Titik-Titik Kecil, Dunia yang Besar
Di sebuah rumah yang teduh di kawasan Permata Jingga, Semarang, sore turun dengan pelan. Di meja dekat jendela, Sheva Sefian duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, matanya fokus pada lembar kanvas berperekat. Satu per satu butiran kecil berkilau ia ambil dengan pena khusus, lalu ditempelkan mengikuti pola warna. Gerakannya ritmis. Tenang. Penuh kesabaran.
Bagi Sheva, setiap titik bukan sekadar bagian dari gambar. Ia adalah jeda. Ia adalah napas. Ia adalah cara memahami dunia yang sering kali terasa terlalu cepat.
Lahir di Cilacap, 22 Desember 2003, Sheva adalah putra tunggal Rusdyanto dan Ayli Maria. Sejak kecil, orang tuanya memilih untuk mendampingi tumbuh kembangnya dengan kesabaran dan cinta yang tak bersyarat. Tidak ada target yang dipaksakan. Yang ada adalah ruang untuk bertumbuh—pelan, namun pasti.
“Mama hanya ingin Sheva bahagia dan menemukan dunianya sendiri,” tutur Ayli Maria lembut. “Kami belajar mengikuti ritmenya. Ternyata di dalam detail-detail kecil itu, dia merasa aman dan percaya diri.”
Dari Lego ke Kilau Warna
Sebelum mengenal diamond painting, Sheva akrab dengan lego dan nano bricks. Ia bisa berjam-jam menyusun kepingan kecil, membongkar, lalu merakitnya kembali. Bagi sebagian anak, itu permainan. Bagi Sheva, itu latihan kesabaran dan konsentrasi.
Dari kepingan-kepingan kecil itu, ia belajar tentang bentuk, warna, dan keteraturan. Ia belajar bahwa sesuatu yang besar selalu dimulai dari bagian-bagian kecil yang disusun dengan teliti.
Diamond painting hadir secara alami. Ia sering melihat sang mama mengerjakannya di rumah. Rasa ingin tahu mendorongnya mencoba. Tak disangka, Sheva begitu menikmati prosesnya.
“Awalnya hanya coba-coba,” kenang Ayli. “Tapi ternyata dia enjoy sekali. Dia bisa duduk lama tanpa merasa bosan. Wajahnya terlihat tenang. Dari situ saya tahu, ini bukan sekadar hobi.”
Teknik ini menuntut konsentrasi tinggi. Ribuan butir resin kecil harus ditempatkan tepat sesuai pola hingga membentuk gambar utuh. Bagi sebagian orang, itu melelahkan. Namun bagi Sheva, di situlah ia menemukan ketenangan.
“Sheva memang anak yang sangat detail,” lanjut sang mama. “Dia suka kerapian. Kalau ada yang meleset sedikit, dia akan perbaiki. Ketelatenannya luar biasa.”
Ketika Karya Menemukan Apresiasi
Karya-karya Sheva kemudian hadir melalui RD Shop dan Romah Sitabel—ruang apresiasi bagi sahabat difabel untuk menunjukkan kreativitas mereka. Perlahan, namanya mulai dikenal. Dalam satu pameran, empat karya diamond painting miliknya terjual. Di kesempatan lain, enam karya berpindah tangan dalam pameran bertajuk “Liberté d’Inclusion” yang dibuka oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone.
Salah satu karyanya bahkan dikoleksi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, yang jatuh hati pada detail dan kesabaran yang terpancar dari setiap susunan warna.
Di Gedung Grandhika, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Sheva tak hanya memamerkan karya, tetapi juga mendemokan langsung proses pembuatannya di hadapan Menteri UMKM dan Wakil Gubernur Jawa Tengah. Tanpa banyak kata, tangannya berbicara.
Publik menyaksikan bagaimana ribuan titik kecil bisa menjelma menjadi gambar utuh—seperti menyaksikan kesabaran mengambil bentuk.
Belajar Mengekspresikan Diri
Untuk memperkaya sentuhan artistiknya, Sheva bergabung dalam kelas melukis Roemah Difabel yang dimentori oleh perupa Giovanni Susanto. Di ruang itu, ia mulai mengenal warna bukan hanya sebagai pola, tetapi sebagai ekspresi.
“Yang saya lihat dari Sheva adalah konsistensi dan kejujuran,” ujar Giovanni. “Dia bekerja tanpa tergesa.
Setiap goresan atau susunan titik dilakukan dengan kesadaran penuh. Itu kualitas yang tidak semua orang miliki.”
Giovanni menambahkan, di balik keterbatasan sering tersembunyi kekuatan fokus yang luar biasa. “Sheva punya kepekaan pada detail. Tinggal diarahkan agar dia makin percaya diri mengekspresikan dirinya, bukan hanya mengikuti pola.”
Di kelas itu, Sheva belajar berani keluar dari pakem. Ia mulai bermain dengan warna yang lebih bebas, mencoba garis, mencoba komposisi. Namun satu hal tak berubah: ketelitiannya.
Melangkah Menuju Kemandirian
Selain diamond painting, Sheva juga gemar menggambar dan berlari. Aktivitas-aktivitas itu menjadi bagian dari prosesnya untuk terus berkembang dan semakin mandiri. Setiap karya yang selesai, setiap pameran yang diikuti, adalah langkah kecil menuju kepercayaan diri yang lebih besar.
Bagi keluarganya, kemandirian bukan tentang melakukan segalanya sendiri. Ia adalah tentang menemukan potensi, merawatnya, dan memberi kesempatan agar potensi itu tumbuh.
“Sheva mungkin tidak banyak bicara,” kata sang mama, “tapi lewat karyanya, dia menyampaikan banyak hal. Kami bangga bukan karena karyanya laku, tetapi karena dia berani mencoba dan tidak menyerah.”
Keindahan yang Lahir dari Kesabaran
Di tangan Sheva Sefian, seni bukan sekadar hobi. Ia adalah cara merajut makna. Satu titik kecil. Satu warna. Satu langkah dalam satu waktu.
Dan dari ribuan titik yang ia susun dengan sabar, kita belajar sesuatu yang sederhana namun dalam: keindahan tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Ia tumbuh dari ketelatenan. Dari kesetiaan pada proses. Dari cinta yang dikerjakan diam-diam, tetapi tak pernah berhenti. (Christian Saputro)




