“Sketsa Plus“, Goresan Sosok-sosok Plus di Atas Kanvas Aryo Sunaryo

Perupa cum pendidik Aryo Sunaryo membabar konsep karyanya di acara Pembukaan Pameran Tunggal " Sketsa Plus" di TAN Artspace , Semarang, Minggu (06/06/2021) ( Christian Heru)

SumateraPost, Semarang – Puluhan karya perupa Aryo Sunaryo tertata rapi menyesaki ruang pamer Tan Artspace. Gelaran pameran bertajuk :” Sketsa Plus” yang diinisiasi Komunitas Semarang Skecthwalk (SSW) dibuka DR. Budi Sudarwanto ini berlangsungdi TAN Artspace, Semarang, dari 6 Juni – 18 Juni 2021.

Pembukaan pameran berlangsung meriah nampak hadir para perupa Jogjakarta seperti; Klowor Waldiyono, Nanang Wijaya, Gusmen Heriadi,Dias Prabu, Kadir Suparti, anggota SSW, sejumlah seniman Semarang dan tamu undangan lainnya.

Perupa Aryo Sunaryo membabarkan karyanya kepada apresian (Christian Saputro)

Dalam gelaran pembukaan Budi Sudarwanto, mengatakan, salut dengan penjelajahan kreativitas yang inten dan konsisten dilakukan oleh Aryo Sunaryo. “Disela-sela kesibukannya sebagai seorang pendidikpak Aryo menyalurkan passionnya menghasilkan karya rupa yang indah juga karya berupa buku-buku. Ini patut dijadikan contoh bagi kita semua, “ ujar Budi Sudarwanto ini mengapresiasi kiprah Aryo Sunaryo.

Pada kesempatan itu, Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro, juga mengingatkan di masa pandemi seperti ini kalau mau tetap bertahan harus berkolaborasi. “Ternyata di era pandemi ini kuncinya kalau mau bertahan jurusnya berkolaborasi. Salaing mendukung, salaing baha membahu, hal ini saya amati dalam perjalanan ke berbagai daerah. Jadi ini bisa diterapkan di dunia seni rupa,” tandas Budi Sudarmanto.

Baca Juga :  Festival Sutardji Calzoum Bachri Digelar di Riau

Sementara Ketua Semarang Sketchwalk (SSW) Ratna Sawitri mengatakan, pameran bertajuk: “Sketsa Plus” yang menaja karya perupa Aryo Sunarya merupakan seri dari arisan pameran yang dimotori SSW.

“Kali ini SSW menghadirkan Perupa sepuh bapak Aryo Sunaryo ini menjadi contoh sekaligus mentor di SSW. Semangat beliau dan karya-karyanya yang indah dan inspiratifselalu memantik anggota SSW yang muda-muda. Meskipun sudah sepuh beliau tak segan-segan mengikuti kegiatan nyeket bersama yang digelar SSW. “Pastinya dalam pameran tunggal ini beliau menyajikan karya-karyanya andalannya yang ciamik dan memesona. Yang bisa menginpirasi dan memantik semangat perupa muda Semarang, ” ujar Nana panggilan karib Ketua SSW ini.

Sketsa Plus-Plus

Perupa pensiunan dosen pengampu mata kuliah sketsa dan anatomi plastis ini mengakui kalau dirinya jarang menggelar pameran tunggal. Tentunya, karena disibukkan tugas kesehariannya ketika menjadi dosen tetap di Unnes dan di perguruan tinggi lainnya. “Kalau pameran bersama sekira ada 60 kali,baik di Semarang, dan kota lainnya. Dan pernah juga ikut pameran bersama di Galeri Nasional, Jakarta,” terang Aryo.

Baca Juga :  Festival Sutardji Calzoum Bachri Digelar di Riau

Perupa cum dosen Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini mengatakan, pameran ini memang sejatinya lebih pas disebut Pameran Tunggal mengusung pameran bertajuk : “Sketsa Plus”, sebenarnya lebih lengkapnya menurutnya “Sketsa – Lukis Sosok”. Mengapa pameran ini didominasi lukisan sosok –sosok. Musababnya, materi pameran memang sengaja saya fokuskan pada sketsa sosok (figure). Tetapi memang ada beberapa lainnya yang semi-semi sketsa atau mungkin lebih tepatnya lukis berbasis sketsa, berupa gedung-gedung.

Pilihan tajuk pamera nya “Sketsa – Lukis Sosok”. Karena didasari didasari oleh keinginan bahwa salah satu obyek sketsa yang tidak kalah menarik ialahsosok manusia.”Bisa berdiri sendiri sebagai obyek sketsa terutama melalui livesketching, baik perseorangan maupun kelompok, berpose sebagai model. Atau pun sosoknya sedang dalam melakukan kegiatan. Sekaligus merupakan upaya mengungkapkan berbagai karakter dan gestur sosoknya,” beber mantan dosen yang juga jadi pengampu mata kuliah menggambar dan ilustrasi di Unnes.

Lebih lanjut, dibabarkannya, sketsa sosok juga memiliki peran penting sebagai bagian dari sketsa arsitektur, lingkungan, cityscape, dan yang lain. Bisa menjadi petunjuk dimensi, skala, sehingga menjadikan lebih hidup, dan melengkapinya d alam membangun suasana,” babar Aryo Sunaryo

Baca Juga :  Festival Sutardji Calzoum Bachri Digelar di Riau

Sedangkan tambahan “Plus” dalam tajuk pameran ini bukan berarti sketsa sosok dibuat itu hebat sekali, yang bernilai lebih, atau karya sketsa tentang sosok manusia dalam pameran ini lebih bermutu dari pada sketsa-sketsa dengan tema lainnya.

“Sedangkan “Plus” dimaksudkan sekadar memberi pengertian, bahwa karya-karya yang dipresentasikan tidak semata-mata sebagai sketsa murni. Beberapa sketsa dikerjakan untuk dilengkapi dengan rendering dan warna. Apakah itu dengan media cat air secaramanual atau pun secara digital. Lalu juga materi tidak selamanya karya asli, dalam pengertian ada yang telah mengalami proses lain, misalnya melalui pemindaian,” terang Aryo Sunaryo

Sedangkan medianya dengan materi berupa pensil pastel, cat air, cat minyak, dan digital ini tak semuanya karya baru.Ini sengaja sambil menapaki jejak perjalanan pergulatan dalam dunia seni rupa. “Jadi semacam retrsopeksi –lah atau catatan perjalanan saya di dunia seni rupa,” tandasnya.
Selain melukis Aryo Sunaryo menulis sejumlah buku tentang seni rupa dan memenangi sayembara sketsa cagar budaya nasional.

(Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here