“Sang Panggung”, Kisah Seni Tradisi yang Tergusur Globalisasi

Sutradara lakon "Sang Panggung" Sindhunata Gesit Widharto yang juga berperan sebagai dalang dan Denmas Eko ( Christian Saputro)

SumateraPost, Semarang – The Show Must Go On. Jangka harus dijangkah. GeGB gara pagebluk pandemi Covid -19, tak lantas berhalangan pentas. Di era disrupsi ini Teater Lingkar kembali menggelar pentasnya secara daring. Gegara Covid – 19 manusia dengan dukungan teknologi memindahkan aktivitas kehidupanya di panggung digital semisal You Tube. Ini merupakan pentas secara daring kedua yang digelar teater Lingkar, yang pertama, digelar di Gedung Rajawali Semarang Cultural Centre (RSCC) mengusung lakon “Orang Kasar” (Orang-orang Kasar Penagih Hutang) karya Anton Chekov adaptasi WS Rendra dengan sutradara Maston Lingkar.

“Sang Panggung” yang digarap dengan gaya sampakan menjadi hiburan yang menarik dan memikat (Christian Saputro)

Pementasan kali ini sekaligus merupakan karya yang diajukan sebagai Tugas Akhir Program S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sutradara Sindhunata Gesit Widharto, S.Sn yang juga salah satu aktor Teater Lingkar.

Pentas yang mengusung lakon “Sang Panggung” karya sutradara Sindhunata Gesit Widharto, S.Sn digelar di Pusdiklat Teater Lingkar, Perumahan Kini Jaya, Gemah Sari VIII 305, Semarang. Markas Teater Lingkar berukuran sekira 60 meteran disulap menjadi studio pentas daring. Studio disetting menjadi panggung besar yang dibagi menjadi empat panggung kecil.

Era globalisasi memghadirkan kampung global yang menggusur seni tradisi warisan leluhur yang sarat kearifan lokal (Christian Saputro)

Naskah lakon bertajuk : “Nyi Panggung” karya Eko Tunas diadaptasi oleh sutradara Sindhunata Gesit Widharto, S.Sn menjadi “Sang Panggung”. Pendukung lakon pementasan”Sang Panggung”, Nyi Gadhung Mlathi, Dalang/Dimas Eko, Jabrud, Paimin, Laras/Loro Jongrang, Banhot/Bhandung Bondhowoso, Bodrek/Prabu Boko, Darbol, Poleng,Jujuk, Tukang Pijat, Drajit, Penari dan Penonton. Sedangkan ilustrasi musik digarap bersama mahasiswa ISI Surakarta dan Teater Lingkar, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sebelum pementasan ditaja , Sindhunata mengatakan, kalau dalam “Nyi Panggung” hanya satu pemeran (Nyi Panggung) yang jadi fokus cerita atau daya tarik cerita, tetapi dalam “Sang Panggung” besutannya, semua pemain punya peran sesuai dengan tokoh yang dimainkannya. “Jadi pementasan “Sang Panggung” ini lebih kompleks, meriah, dan menarik, apalagi naskah ini saya garap dengan konsep sampakan,” beber Sindu sebelum pementasan.

Konsep pergelaran “Sang Panggung” ini dalam bentuk perpaduan antara pakeliran wayang kulit, tari, teater tradisi dalam satu panggung besar yang terbagi dalam empat panggung kecil. Panggung kesatu,area Sang Dalang, panggung kedua,area siluet Sang Dalang, panggung ketiga, area tari dan area keempat tobong ketoprak Eko Mardhika.

Lakon “ Sang Panggung” mengisahkan mengisahkan kehidupan seni tradisi yang semakin terdesak kekuatan media elektronik. Era digital menjadikan kampung global, media elektronik membombardir hingga pelosok-pelosok desa, bahkan hingga ruang-ruang privat. Pola pikir kekinian yang tak memandang kearifan dan nilai luhur seni budaya warisan leluhur makin terdesak. Apalagi kaum kapitalis yang hanya mementingkan dirinya sendiri juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Dikisahkan, Denmas Eko, pemilik tobong ketoprak Eko Mardhika yang didukung awak pelaku seni tradisi mencoba untuk bertahan hidup dengan segala daya upayanya. Dialog-dialog dalam pementasan ini merupakan persoalan-persoalan kehidupan keseharian anak panggung juga narasi kegelisahan tentang keberlangsungan kehidupan seni tradisi yang selama ini digelutinya.

“Pergelaran lakon “Sang Panggung” ini sarat muatan moral. Sang–adalah sesuatu yang terhormat. Panggung dalam hal ini merupakan ruang yang tak terbatas dan sebagai tempat dalam menumbuhkembangkankreativitas seni tradisi yang elok, agar tak tergusur di era milenial ini,” ungkap Sindhunata .

Lebih lanjut, Sindhunata, mengatakan, seharusnya, era globalisasi memberikan inpirasi positif bagi masyarakat Indonesia.” Era globalisasi harus disikapi dengan kemampuan yang kompetitif di kalangan pelaku seni agar dapat bersaing secara sehat di forum Internasional. Kalau kita tak ingin tergusur. Ini pesan yang ingin disampaikan dari pementasan ini,” ujar Sindhunata yang juga piawai mendalang ini. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here