BANDAR LAMPUNG — Suatu sore di Bandar Lampung, suara gamelan terdengar lirih dari sebuah ruang latihan. Di sudut ruangan, seorang lelaki berambut memutih memperhatikan gerak para penari muda dengan tatapan tajam namun lembut. Sesekali ia menghentikan irama, memperbaiki posisi tangan seorang penari, lalu berpindah ke seperangkat alat musik untuk mengatur tempo. Beberapa saat kemudian, ia mengambil pensil dan membuat sketsa cepat di atas kertas.
Lelaki itu adalah Rusli Syukur.
Di usianya yang telah melampaui enam dekade, Rusli tidak memilih satu jalan. Ia memilih tiga sekaligus: tari, musik, dan seni rupa. Dan hingga hari ini, ia masih bergerak dari satu dunia seni ke dunia lainnya dengan kelincahan seorang murid. Bukan guru besar yang duduk di singgasana, melainkan murid yang tak pernah puas. Sebab, baginya, kalimat “Tidak ada orang terlalu tua untuk belajar” bukan sekadar slogan di dinding, melainkan jalan hidup.
Rusli lahir di Teluk Betung pada 18 April 1962, ketika Lampung masih tumbuh sebagai daerah yang sibuk menerima arus manusia dari berbagai penjuru Nusantara. Ia tumbuh di tengah perjumpaan budaya, mendengar cerita adat dari para tetua, dan menyaksikan denyut kehidupan masyarakat Lampung yang kaya simbol. Barangkali sejak saat itulah benih kesenian mulai tumbuh, mengakar kuat sebelum akhirnya mekar di tanah yang lebih luas.
Ia meninggalkan Lampung untuk mengejar mimpi di Yogyakarta, kota yang pada dekade 1980-an menjadi magnet bagi pencari seni. Di STSRI Yogyakarta—kini Institut Seni Indonesia—dan kemudian di Padepokan Seni Bagong Kusudiardja, Rusli menempa dirinya. Yogyakarta saat itu adalah laboratorium kebudayaan; ruang diskusi yang nyaris tak pernah tidur, tempat seniman, penyair, dan pemusik saling mengasah ide.
Di bawah pengaruh maestro tari Bagong Kusudiardja, Rusli menemukan bahasa artistiknya sendiri: berakar kuat pada tradisi Lampung, tetapi tidak takut berdialog dengan dunia modern. Ia belajar bahwa tradisi bukan benda mati yang dikurung di museum. Tradisi adalah entitas hidup yang harus terus bergerak, diperdebatkan, dan diciptakan ulang agar tetap relevan.
Jembatan Antara Lampung dan Dunia
Tahun 1987 menjadi titik balik. Rusli mengikuti program seni pertunjukan di Köln, Jerman. Bagi banyak seniman daerah saat itu, Eropa adalah dunia yang jauh dan asing. Namun bagi Rusli, perjalanan itu justru membawa paradoks menarik: semakin jauh ia pergi, semakin kuat ia merasa dekat dengan Lampung.
Dari Jerman, jejaknya meluas ke Prancis, Belanda, Swedia, Turki, Australia, Amerika Serikat, hingga negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Ia melihat museum-museum besar dan teater-teater modern. Namun, di antara gedung-gedung megah itu, yang selalu ia bawa pulang adalah kenangan tentang kain tapis, tabuhan tradisional, dan gerak tari warisan leluhur.
Banyak seniman dikenal karena satu keahlian. Rusli adalah pengecualian. Ia seorang koreografer yang menata gerak, pemusik yang mengatur bunyi, dan perupa yang berbicara melalui warna. Ketika menciptakan pertunjukan, ia tidak hanya memikirkan koreografi. Ia memikirkan musik pengiring, tata visual, hingga pesan budaya. Baginya, seni adalah satu kesatuan utuh: gerak mempunyai warna, warna mempunyai bunyi, dan bunyi memiliki cerita.
Karya-karyanya kerap terasa sebagai pengalaman budaya, bukan sekadar tontonan. Ia mengangkat nilai-nilai masyarakat Lampung—penghormatan kepada leluhur, gotong royong, dan harmoni dengan alam—tanpa menjadikannya kaku. Tradisi dalam tangan Rusli adalah sesuatu yang hidup, terus berbicara kepada zaman.
