Saatnya Mahasiswa Ekonomi Berikan Bukti Nyata Melalui Sociopreneurship, Bukan Hanya Wacana!

Oleh : Nurmala Aziza
(UIN STS Jambi)

SumateraPost – Mahasiwa merupakan panggilan bagi seseorang yang sedang menempuh pendidikan tinggi atau yang biasanya disebut dengan universitas. Mahasiswa juga seringkali disangkut pautkan dengan kata “Agent Of Change”.

Dikarenakan dengan kata “maha” yang berarti besar, masyarakat percaya bahwasanya mahasiswa mampu membawa perubahan sehingga dapat merubah kesejahteraan bagi masyarakat dengan berbagai ilmu yang telah ia pelajari, terutama dalam permasalahan kemiskinan dan pengangguran.

Data BPS menunjukkan bahwasanya penduduk miskin pada September 2019 tercatat sebesar 24,79 Juta orang, sedangkan jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2019 tercatat sebesar 7,05 Juta orang. Dengan begitu peran mahasiswa ekonomi dibutuhkan dalam menangggulangi kemiskinan dan pengangguran. Saatnya memberikan bukti nyata, bukan hanya wacana!
Namun bagaimana caranya?
Dengan menjadi sociopreneur.

Sociopreneur ialah suatu usaha yang tidak hanya menguntungkan diri pribadi namun juga menguntungkan masyarakat setempat dikarenakan ada unsur sosial didalamnya.

Dilansir dari www.beritasatu.com. Direktur Pengembangan Pasar Ditjen Binapenta & PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Republik Indonesia (RI) Roositiawati menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang mendapat bonus demografi dan jika tidak dikelola dengan baik akan meningkatkan angka pengangguran. Meski demikian angka pengangguran selama lima tahun terakhir tercatat mengalami penurunan di mana kontribusi terbesar dari penurunan pengangguran berasal dari tumbuhnya socio-enterprise di Indonesia.
Dengan begitu, mahasiswa yang terutama jurusan Ekonomi dapat menanggulangi permasalahan ini dengan cara menjadi sociopreneur. Ada mahasiswa yang berjiwa entrepreneur namun tidak berjiwa sosial. Ada mahasiswa yang berjiwa sosial namun tidak berjiwa entrepreneur. Sehingga mahasiswa didorong agar mampu menumbuhkan jiwa entrepreneur dan sosial.

Dilansir dari reportaserakyat.com. Ada 4 nilai utama yang harus dimiliki sociopreneur adalah : Social Value (nilai sosial), Civil Society (Lingkungan Masyarakat), Inovation (Inovasi), dan Economic Aktivity (Kegiatan Ekonomi). Utomo dalam tulisannya menyatakan di Indonesia, wirausaha sosial tumbuh dengan cepat seiring dengan keyakinan bahwa kewirausahaan sosial dapat mengatasi masalah-masalah sosial. (H. Utomo, Menumbuhkan Minat Kewirausahaan Sosial. Among Makarti, Vol. 7, No. 14, 2014, hlm: 1-16.).

Dilansir dari marketers.com. Kepada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf memprediksi ketika pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia terus meningkat secara konsisten, berpotensi untuk membawa Indonesia sebagai negara nomor empat dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050. Saat ini munculnya tokoh-tokoh dalam industri kreatif turut serta menumbuhkan semangat di kalangan muda untuk melakukan hal yang serupa, yakni menghadirkan inovasi produk dan layanan dalam industri kreatif. Salah satu yang saat ini menjadi fokus baik bagi pemerintah dan kalangan kreatif adalah hadirnya sosok wirausahawan dalam bidang sociopreneurship.

Badan Ekonomi Kreatif terus memperkenalkan program dengan gerakan wirausaha sosial (sociopreneurship), yang bertujuan untuk mengatasi masalah sosial-ekonomi di Indonesia.

Maka dari itu, harapannya mahasiswa terutama yang bergerak dibidang ekonomi mampu memberikan aksi nyata kepada bangsa dan negara melalui Sociopreneur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here