Semarang — Pagi belum benar-benar selesai merapikan cahaya ketika The Suri Ballroom Semarang membuka hari dengan suasana yang tak biasa. Kamis, 29 Januari 2026, ruang yang lazim dipakai seminar dan pertemuan itu berubah menjadi pelabuhan batin, menyambut rangkaian Seminar Nasional Pengusulan Kyai Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional.
Bukan deru ombak yang terdengar, melainkan desir doa, kidung sunyi, dan langkah-langkah tubuh yang bergerak perlahan. Ingatan kolektif pun dituntun kembali kepada sosok ulama besar Semarang: Kyai Sholeh Darat. Pagi itu, sejarah tidak dibacakan dari podium, melainkan dihadirkan melalui tubuh, suara, dan keheningan.
Pentas teatrikal “Labuhan Kyai Sholeh Darat” persembahan Teater Sambung bukan sekadar peristiwa seni. Ia tampil sebagai upacara. Sebuah labuhan—persembahan simbolik—yang melarung ego, pengetahuan, dan serpih sejarah ke samudra kesadaran. Di atas panggung, teks tidak berdiri kaku sebagai dialog, melainkan menjelma napas dan mantra, bergerak dari tubuh ke tubuh, dari masa lalu menuju hari ini.
Naskah karya Agus Tiyanto Suryonegoro, disutradarai dengan kepekaan sunyi oleh Farid Sobri, dan diproduseri Muhammad Ichwan, menghadirkan Kyai Sholeh Darat bukan sebagai figur yang dibingkai kaca museum. Ia dihidupkan sebagai denyut yang terus bergetar. Ulama yang mengajarkan Islam dalam bahasa rakyat, memilih aksara Jawa agar ilmu tak terasing dari tanahnya sendiri. Dalam pementasan ini, sejarah tidak diceramahkan—ia dirasakan.
Musik garapan Imran Amirullah dan Mere Nauval mengalir seperti gelombang pasang-surut. Kadang lirih menyerupai wirid subuh, kadang menghentak seperti badai batin. Nada-nada itu tidak sekadar mengiringi adegan; ia menjadi adegan itu sendiri—suara waktu, suara rindu, suara keheningan yang berbicara.
Deretan pemain—Ustaz Amin, Eko Basuki, Duto Sasmita, Mbah Mung, Khafidin Beno Siang Pamungkas, Madezzu Lee, Mahranazih, Rahmi Faidah, Syamsul Ma’arif, Fitria Ulfa, Lely Siang Pamungkas, Slamet, dan Mbah Supri—menghadirkan fragmen-fragmen jiwa. Tak ada tokoh yang berdiri sendiri. Mereka saling menyilang, seperti huruf-huruf pegon yang merangkai makna bersama.
Narasi dipandu suara Lukni Maulana, sementara pidato reflektif Ihung mengikat peristiwa artistik ini dengan realitas sosial hari ini.
Riasan karya Ida Misbahatul Hidayati tidak menebalkan karakter, justru meluruhkannya. Wajah-wajah manusiawi dibiarkan tampil apa adanya: rapuh, bertanya, dan berserah. Inilah teater yang tidak ingin menggurui, melainkan mengajak penonton menyelam.
“Labuhan Kyai Sholeh Darat” menjadi
pengingat bahwa pengetahuan sejati selalu menemukan jalan pulang. Bahwa agama dapat hadir dengan bahasa ibu, dengan kelembutan, dengan kesetiaan pada rakyat kecil. Di tengah zaman yang gaduh oleh teriakan dan klaim, pentas ini memilih berbicara pelan—dan justru karena itu, gema maknanya terasa lebih lama.
Ketika tirai imajiner ditutup, penonton tidak sekadar bertepuk tangan. Mereka pulang membawa sesuatu yang sulit dinamai: mungkin kesadaran, mungkin kerinduan, mungkin keberanian untuk kembali membaca dunia dengan aksara hati.
Sebab labuhan sejatinya bukan tentang apa yang dilarung ke laut, melainkan tentang apa yang ditinggalkan di dada. (Christian Saputro)




