Sakoni Warga Desa Kiajaran Kulon Diduga Melecehkan Profesi Wartawan Akan Dipolisikan

“Sebenarnya aku minat jadi wartawan. Tapi hati kecil ku menolak. Aku jadi wartawan takut kpd alloh swt. Tatkala nanti jika aku mati masuk nerakanya paling dasar. Dan atau neraka jahanam. Demikian tandasnya”

Sumterapost.co. Kalimat itu unggahan di media sosial Facebook dengan akun Oni-Oni Sakoni warga Blok Telukan Desa Kiajaran Kulon Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu Sabtu (10/4/2021) ada komentarnya di akun Facebook Muhammad Yadi Tjakradinata.

Menyikapi unggahan tersebut bahwa wartawan menyamakan jika meninggal dunia masuk neraka paling dasar, meskipun menyebutkan pada dirinya. Namun jika diartikan secara luar bahwa wartawan tetkala meninggal akan masuk neraka jahanam.

Sebagai profesi wartawan hal ini akan kami tindak lanjuti sebagaiman proses hukum terkait UU ITE agar yang bersangkutan memberikan penafsiran yang lebih jelas dan dapat dipertanggung jawabkan sebagaiman yang telah diundangkan.

Pihak pemilik akun M. Yadi Tjakradinata Teleh berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas dan Perangkat Desa Kiajaran Kulon, menyangkut status kependudukan Sakoni (oni-oni sakoni). Dan dibenarkan Sakoni merupakan warga Desa Kiajaran Kulon blok Telukan.

Baca Juga :  Destinasi Kawasan Puncak Terjadi Penurunan, Dampak Penyekatan Larangan Mudik

“Menurut saya unggahan atas nama Oni-oni Sakoni dinilai telah melakukan tindakan yang menimbulkan keresahan dan penghinaan terhadap profesi wartawan” terang Yadi.

Selanjutnya, untuk menjaga nama baik profesi wartawan hal ini akan dilanjutkan membuat LP ke Polres Indramayu untuk dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. “Saya minta dukungan terhadap semua wartawan, jangan sampai ada yang merendahkan atau menghina profesi siapapun itu orangnya, lembaga atau instansi” tegasnya.

Dalam UU ITE Pasal 28 Ayat 2, setiap orang dilarang “dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Berbagai sumber menjelaskan.

Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”).

Baca Juga :  PPKM Skala Mikro, Ade Yasin Sholat Idul Fitri di Mushola Rumah Dinas

Unsur dengan sengaja dan tanpa hak selalu muncul dalam perumusan tindak pidana siber. ‘Tanpa hak’ maksudnya tidak memiliki alas hukum yang sah untuk melakukan perbuatan yang dimaksud. Alas hak dapat lahir dari peraturan perundang-undangan, perjanjian, atau alas hukum yang lain. ‘Tanpa hak’ juga mengandung makna menyalahgunakan atau melampaui wewenang yang diberikan.

Sebenarnya, tujuan pasal ini adalah mencegah terjadinya permusuhan, kerusuhan, atau bahkan perpecahan yang didasarkan pada SARA akibat informasi negatif yang bersifat provokatif. Isu SARA dalam pandangan masyarakat merupakan isu yang cukup sensitif. Oleh karena itu, pasal ini diatur dalam delik formil, dan bukan delik materil.

Baca Juga :  Polsek Cariu Gelar Operasi Yustisi dan PPKM, Hasilnya Warga Tak Sepenuhnya Disiplin

Penerapannya adalah apabila seseorang menuliskan status dalam jejaring sosial informasi yang berisi provokasi terhadap suku/agama tertentu dengan maksud menghasut masyarakat untuk membenci atau melakukan anarki terhadap kelompok tertentu, maka Pasal 28 ayat (2) UU ITE ini secara langsung dapat dipergunakan oleh Aparat Penegak Hukum (“APH”) untuk menjerat pelaku yang menuliskan status tersebut.

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Ujaran kebencian mencakup spektrum yang luas, mulai dari ucapan kasar terhadap orang lain, ucapan kebencian, hasutan kebencian, perkataan bias yang ekstrim, sampai hasutan kebencian yang berujung pada kekerasan. (Tim).

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here