Sumaterapost.co

Setiap Orang Punya Cerita

banner 728x90

Pemerintah Terus Berupaya Menaikkan Harga Karet

Pemerintah Terus Berupaya Menaikkan Harga Karet

Bengkulu, Sumaterapost – Potensi Perkebunan Karet terdiri dari foto Kebun Rakyat, yang mencapai 92%, Kebun Swasta Besar dan Kebun Besar Negara. Total produksi Karet sekitar 97.322 ton per tahun, sebagian besar diekspor melalui Sumatera Barat dan Lampung yang memerlukan biaya transportasi cukup besar. Dalam waktu dekat, sedang diusahakan ekspor melalui Pelabuhan Pulau Bai Kota Bengkulu.

Peluang Peningkatan Produktivitas dan kualitas karet rakyat masih sangat terbuka dengan program replanting dengan bibit unggul. Penambahan pabrik pengolahan karet masih sangat diperlukan yang terlihat dari rendahnya harga. Produk karet rakyat masih berupa balok basah atau kering. Belum ada petani atau kelompok tani yang menjual karet dalam bentuk lembaran yang harganya lebih tinggi. Petani secara berkelompok sangat mungkin mengolah getah karet dan menjual dalam bentuk lembaran karet, sehingga nilai tambah di peroleh petani. Selama ini, nilai tambah tersebut diperoleh parbrik pengolahan karet. Produk turunan dari karet juga sangat mungkin diproduksi petani.

Kawasan Karet Provinsi Bengkulu ada di 4 (empat) Kabupaten, yaitu Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Muko-Muko dan Seluma. Kabupaten Bengkulu Utara dalam tahap penyusunan Action Plan, dengan sasaran Peningkatan produktivitas kebun karet, peningkatan bentuk produk menjadi lembaran karet, pendirian pabrik pengolahan karet dan korporasi petani karet. Tiga kabupaten lain dalam tahap persiapan penyusunan action plan.

BUMDes akan Distribusikan Hasil Pertanian Karet Bengkulu untuk Bahan Aspal

Hasil pertanian karet di Bengkulu Utara akan digunakan Kementerian PUPR untuk bahan aspal. Terkait distribusi, ia ingin hasil pertanian tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Masalah karet nanti akan dibantu oleh Kementerian PUPR, di-collect atau dikumpulkan oleh BUMDes-BUMDes. Karet ini akan digunakan untuk bahan pembuatan aspal,” ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tetinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo saat meninjau pembangunan jembatan di Desa Wonoharjom Bengkulu Utara bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono baru-baru ini

Untuk harga karet di Bengkulu saat ini diketahui berkisaran Rp. 6000-7000 per kg. Namun upaya-upaya pemerintah terus dilakukan agar dapat menggenjot kenaikan harga karet per kg nya.

Dukungan yang diperlukan dari Kementerian Pertanian yakni pengembangan pengolahan karet di petani, sehingga produk petani ditingkatkan dari Karet balok ke bentuk lembaran karet yang harga jualnya lebih tinggi. Pengembangan produk turunan dari karet di tingkat petani dengan pola korporasi petani. Dukungan pengembangan kebun induk karet, sehingga petani dapat menghasilkan bibit unggul secara mandiri.

Pemerintah Atur  Ekspor Karet Untuk Dongkrak Harga

Sementara itu, Pemerintah Indonesia memutuskan menerapkan tiga kebijakan untuk mengatatasi harga karet alam yang masih berada di level rendah sepanjang 2018 hingga awal 2019. Salah satu kebijakan yang ditempuh  adalah dengan pengaturan ekspor. Saat ini, harga karet alam ekspor berkisar US$ 1,45 per kilogram (kg) dan di tingkat petani  hanya Rp 7.000 – 7.500 per kg.

Menko Perekonomian Darmin Nasution  mengatakan, kebijakan tersebut dilakukan baik jangka pendek, menengah maupun panjang dengan mengatur jumlah ekspor karet alam, peningkatan penggunaan karet alam di dalam negeri dan peremajaan replanting karet alam.

