Semarang — Suasana hangat dan penuh tawa menyelimuti ruang pemutaran di Kantor Alliance Française (AF) Semarang, Jalan Dr. Wahidin No. 54, Jumat sore (30/1/2026). Puluhan anak tampak ceria menikmati deretan film animasi Prancis yang menghadirkan tokoh-tokoh binatang lucu dan imajinatif, namun sarat pesan tentang kehidupan, empati, dan kebersamaan.
Menjelang petang, sekat bahasa seolah tak lagi terasa. Rasa ingin tahu, senyum, dan percakapan hangat mengalir alami, menandai bahwa animasi dan budaya mampu berbicara lintas batas.
Melalui Soirée CINEMA #10, Alliance Française Semarang bekerja sama dengan Eling Cinema kembali menegaskan perannya sebagai ruang temu budaya yang inklusif.
Kegiatan nonton bersama ini melibatkan sahabat difabel dari Roemah Difabel (Roemah D), komunitas Kinasih Kel Inklusi, Yayasan Harsa Arbhipraya (HASBI) Semarang, serta anak-anak penyintas kanker dari Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) Semarang.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty, mengatakan Soirée CINEMA merupakan bagian dari komitmen AF untuk membuka akses kebudayaan bagi semua kalangan.
“Seni dan budaya, termasuk film, adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan latar belakang sosial maupun kondisi fisik. Kami ingin berbagi pengalaman menonton yang setara, hangat, dan menyenangkan. Ruang kebudayaan harus terbuka bagi semua,” ujarnya.
Menurut Kiki, kehadiran komunitas inklusi dalam Soirée CINEMA menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang apresiasi seni, tetapi juga tentang empati, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada edisi ke-10 ini, AF Semarang memutar sejumlah film animasi pendek asal Prancis yang ramah keluarga dan mengandung tuntunan sosial. Salah satunya Capybaras (2019) karya Alfredo Soderguit berdurasi 26 menit, yang mengisahkan keluarga kapibara pencari perlindungan di kandang ayam saat musim perburuan. Ketegangan dan prasangka perlahan mencair ketika rasa ingin tahu justru membuka jalan menuju kebersamaan.
Film lainnya, Le Tout Petit Voyage (2022) karya Emily Worms, berdurasi tujuh menit, menuturkan kisah Jonno dan burung parkitnya, Titi, yang belajar menghadapi ketakutan demi memahami arti kebebasan. Kisah sederhana ini disajikan dengan nuansa hangat dan menyentuh.
Usai pemutaran, diskusi ringan berlangsung interaktif. Anak-anak dengan antusias berbagi kesan dan menjawab pertanyaan. Senyum semakin merekah saat mereka pulang membawa roti sebagai buah tangan. Kebahagiaan pun terasa sederhana—lahir dari perjumpaan, berbagi cerita, dan kasih yang tulus.
Menurut penyelenggara, Soirée CINEMA tidak sekadar menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga ruang apresiasi dan dialog lintas budaya Prancis–Indonesia.
Melalui animasi, tema-tema besar seperti keberanian, kepercayaan, kebersamaan, dan solidaritas disampaikan secara ringan namun bermakna.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diharapkan terus menjangkau pelajar, keluarga, serta penikmat film di Semarang. Kehadiran Soirée CINEMA #10 sekaligus menegaskan posisi AF Semarang sebagai jembatan budaya yang menghadirkan tontonan edukatif, humanis, dan inklusif bagi masyarakat.
(Christina Saputro)




