Oleh Udo Z. Karzi
Capek benar rasanya. Setelah peluncuran buku, menyusun manuskrip sastra lokal, mendampingi roadshow literasi, menjadi juri, mengikuti diskusi, pelatihan, dan berbagai kegiatan yang hampir semuanya berbicara tentang lokalitas, kearifan lokal, dan sastra. Capek yang bukan semata fisik, tetapi capek batin.
Saat ingin beristirahat, saya membaca sebuah esai tentang sastrawan yang diminta untuk dimuliakan. Permintaan yang terdengar mulia, tetapi terasa jauh dari kenyataan. Sebab, di lapangan, sastra justru semakin terpinggirkan—bahkan dari dunia pendidikan yang katanya mengusung gerakan literasi.
Di sekolah-sekolah, saya tak menemukan perpustakaan yang sungguh hidup. Buku sastra nyaris tak ada. Anak-anak datang ke perpustakaan bukan untuk membaca, melainkan mencari pendingin ruangan. Puisi “Aku” Chairil Anwar tak pernah mereka sentuh. Nama-nama besar sastra Indonesia hanya bunyi asing. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena sastra memang tak dihadirkan.
Lalu saya sadar, barangkali saya terlalu berharap. Literasi yang digembar-gemborkan sejak satu dekade lalu rupanya tak benar-benar memeluk sastra. Enam literasi dasar disebut-sebut, tetapi puisi, cerpen, novel, drama, dan esai sastra entah di mana posisinya. Bahkan ada yang berani berkata, “Sastra itu bukan literasi.” Tepok jidat.
Padahal sastra adalah kerja nurani. Ia mengasah empati, mengganggu kenyamanan, dan kerap menjadi lawan sunyi dari kekuasaan yang bengkok. Mungkin itu sebabnya sastra tak disukai: karena ia membuat orang sulit berdusta pada dirinya sendiri.
Saya hanya pembaca sastra yang sesekali menulis. Bertahun-tahun menjaga rubrik sastra, mengurus sastra, dan tetap saja harus menjelaskan mengapa sastra penting. Namun dunia makin praktis, pragmatis, dan materialistis. Sastra dianggap rumit, ambigu, dan tak menghasilkan apa-apa.
Akhirnya saya paham: sastra tak sedang dicari. Ia dibiarkan hidup sendiri. Sastrawan pun diminta bertahan dengan tepuk tangan dan pujian, tanpa pembaca yang sungguh membaca, tanpa pembeli buku yang nyata. Padahal, kemuliaan sastrawan paling sederhana adalah ketika karyanya dibaca dan dibeli.
Kusut. Entah harus mulai dari mana mengurainya. Barangkali memang begini nasib sastra: terus berjalan dalam sunyi, sambil berbisik lirih pada siapa saja yang masih mau mendengar.
Ai kidah.
—
Udo Z. Karzi, tukang tulis saja