Kombinasi tiga kebijakan itu, melalui pengaturan ekspor, ditambah  promosi dan penggunaan karet alam dalam negeri, ditambah  program peremajaan karet rakyat, kita percaya bisa menjaga agar harga karet tidak lagi jatuh  begitu rendah, ungkap  Darmin di Jakarta, Senin lalu (25/02).

Saat ini harga karet alam ekspor  berkisar US$ 1,45 per kg dan di tingkat petani hanya Rp 7.000 – 7.500  per kg. Pergerakan harga karet alam ini semakin tidak sesuai harga seharusnya jika dilihat dari pasokan dan kebutuhan pasar.

Tiga kebijakan tersebut merupakan keputusan dari pertemuan International Tripartite  Rubber Council (ITRC)  yang diinisiasi tiga  negara produsen karet, yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand pada 22 Februari di Bangkok, Thailand.

Pertemuan dipimpin oleh Menteri Pertanian dan Kerja Sama Thailand  Grisada Boonrach. Wakil dari Indonesia adalah Menko Perekonomian Darmin Nasution. Sementara dari Malaysia diwakili oleh Menteri Industri Utama Teresa Kok. Mereka didampingi oleh pejabat senior kementerian lainnya, serta anggota dewan direksi ITRC.

Untuk jangka pendek, kebijakan yang diambil oleh ketiga negara adalah pengaturan ekspor dari mekanisme agreed exports tonnage scheme (AETS). Penerapan AETS dilakukan dengan mengurangi ekspor dari ketiga negara tersebut sebesar 200.000 sampai 300.000 metrik ton (MT), untuk jangka waktu tiga bulan ke depan.

Para menteri kemudian menginstruksikan kepada senior official meeting (SOM) ITRC untuk membahas poin-poin implementasi AETS pada 4 Maret 2019 mendatang di Thailand. Implementasi AETS perlu dilanjutkan dengan mekanisme penggunaan karet dalam negeri melalui demand promotion scheme(DPS) guna meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan di masing-masing negara.

Di Indonesia sendiri utilisasi karet alam terdapat pada proyek-proyek infrastruktur seperti jalan provinsi dan kabupaten yang tersebar di seluruh negeri. Dumper jalur rel, pemisah jalan, bantalan jembatan dan vulkanisir ban.

Sedangkan Thailand telah menerapkan operasi pasar strategis melalui enam pasar fisik karet yang kemudian mampu memperbaiki harga karet alam di pasar domestiknya. Dengan operasi itu, volume perdagangan karet alam Thailand di 2018 naik 105.000 MT atau senilai US$ 225 juta.

Sedangkan Malaysia akan meneruskan proyek jalan berlapis karet. Pemerintah malaysia sudah menyetujui anggaran RM 100 juta untuk pembangunan dan perawatan jalan yang menggunakan aspal yang dimodifikasi dari karet pada areal pelabuhan dan industrinya.

Para menteri tersebut juga berkomitmen melanjutkan dan memperbaiki implementasi peremajaan karet alam melalui supply manajemen scheme (SMS). Skema ini berperan penting dalam pencapaian titik keseimbangan antara suplai dan demand karet alam dengan mengakselerasi penanaman kembali (replanting) karet alam. Inti adari SMS adalah replanting.

Di Indonesia yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian, yakni dari lahan sejumlah 60% itu ditanami karet dan sisanya ditanami tanaman lain,semisal kakao, hortikultura dan sebagainya.

Hal ini dilakukan untuk mengatasi over suplai, papar Menko Darmin.

Thailand akan mengoptimalkan replanting pohon karet 65.000 hektar per tahun. sedangkan Indonesia sebesar 50.000 hektar per tahun dan Malaysia sebesar 25.000 hektar per tahun.

Pertemuan itu juga membahas arah masa depan dari Regional Rubber Market (RRM) dan pembentukan badan arbitrase untuk mendukungnya.

Selain itu, dibahas pendiirian Asean Rubber Council (ARC) sebagai platform diskusi untuk pengembangan karet alam di negara Asean. (ADV)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan