Seminar STEBI Liwa Dr. H. Fauzi Paparkan Mengoptimalkan Potensi Wakaf

Sumaterapost.co | Liwa – Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Islam (STEBI) Liwa Lampung Barat menghadirkan Wakil Bupati Pringsewu Periode 2017 – 2022 Dr. H. Fauzi.ME.M.Kom.A.Kt.,C.A., CMA. Dalam seminar yang di gelar di kampus setempat, Jum’at, (17/6) lalu.

Pada seminar yang diikut Ketua, para dosen dan mahasiswa STEBI Liwa,.Dr. H. Fauzi, S.E., M.E., M.Kom.,Akt,. C. A., CMA, yang juga sebagai,

Pendiri Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI), mengiupas tentang Mengoptimalkan Potensi Wakaf,

Menurutnya, Wakaf merupakan ibadah yang berdimensi sosial yang cukup penting bagi kesejahteraan umat.

Berdasarkan sejarah, wakaf telah berkontribusi besar dalam meningkatkan kesejahteraan umat, baik melalui bidang pendidikan, kesehatan, sosial, maupun kegiatan keagamaan.

Menurut Istiqomah dan Syahrir (2021), di tengah permasalahan sosial masyarakat Indonesia dan tuntutan akan kesejahteraan, eksistensi wakaf menjadi sangat strategis. Di samping sebagai salah satu aspek ajaran Islam yang berdimensi spiritual, wakaf juga merupakan ajaran yang menekankan pentingnya kesejahteraan ekonomi.papar Dr. H. Fauzi.

 

Menurut Tokoh Pendidikan ini, Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, Indonesia memiliki potensi yang begitu besar di bidang perwakafan. Dengan dorongan agama dan terwujudnya kesejahteraan sosial, perwakafan di Indonesia terus mengalami perkembangan signifikan.

Baca Juga :  Acara Pembinaan Peningkatan Kapasitas Peratin Kabupaten Lampung Barat

 

Jika merujuk data Badan Wakaf Indonesia (BWI), Indonesia memiliki potensi wakaf uang sebesar Rp 180 triliun. Namun, yang dihimpun oleh BWI baru sekitar Rp 860 triliun. Itu artinya, “Pengumpulan wakaf uang belum mencapai 50 persen”. Sementara potensi wakaf tanah di Indonesia mencapai 56.134.75 hektar yang tersebar di 428.820 lokasi. Ujar Dr. H. Fauzi.

 

Potensi wakaf tanah ini juga belum sepenuhnya dimanfaatkan secara produktif karena keterbatasan dana. Meskipun demikian, kita tetap bersyukur karena dari tahun ke tahun perwakafan Indonesia menunjukkan tren positif.

 

Badan Wakaf Indonesia melalui Pusat Kajian dan Transformasi Digital (PKTD) resmi meluncurkan Laporan Indeks Wakaf Nasional (IWN) 2021. Laporan IWN ini menjadi laporan kinerja pengelolaan wakaf nasional pertama dan menjadi alat ukur kinerja perwakafan pertama di dunia. Dalam laporan Indeks Wakaf Nasional 2021 menunjukkan bahwa nilai IWN secara nasional mengalami kenaikan, dari 0,123 pada tahun 2020 menjadi 0,139 pada tahun 2021.

Meskipun peningkatannya tidak terlalu signifikan, tapi ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Tentu saja, pencapaian ini harus dijadikan motivasi agar pengelolaan wakaf ke depan menjadi lebih baik sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan umat.

Baca Juga :  Bersepeda Santai Bersama Bupati Lambar Dalam Rangka Peringati Hari Pramuka Ke-61

Sementara menurut Dr. H.Fauzi, Perkuat Literasi

“Perwakafan di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan, seperti belum optimalnya tata regulasi wakaf, kapasitas nazhir yang rendah, dan belum maksimalnya pemanfaatan teknologi. Berbagai tantangan ini menyebabkan potensi wakaf yang begitu besar belum tergali secara optimal,” ujarnya.

 

Rendahnya literasi wakaf juga menjadi persoalan serius dalam pengelolaan wakaf di Indonesia. Pada tahun 2020, Kemenag, Pusat Kajian Strategis BAZNAS dan Badan Wakaf Indonesia melakukan survei terkait indeks literasi wakaf. Hasilnya menunjukkan bahwa indeks literasi wakaf baru mendapatkan skor 50,48 atau masuk dalam kategori rendah.

Dalam konteks ini, dibutuhkan gerakan literasi wakaf agar pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait perwakafan semakin meningkat. Paling tidak ada dua langkah yang perlu dilakukan dalam rangka memperkuat literasi wakaf.

Pertama, penguatan literasi terkait objek wakaf. Hingga saat ini di masyarakat masih berkembang bahwa harta yang dapat diwakafkan adalah aset tetap seperti sawah, rumah atau gedung. Padahal harta objek wakaf juga bisa berupa uang. Dengan uang siapapun bisa berwakaf tanpa harus menunggu kaya. Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2002 lalu sudah mengeluarkan fatwa mengenai wakaf uang yang menegaskan bahwa mewakafkan uang adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariah. Artinya, berwakaf menggunakan uang diperbolehkan dalam syariat Islam.

Baca Juga :  Bersepeda Santai Bersama Bupati Lambar Dalam Rangka Peringati Hari Pramuka Ke-61

 

Kedua, literasi terkait pemanfaatan harta wakaf. Sebagian besar masyarakat Indonesia memahami bahwa pemanfaatan harta wakaf hanya untuk pemakaman, sekolah, dan masjid. Tentu ini merupakan pemahaman yang keliru. Sebab, pemanfaatan harta wakaf tidak sekadar untuk pembangunan masjid dan sekolah tetapi juga bisa untuk pembangunan rumah sakit, pengembangan bisnis masyarakat yang kurang mampu, pembangunan jalan, dan fasilitas lain yang bertujuan untuk kemaslahatan umat.

Karena itu, penguatan literasi ini tidak dapat dilakukan sendiri. Butuh kerja sama antarpihak. Pemerintah, lembaga pengelola wakaf, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bergandengan tangan menyukseskan gerakan literasi wakaf ini. Keberhasilan literasi wakaf pada akhirnya akan berdampak pada pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta potensi wakaf yang sangat besar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Papar Dr. H. Fauzi.

(Andoyo)