Pernyataan KPPA, Tersangka Pembunuh Anak dan Pemerkosa Ibu Muda Tak Cocok Dihukum Mati 

Sumatera Post.co, Aceh Timut – Pasca peristiwa pemerkosaan pada Dn (28), dan pembunuhan sadis terhadap anaknya Rg yang berusia 9 tahun dilakukan oleh Samsul (36) pada, 10 Oktober 2020 lalu di Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. kasus tersebut bukan hanya menyakiti keluarga korban namun juga menyakiti hati hampir seluruh masyarakat Aceh.

Banyak pihak berharap pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada si pelaku mengingat aksi kekejaman yang dilakukan dan efek traumatik yang ditimbulkan.

Namun pada tanggal 14 Oktober 2020 komisioner KPPA Aceh sebagaimana diberitakan di beberapa media di Aceh, KPPA menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan anak tersebut tidak cocok dihukum mati, atas peryataan tersebut telah menimbulkan reaksi miring beberapa elemen masyarakat, dan salah seorang tokoh pemuda selaku pengurus Karang Taruna (KT) Kabupaten Aceh Timur angkat bicara.

Barmawi, selaku tokoh pemuda Aceh Timur, pada Sunateta Post, Kamis, (15 Oktober 2020) mengemukakan, menutnyanya Pernyataan tersebut oleh KPPA Aceh dinilai sangat menyakitkan keluarga korban dan masyarakat Aceh Timur pada umumnya. sebab, selain karena kejinya aksi yang dilakukan, mengingat si pelaku adalah mantan narapidana pada kasus pembunuhan yang bebas karena asimilasi covid-19 dan sebelumnya telah 2 kali melakukan tindakan pembunuhan yakni pembunuhan yang dilakukan di wilayah kota Pekanbaru Riau, serta di dalam salah satu lapas di Provinsi Riau, data dari keterangan hasil penelusuran jejak kasus tersangka di beberapa media.

Jadi Ini adalah kali ketiga si pelaku melakukan pembunuhan artinya telah 3 nyawa yang dia hilangkan, jika memang dia dianggap mengalami kelainan mental, Kami ingin bertanya kelainan mental seperti apa yang tidak pantas dihukum? mungkin dia juga memang mengalami kelainan mental, ya menurut kami mental dia memang lain, dia itu piskopat dan piskopat pantas dihukum seberat-beratnya dan menurut tokoh pemuda ini dia pantas di hukum mati,” Ujar Barmawi.

Lebih lanjut Barmawi, menyebutkan kami menilai komisioner KPPA Aceh salah minum obat karena sejatinya KPPA memberi perlindungan utuh kepada perempuan dan anak di Aceh baik perlindungan hak asasi, perlindungan sosial maupun perlindungan hukum. namun mereka malah mengeluarkan pernyataan yang tidak berpihak kepada perempuan dan anak yang menjadi korban tindak kekerasan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa, ” Sebutnya.

“coba bapak bayangkan jika musibah itu terjadi terhadap keluarga kalian apa rasanya ” Kami memaklumi jika pernyataan tersebut dikeluarkan oleh lembaga advokasi lainnya, karena tentu dalam pandangan hukum tidak serta merta seseorang bisa dihukum mati, namun saat pernyataan tersebut dikeluarkan oleh sebuah lembaga yang seharusnya memberi perlindungan kepada anak dan perempuan ini sangat ironis,” Pungkas Barmawi.

Ia juga berharap, agar dalam keadaan begini seharusnya KPPA Aceh melakukan upaya pemulihan terhadap korban dan keluarganya baik pemulihan fisik maupun mentalnya bukan malah mengeluarkan statement yang menyakitkan si korban atau jika tidak mereka cukup diam saja ,” Kata Barmawi. (TB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here