Peringatan Hari Toleransi di Semarang Gayeng

0

SumateraPost, Semarang – Malam pergelaran seni nusantara yang ditaja dalam rangkan memarakkan peringatan Hari Toleransi berlangsung sukses dan meriah. Pergelaran seni nusantara ini ditaja GPIB Immanuel Semarang berkolaborasi dengan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang.

Helat yang diisi dengan pergelaran tari dan refleksi kebangsaan ini diselenggarakan di Halaman Gereja GPIB Immanuel (Gereja Blenduk) Jln. Letjen Suprapto No. 32 (Kota Lama) Semarang, akhir pekan lalu. Selepas magrib pergelaran dibuka dengan penampilan grup musik rebana PMII rayon Gus Dur UIN Walisongo. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama.

Pendeta Yorinara Salawangi dari GPIB Immanuel menyambut baik helat pagelaran seni nusantara ini. Kegiatan ini juga merupakan salah satu program pelayanan GPIB Immanuel tahun 2019 ini . Tema yang diusung GPIB Immanuel yaitu; “Membangun Masyarakat Sejahtera demi Kesejahteraan Umat dan Kekuatan Bangsa”, sesuai dengan misi dan semangat hari toleransi yang diperingati.

Menurut Yorinara ada tiga kunci yang mengacu kepada tema di atas,yaitu; sejahtera, umat dan kuat. Sejahtera menunjukkan kondisi rasa aman, umat menunjukkan ke universalan manusia dan kuat sebagai penopang atau penyangga yang kokoh. “Jadi yang diharapkan suatu masyarakat yang kuat yang ditopang oleh eksistensinya yang merasakan aman, makmur dan terlepas dari segala macam ancaman,” papar Yorinara.

Semuanya itu, lanjut Yorinara, tentunya menjadi tantangan berbagai pihak termasuk masyarakat. Dalam hal ini tentunya masyarakt Semarang dan Kota Lama khususnya berkaitan dengan hari Toleransi yang diperingati. “Berbicara tentang toleransi sama halnya berbicara dengan kedamaian, sikap yang menghormati dan menghargai dan menerima kepelbagaian atau kemajemukan,” ujar pendeta asal Sangir Talaud mengingatkan.

Sementara itu, Walikota Semarang yang diwakili Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Bambang Suranggono, menyambut baik dan sangat mengapresasi gelaran pentas seni nusantara yang digelar untuk memperingati dan memarakkan hari Toleransi ini.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan, tema yang diusung dalam acara ini,yaitu, Peran Pemuda Lintas Agama dalam Merawat Kebangsaan,semangatnya sangat tepat dengan keadaan Indonesia saat ini yang membutuhkan kebersamaan untuk merawat NKRI. “Nilai kebangsaan perlu dipelihara terus oleh penerus bangsa adalah membangun intergrasi kemajemukan kita dan bukan melakukan segregasi perbedaan kita. Disinilah peran pemuda diharapkan dapat menjaga persatuan dan kesatuan di antara kemajemukan yang kita miliki,” ujar Bambang.

Lebih lanjut, Bambang menegaskan, biarlah catatan segregasi sejarah suku dan agama yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa-bangsa lain di dunia, kita jadikan pelajaran dan pengingat. Dan meletakkan dasar dn merawat nilai kebangsaan, utamanya sila ke tiga Pancasila yaitu; Persatuan Indonesia adalah keniscayaan. “Karena itu nilai kebangsaan yang penting, bagi kita yang bersala dari berbagai suku, bahasa dan agam, maka kita wajib merawatnya,” tandas Bambang Suranggono.

Hal senada disampaikan Ustadz Khoirul Anwar, M.Ag, dari Pondok Pesantren At – Taharruriyah Semarang, dalam tausyiah refleksi kebangsaannya, bahwa, semua umat punya hak untuk mengekspresikan kepercayaannya. “Ini merupakan bentuk penghargaan dan toleransi yang seutuhnya. Islam menjunjung tinggi kemanusian. Islam memulyakan manusia,” paparnya.

Untuk itu, lanjut Ustadz Khoirul Anwar, kita jangan melihat baju yang dipakai atau baju yang melekat. Tetapi yang dilihat , karena manusianya. “Kalau berhenti melihat pada baju, kita akan tertipu oleh baju. Sedangkan nilai-nilai kemanusian akan tetap ada, meski langit akan runtuh,”ujar Khoirul mengingatkan.

Ditegaskannya, sesungguhnya manusia punya hak yang sama. Hendaknya kita hanya memperlihatkan dan menyuarakan kerukunan dalam simbol-simbol, tetapi mengamalkan dalam keseharian. Kegiatan seperti ini hendaknya tak berhenti sebatas seremonial tetapi terus kita tumbuhkembangkan dengan tindakan nyata. “Mari bersama kita lawan kedzoliman. Sehingga tidak ada lagi pelarangan pemakaman untuk umat tertentu juga pelarangan pembangunan tempat ibadah. Semua punya hak beragama dan hak hidup. Karena semua agama pada dasarnya menjunjung tinggi kebaikan dan kemanusiaan, ” tandas Ustadz yang juga bergiat di Elsa Semarang.

Di tempat terpisah, Koordinator Pelita Budi Setiawan , mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dalam hubungan berbangsa dan bernegara. “Kesadaran tentang prinsip-prinsip toleransi harus terus ditingkatkan agar kita mampu menghormati budaya, agama dan kepercayaan, serta tradisi Nusantara yang amat kaya,” ujar Romo Budi.

Hari Toleransi Internasional sendiri, lanjut Setiawan, diperingati setiap tahun pada 16 November. Peringatan ini dilakukan satu tahun sekali dan dideklarasikan pertama kali oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Melansir laman United Nations, Hari Toleransi Internasional diperingati untuk meningkatkan kesadaran tentang prinsip-prinsip toleransi. Selain itu, untuk menghormati budaya, kepercayaan-kepercayaan, tradisi-tradisi, dan memahami risiko-risiko yang disebabkan ol ehintoleransi.

Pergelaran seni berlangsung meriah diawali pesembahan suguhan musik rebana dari PMII rayon Gus Dur UIN Walisongo, Semarang. Kemudian, baru dibuka dengan pembukaan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, sambutan dari tuan rumah Majelis Jemaat GPIB “Immanuel” Semarang dan sambutan Walikota Kota Semarang Hendrar Prihadi yang diwakili Kadis Koperasi dan UMKM Bambang Suranggono.

Berikutnya, tampil gelar seni nusantara menampilkan vocal grup (Vitalent,Yayasan Panti Asuhan Katolik semrang), drama tari (Persatuan Warga Sapta Drama – Kbupaten Semarang), baca puisi oleh Medita (Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia – Kota Semarang)i, tari Sekar Jagad (Perhimpunan Mahasiswa Hindu – Kota Semarang), paduan suara (GPIB Se- Kota Semarang) , refleksi kebangaan (Ustadz Khoirul Anwar (UKA) M.Ag, musik etnik- Five (Unika Soegijapranata), rebana dan tari sufi (PMII Rayon Ushludidin UIN Walisongo Semarang) dan ditutup dengan joged bersama tari M aumere yang berlangsung meriah dan gayeng. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here