Bandungan – Di Jimbaran, Bandungan, lereng Gunung Ungaran tidak hanya menyimpan hawa sejuk dan kabut yang turun perlahan. Di sana, di antara sunyi desa dan desir angin pegunungan, berdiri sebuah ruang laku bernama Sanggar Candi Busana Blater—tempat di mana ajaran Sapta Darma dijalani bukan sebagai wacana, melainkan sebagai napas kehidupan.
Sanggar ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah penanda perjalanan batin, lahir dari tuntunan agung kerohanian Sapta Darma, dan dihadirkan sebagai tempat sujud, semedi, serta penggemblengan budi pekerti warga penghayat.
Muasal dan Peresmian
Sanggar Candi Busana Blater diresmikan pada Minggu Kliwon, bertepatan dengan 18 Suro 1922 Jawa, sebuah penanggalan yang sarat makna dalam tradisi kebatinan Jawa. Peresmian ini menandai dimulainya laku bersama di sebuah tempat yang diniatkan suci—bukan karena bangunannya, melainkan karena tujuannya.
Secara administratif, Sanggar Candi Busana Blater tercatat berdiri pada 20 Agustus 1989, di kawasan Blater, Jimbaran, Bandungan, Kabupaten Semarang. Peresmian dan penghadirannya dipangku oleh Ibu Sri Pawenang, yang dalam ingatan warga Sapta Darma setempat dikenang sebagai sosok pengemban tuntunan, penjaga laku, sekaligus ibu spiritual bagi perjalanan sanggar ini.
Dwi Setiyani Utami menjelaskan dalana acara Semai, Minggi 11 Januari 2026 nama “Candi Busana” mengandung makna simbolik: candi sebagai tempat pemusatan kesadaran, dan busana sebagai perlambang perilaku. Artinya, manusia diajak membangun candi di dalam dirinya sendiri, dan membungkus hidupnya dengan busana budi pekerti.
Sesanti: Bersinar Laksana Surya
Sanggar Candi Busana Blater hidup di bawah satu sesanti yang sederhana, namun dalam maknanya:
“Di mana saja, kepada siapa saja,
Warga Sapta Darma harus bersinar laksana surya.” ujarnya.
Ditambahkannya, sesanti ini bukan ajakan untuk menonjolkan diri, melainkan panggilan untuk menerangi sekitar—dengan kejujuran, kesantunan, dan pengabdian. Surya tidak memilih siapa yang disinarinya; demikian pula warga Sapta Darma diajarkan untuk memberi manfaat tanpa pamrih.
Wewarah Tujuh: Fondasi Laku
Di Sanggar Candi Busana Blater, Wewarah Tujuh bukan sekadar dihafalkan. Ia dijalani sebagai jalan hidup. Tujuh kewajiban ini menjadi fondasi setiap laku warga Sapta Darma:
Setia tuhu kepada Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa, Maha Langgeng.
Dengan jujur dan suci hati, setia menjalankan perundang-undangan negaranya.
Turut mengingsingkan lengan baju demi tegaknya nusa dan bangsa.
Menolong siapa saja bila diperlukan, dengan kekuatan diri sendiri yang berlandaskan kepercayaan kepada Tuhan.
Bersikap susila dalam kehidupan bermasyarakat dan kekeluargaan, halus budi pekertinya, serta membawa rasa tenteram.
Menjadi penunjuk jalan yang mengandung jasa dan memberi kepuasan batin.
Meyakini bahwa dunia tidak abadi, melainkan selalu berputar dan berubah (Anyakra Manggilingan).
Nilai-nilai inilah yang menghidupkan sanggar—bukan tembok, bukan penanda, melainkan manusia yang melakoninya.
Ruang Sunyi, Jembatan Generasi
Dalam praktiknya, Sanggar Candi Busana Blater menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Para sesepuh menurunkan ingatan tentang laku kebatinan Jawa, sementara generasi muda datang dengan rasa ingin tahu. Di sana ada sujud dalam hening, ada semedi, ada wejangan tentang hidup yang tidak tergesa-gesa.
Pada malam-malam tertentu, sanggar kembali pada hakikatnya: sunyi. Doa dilantunkan lirih. Tak ada pengeras suara. Tak ada tepuk tangan. Yang ada hanya manusia yang sedang belajar mengenali dirinya sendiri.
Penjaga Laku di Tengah Zaman
Hingga kini, Sanggar Candi Busana Blater tetap dipangku dan dirawat oleh warga Sapta Darma setempat, melanjutkan tuntunan yang diwariskan sejak awal berdirinya. Ia tidak mengejar pengakuan, tidak pula berlomba menjadi pusat perhatian. Ia cukup hadir—menjadi ruang aman bagi siapa saja yang ingin menata batin.
Di tengah Bandungan yang tumbuh sebagai kawasan wisata, Sanggar Candi Busana Blater berdiri sebagai pengingat: bahwa keindahan bukan hanya soal pemandangan, tetapi kedalaman makna hidup.
Seperti surya yang terbit tanpa suara, sanggar ini terus bersinar—pelan, setia, dan tanpa pamrih.
(Christian Saputro)




