PTPN VII Genjot “Operational Excellence!”

SumateraPost, BANDARLAMPUNG – Harga komoditas agro di pasar global selama lima tahun terakhir masih sangat fluktuatif dan relatif rendah dibandingkan pada era sebelum krisis. Situasi ini menjadi catatan krusial PTPN VII untuk menyiasati proses bisnis ke depan agar tidak bergantung kepada faktor ekternal tersebut. Memaksimalkan kinerja dan meningkatkan produktivitas menjadi pilihan sebagai opsi terbaik.

Dengan potensi yang sangat besar, perusahaan perkebunan milik negara INI TErus menggenjot kinerja dengan fokus kepada operasional unggul. Statemen itu disampaikan Direktur PTPN VII Doni P. Gandamihardja kepada wartawan di Bandar Lampung, pekan lalu. Ia mengatakan, perlambatan kinerja korporasi akibat melemahnya harga komoditas agro pada beberapa tahun lalu akan teratasi dengan perbaikan akselerasi kinerja.

Doni mengakui, krisis harga komoditas agro yang melanda seluruh dunia sangat berimbas kepada PTPN VII. Ia mengatakan, pada saat terjadi krisis, perusahaan di bawah PTPN III Holding ini sedang dalam proses transformasi tata nilai menuju yang lebih kompetitif. Hal itu karena ada perubahan visi dan misi perusahaan menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tuntutan pemerintah sebagai pemegang saham.

“Harus diakui, proses bisnis PTPN VII dan juga PTPN lainnya di Indonesia tak lepas dari sejarah misi perusahaan ini dibentuk. Dulu kita adalah kepanjangan tangan pemerintah untuk membangun dunia perkebunan di pelosok Tanah Air dalam rangka menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru. Sekarang bergeser harus menjadi korporasi yang menghasilkan devisa negara,” kata mantan Direktur Utama PTPN XIV ini.

Doni menambahkan, transformasi tata nilai dan orientasi bisnis sudah berjalan. Kini, dengan misi baru sebagai perusahaan yang profesional dan kompetitif, PTPN VII memasuki fase baru yang lebih menekankan kepada tradisi operasional unggul (operational excellence).

“Pilihan kepada operational excellence karena kita tidak bisa lagi berharap kepada kebaikan yang datang dari eksternal. Harga komoditas agro di pasar internasional selama beberapa tahun terakhir tidak ada pergerakan berarti. Artinya, kami harus eksis dalam posisi harga saat ini. Opsinya adalah perbaikan ke dalam,” tambah dia.
Namun demikian, dalam kondisi cash flow perusahaan yang sedang kurang baik, PTPN VII harus mencari alternatif baru dari sekadar memaksimalkan penggalian produksi. Ia mengatakan, bisnis komoditas agro memiliki risiko penyusutan nilai sangat aktif melebihi bisnis bidang lain. Keterlambatan investasi untuk penanaman ulang (replanting), kata dia, akan memperpanjang periode stagnasi produksi.

Secara umum, Doni mengatakan aset lahan milik PTPN VII yang berada di tiga provinsi (Lampung, Sumsel, dan Bengkulu) mencapai 130 ribu hektare. Namun, karena kelesuan bisnis agro secara global sehingga perusahaan belum bisa investasi replanting, lahan yang saat ini tergarap hanya sekira 80 ribu hektare.

Lahan yang menjadi tidur ini, selain tidak berproduksi juga menjadi beban biaya. Lebih dari itu, lahan belum termanfaatkan ini juga rawan dari gangguan oknum pihak-pihak lain yang mencoba mengganggu dengan melakukan penyerobotan dengan berbagai modus.

Restrukturisasi
Selain belum bisa investasi, perusahaan juga masih defisit keuangan untuk mengelola aset yang ada dan gaji karyawan. Oleh karena itu, PTPN VII melakukan beberapa langkah restrukturisasi menyeluruh untuk menguatkan posisi dalam menjalankan manajemen.

“Secara potensi, PTPN VII saat ini boleh diistilahkan sebagai macan yang sedang tidur. Kami masih punya prospek yang cerah, tetapi memang harus bekerja keras dan bersabar. Komoditas kelapa sawit dan karet sebagai komoditas utama cukup menjanjikan. Komoditas tebu (gula kristal putih) adalah tanaman semusim yang sangat dinamis dengan demmand dan harga yang cukup stabil. Sedangkan teh di Pagaralam masih punya masa depan,” kata dia.

Lima langkah restrukturisasi yang dilakukan PTPN VII ini meliputi seluruh aspek. Penataan fortofolio usaha menjadi aspek mendasar yang mendapat treatmen utama dalam program restrukturisasi di PTPN VII saat ini. Sebagai fondasi operasional usaha, posisi dan proporsi dalam pembagian beban tugas dan tanggung jawab berorientasi kepada pencapaian terbaik pada setiap level.
Potensi lain yang menjadi konsen PTPN VII adalah banyak aset perusahaan yang mengalami idle capacity. Di antara aset-aset tersebut sudah tidak selaras dengan core business sebagai perusahaan perkebunan dengan komoditas industri agro. Dalam program restrukturisasi perusahaan, aspek optimalisasi pemanfaatan aset menjadi salah satu faktor yang terus didorong.

“Kita punya banyak aset yang harus dioptimalkan dalam upaya untuk memberi nilai tambah kepada upaya mempercepat pemulihan perusahaan. Dalam program restrukturisasi, kami juga akan melakukan program disposal aset yang dinilai tidak produktif bagi core business kita. Selain tidak produktif, aset-aset yang masuk dalam program disposal ini juga membebani anggaran,” kata Doni.

Lebih lanjut, Doni menyebut operational excellence sebagai ruh utama dari program restrukturisasi. Sedangkan penataan organisasi dan SDM adalah program restrukturisasi yang menjadi energi utama penggerak akselerasi perusahaan segera bangkit.

“Kita punya kerangka nilai dasar yang diusung oleh Kementerian BUMN sebagai tata nilai progresif. Yakni, kata Akhlak yang merupakan singkatan dari amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif. Ini kita terjemahkan secara simultan dan diimplementasikan dalam manajemen. Salah satu yang terbaru adalah penataan organisasi beserta pengisian personelnya beberapa hari lalu. Ada yang promosi, mutasi, dan rotasi sebagai bagian dari dinamika organisasi. Semua mengacu kepada tata nilai profesional itu,” kata dia. (HUMAS PTPN VII)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here