Namun, pengabdian Rusli tidak berhenti di panggung. Ia bekerja di belakang layar: membina mahasiswa, menggerakkan komunitas, hingga memproduksi program televisi budaya “Tiyuh Budaya” selama satu dekade. Peran-peran ini mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan panjang, tetapi justru di situlah kerja kebudayaan sesungguhnya berlangsung: membangun ruang belajar, menumbuhkan generasi baru, dan menjaga api tetap menyala.
Kini, ketika banyak orang seusianya memilih masa pensiun, Rusli justru kembali aktif berpameran. Ia memahami bahwa tantangan kebudayaan hari ini berbeda. Dulu tantangannya adalah keterbatasan akses; kini tantangannya adalah banjir informasi global. Tetapi Rusli tidak melihatnya sebagai ancaman, melainkan ruang dialog baru. Sebab baginya, budaya tidak mati karena perubahan. Budaya mati ketika orang berhenti merawatnya.
Di rumahnya di Bandar Lampung, di antara tumpukan sketsa dan alat musik, Rusli Syukur tetap bekerja seperti murid yang belum selesai belajar. Ia tidak berusaha menjadi monumen. Ia memilih menjadi jembatan. Jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, menghubungkan Lampung dengan dunia.
Tuping Khua Belas: Wajah-Wajah Perlawanan dari Tanah Kalianda
Salah satu manifestasi jembatan itu terlihat jelas dalam karya lukisannya yang berjudul “Tuping Khua Belas: Wajah-Wajah Perlawanan dari Tanah Kalianda”. Karya ini bukan sekadar representasi visual, melainkan penggalian sejarah dan identitas yang dalam.
Di pesisir selatan Lampung, tepatnya di Kalianda, hidup tradisi Tuping Khua Belas—dua belas topeng dengan karakter berbeda yang hingga kini menjadi bagian penting identitas budaya setempat. Bagi masyarakat Kalianda, Tuping bukan sekadar benda pertunjukan. Ia adalah warisan leluhur yang menyimpan kisah perjalanan zaman, sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang.
Dalam ingatan kolektif masyarakat, Tuping pernah menjadi alat strategi perjuangan. Konon, pada masa perlawanan Radin Inten, para pejuang memanfaatkan pertunjukan Tuping sebagai sarana penyamaran. Dengan mengenakan topeng dan menampilkan atraksi rakyat, mereka dapat bergerak leluasa memasuki wilayah pengawasan penjajah. Di balik gelak tawa penonton, tersimpan tugas mulia: mengumpulkan informasi musuh. Seni pertunjukan berubah menjadi alat perlawanan; topeng-topeng jenaka menyembunyikan keberanian para pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi kebebasan.
Nama Khua Belas merujuk pada dua belas karakter topeng yang masing-masing memiliki bentuk dan sifat unik. Ada Irung Bingkok dengan hidung melengkung mencolok, Balak Irung dengan hidung besar yang menggambarkan ketegasan, serta Balak Banguk dengan mulut besar yang ekspresif sekaligus mengintimidasi. Ada pula karakter yang merepresentasikan figur orang Belanda, sebagai refleksi kritis terhadap kekuasaan kolonial.
Keberagaman karakter ini menunjukkan kemampuan masyarakat Lampung dalam merekam realitas sosial melalui simbol visual. Setiap wajah adalah representasi sifat manusia, kritik sosial, dan cermin kehidupan zamannya. Hingga kini, sebagian masyarakat Kalianda masih mempercayai bahwa setiap Tuping memiliki kekuatan magis tertentu, sehingga diperlakukan dengan hormat.
Melalui lukisan “Tuping Khua Belas”, Rusli Syukur mengabadikan gema langkah para pejuang di balik topeng-topeng tersebut. Ia mengingatkan kita bahwa seni tidak selalu lahir untuk hiburan semata. Dalam sejarah Lampung, seni pernah menjadi benteng yang menjaga ingatan kolektif.
Hari ini, ketika suara meriam penjajah telah lama hilang, Tuping Khua Belas tetap bertahan sebagai penanda identitas. Dan melalui kuas Rusli, wajah-wajah perlawanan itu terus bercerita tentang keberanian, kecerdikan, dan semangat rakyat Lampung yang tidak pernah tunduk.
Rusli Syukur, lewat tari, musik, dan lukisannya, memastikan bahwa napas kebudayaan Lampung terus terdengar—mengalun dalam musik, bergerak dalam tari, dan hidup abadi dalam warna-warna yang ia goreskan di atas kanvas. (Christian Saputro)




