling dekat 1000 unit hunian baru bagi pengungsi Rohingya bakal tuntas dalam waktu dua bulan ke depan.

Selain bakal membangun 1000 shelter layak huni, ACTpun akan melengkapinya dengan fasilitas umum penunjang lain, seperti madrasah atau masjid.

“Nanti di antara 1000 shelter itu akan dibangun pula 8 masjid, kemudian 8 sekolah dengan masing-masing 6 ruangan kelas. Lalu, untuk sanitasi akan ada sekitar 336 toilet tersebar di tiap sudut shelter,” ujarnya. (R)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here