Red t(H)ink, Semangat Tak Kunjung Padam Hartono

Hartono menatap lukisan karyanya bertajuk : Kidung Zaman yang mengingatkan agar dengan hati yang seluas samudra untuk mengasihi sesama dan memcintai Allah yang Maha Rahim. ( Chritian Saputro).

SumateraPost, Semarang – Pagebluk pandemi Covid -19 yang melanda Indonesia meluluhlantakkan semua sendi kehidupan. Gegara Covid – 19 yang terdampak tak hanya sendi perekonomian termasuk jagad seni dan kebudayaan. Seniman kehilangan garapan dan panggung. Langkah disrupsi rame-rame dilakoni tranforamsi dari jagat nyata ke dunia virtual. Kreativitas seniman ditantang untuk survive dalam menaja karyanya.

Pelukis Hartono dialiog tentang kesenian bersama seniman Semarang di Ruang Pameran Red t(H)ink di TBRS, Kamis (20/8) lalu (Chtistian Saputro)

Kondisi ini tak membuat Pelukis Semarang Hartono mati langkah. Meski Pameran Tunggalnya di Surabaya yang dirancang jauh-jauh hari batal. Menyambut tatanan new normal sekaligus mangahayu bagya Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke -75, pelukis Semarang Hartono kembali menaja pameran tunggal. Pameran tunggal ini didedikasikan Hartono sebagai sembah dan doa kepada ibu pertiwi muasal semangatnya dalam menggayuh karya.

Red t(H)ink” Pemantik Semangat Kebangsaan

Kali ini Hartono dalam pameran yang ditaja Dewan Kesenian Semarang (Dekase) membabar 7 lukisan karyanya dalam Pameran Tunggal bertajuk : “Red t(H)ink” di Pendopo Dekase, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya, Semarang, 17 – 22 Agustus 2020.

Hajat pameran ini sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan Republik Indonesia juga menyiapkan ruang apresiasi dan dialog bagi generasi muda dan pecinta kesenian di tengah globalisasi. Karya-karya lukisan yang ditaja dalam pameran ini merupakan wujud kasih dan semangat tak kunjung padam Hartono cinta pada ibu pertiwi bernama Indonesia. Karena dari darinyalah denyut nadi dan gerak kehidupannya bermuasal. “Meski sebait kata warna tak terucap. Selain nyawiji puji marang Gusti,” ujar Hartono bersyukur.

Tujuh karya lukis yang ditaja bertitimangsa 2009 – 2020 ,yaitu; Merah Putih, Akar Budaya, Exodus, Jatidiri, Bumi Matahari, Sang Pahlawan dan Kidung Zaman ini pun punya makna. Tujuh dalam bahasa Jawa Pitu (lungan) yang punya makna pertolongan dari Gusti Allah. Hartono selalu berserah kepada Gusti Murbening Dumadi. Setiap karya yang dipamerkan diyakininya sedang dalam proses meruang dan mengalir dalam sebuah wilayah kemerdekaan budaya. “Saya selalu membebaskan apresian untuk menikmati dan bebas menafsirkan dan memaknai karya-karya lukis yang yang saya pamerkan, “ ujar , Hartono yang aktif mengikuti pameran bersama berbagai komunitas baik di dalam negeri maupun luar negeri juga pernah menggelar Pameran Tunggal “Melukis Air” di TBRS, Semarang (2016), “Ekplorasi Dialogis”,Galeri Proses, Semarang (2017) dan “Kidung Zaman” dan Museum Ronggo Warsito, Semarang (2018) , “ Hyang Ibu” di TBJT, di Surakarta (2019).

Menurut pelukis kelahiran Sukoharjo, 10 Juli 1961 ini dalam pameran tunggalnya yang kelima ini, alasannya, mengusung tema “Red t(H)ink”, pertama mengingatkan pada semangat ting (lampu) atau dian yang tak kunjung padam penaka semangat kebhinekaan dan persatuan dalam berbangsa dan negara yang terus menyala. Kedua, red think, yang terdiri dari red yang berarti merah yang terus menyala dan think yang bermakna berpikir. “Harapannya lewat lukisan-lukisan yang saya pamerkan kali bisa memantik semangat persatuan dan kesatuan Bhineka Tunggal Ika yang didedahkan para founding father bangsa,” ujar Hartono.

Pemilik Galeri Proses Semarang ini, lewat karya-karyanya ini juga mengingatkan, bahwa, modal besar yang dimiliki bangsa Indonesia adalah akar budaya. “Untuk itu budaya bangsa yang harus dijaga dan diuri-uri agar tetap lestari ngremboko, bukan justru digerogoti dan dibombardir budaya banga lain,” tandas Magister Seni Rupa jebolan Universitas Negeri Semarang ini.

Hartono selain aktif melukis juga aktif bergiat di berbagai komunitas antara lain; Keluarga Sanggar Sanggar Seni Rupa Semarang (Ketua), Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jateng (Ketua), Ekspedisi Kapsul Waktu Jateng (Ketua), Dekranasda Jateng ( Ketua Bidang Pameran dan Forum Komunikasi Media Tradisional) dan Komiten Seni Budaya Nusantara Jateng (Sekretaris). Dalam kiprahnya dijagad kesenian atas prestasinya, Hartono juga meraih beberapa penghargaan dari Walikota Kota Se marang, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Direktur Kesenian, Pemuda Award KNPI Jateng dan Megawati Soekarno Putri.

Dalam gelaran pameran Red t(H)ink” di tengah momen kebuntuan gegara pandemi Covid -19 ini Hartono menghadirkan katarsis dan semangat untuk tetap berkarya. Itulah pesan yang tersirat dalam karya-karya Hartono dalam pameran tunggalnya bertajuk : Red t(H)ink”, semangat yang tak pernah padam terus didedahkan Hartono. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here