Sucipto Adi, PTPN VII, dan Sentra Keripik Lampung

SumateraPost, BANDAR LAMPUNG – Dari jalan arah Perumahan Griya Sejahtera, Gunungterang, Tanjungkarang Barat itu, Sucipto Adi mendorong gerobaknya menuju Way Halim. Tahun 1995, jalur pintas menuju Kemiling dari arah Kedaton itu masih aspal kasar dan sempit. Pria berumur 29 tahun itu menjemput rezeki untuk menjajakan keripik singkong melintasi belukar, kawasan rawan preman, dan kuburan tua.

Pepohonan rindang, kebun kelapa, tangkil, dan lainnya memayungi pelintas. Rumah atau bangunan masih jarang sehingga perjalanan hampir tiga kilo meter menjerit-jerit menawarkan penganan hasil eksperintasinya tak ada yang menyahut. Demikian juga saat melintasi Jalan Sultan Agung, hampir tak ada yang berminat terhadap keripik yang dia kemas ke dalam kotak kaca gerobaknya.

Namun, lelaki mantan tukang bangunan itu seperti musafir bertemu oasis ketika memasuki Kompleks Perumahan Way Halim. Bermula dari satu pembeli yang menghentikan langkahnya, ia berturut-turut kebanjiran pembeli.

“Hari pertama saya dagang dapat uang Rp200 ribu di Way Halim. Hari itu saya untung Rp100 ribu. Wih, langsung semangat,” kata Cipto, sapaan akrabnya saat ditemui di rumah yang sekaligus tempat usaha keripiknya di bilangan Gang Pubian, Gunungterang, pekan lalu.

Perjalanan Cipto berdagang keripik singkong rasa gurih itu boleh jadi dissebut cikal bakal adanya Kawasan Industri Keripik Bandar Lampung yang berada di Jalan Pagaralam atau biasa disebut Gang PU. Tak berlebihan karena dia bersama tiga adiknya yang merantau ke Lampung sebagai tukang bangunan itu kemudian tercatat sebagai pemrakarsa Kampung Keripik Bandar Lampung.

Perjalanan kisah jualan keripik itu terjadi ketika Cipto yang menumpang mendirikan rumah geribik di tanah milik Haji Hasanudin itu merasa sayang kepada tanaman singkong yang tidak laku. Di tanah subur milik Haji Hasan, para “penumpang” menancapkan bonggol singkong tak beraturan untuk menghambat pertumbuhan gulma. Dari singkong-singkong telantar itu, Cipto punya ide membuat keripik untuk dijual.

Rasa girang mendapat untung seratus ribu sekali keliling itu bukan tanpa kendala. Jualan hari kedua, jumlah kerpik yang terjual menurun. Demikian terus sampai sepekan. Namun, secara umum, profesi yang dia mulai itu dianggap memiliki masa depan. Tak pelak, ia bersama tiga adiknya sampai menambah delapan gerobak baru dalam dua bulan.

Bukan hanya tambah gerobak, Cipto memilih sebagai produsen keripik dari pada jualan. Ia merekrut tetangga untuk berjualan hingga gerobak-gerobak Keripik Singkong Asa-nya sempat mewarnai pasar-pasar di Tanjungkarang dan Way Halim.

“Jualan keliling itu capek, tapi hasilnya memang lumayan. Tetapi, kami kemudian punya ide untuk menarik pembeli datang ke tempat produksi kami. Caranya, ya menciptakan sentra produksi keripik. Ide ini setelah saya berkunjung ke beberapa industri keripik tempe di Malang dan beberapa tempat lainnya,” kata lelaki lulusan SMA ini.

Keinginan untuk membuat sentra keripik di Bandar Lampung ini dijalankan setelah Cipto bersama delapan rekan usahanya membentuk kelompok pengrajin keripik. Mendapat pengesahan dan diresmikan oleh Kepala Dinas Koperasi dan Perindusterian Kota Bandar Lampung Ely Wahyuni.

Didampingi Dinas Koperindag, Cipto menjalankan ide untuk mendirikan sentra industri kecil keripik dengan mengasongkan proposal. Beberapa lembaga bonafide dari kalangan BUMN dan swasta belum memberi respons. Namun, ketika Cipto menyorongkan proposal ke PTPN VII, perusahaan milik negara di bidang bisnis agro ini merespons dengan mengkaji usulan.

“Proposal kami dipelajari dan dari tim PTPN VII turun untuk mengecek kebenaran dan rencana lebih jauhnya. Akhirnya, pada tahun 2006, kami disponsori PTPN VII dan Dinas Koperindag mendirikan Sentra Keripik Lampung ini ditandai dengan pendirian gapura megah di muluh Ganag PU yang berhadapan dengan Jalan Utara Teuku Umar,” cerita Cipto.

Sebelum pendirian gapura, pihak PTPN VII juga mengucurkan dana kredit pembinaan bagi pengrajin keripik binaan kelompok usaha bersama yang diketuai Cipto. Meskipun berhimpun dalam kelompok, tetapi pinjaman dana kredit sangat lunak yang diberikan PTPN VII diberikan kepada masing-masing pengrajin.
“Pinjaman pertama seluruhnya nilainya Rp36 juta. Itu diberikan kepada delapan pengrajin. Pinjaman itu dipakai untuk mengembangkan usaha, termasuk membuka gerai-gerai keripik di lokasi-lokasi yang berada di Jalan Pagaralam,” kata Udin, staf di Bagian Umum dan PKBL Kantor Direksi PTPN VII.

Respons Luar Biasa
Gapura bermahkota siger berwarna hijau dengan tulisan ‘Selamat Datang Di Kawasan Industri Keripik Kota Bandar Lampung” yang bertahta di mulut gang itu terlihat gagah. Pada tahun itu, alat peraga promosi dan iklan out door belum seramai di era digital printing saat ini. Tak heran jika papan nama yang melintang besar dengan logo Kota Bandar Lampung di sebelah kiri dan logo PTPN VII di sebelah kanan itu menarik perhatian.

*Para* pelintas banyak yang dengan sengaja memasuki gerbang itu untuk mengusir penasaran. Dan memang, secara kasat mata, saat itu gebyar yang ditampilkan gapura itu belum terlihat. Hanya ada beberapa toko keripik dengan aneka jenis dan rasa yang memajang dagangan di ruas jalan sepanjang 4,5 kilo meter itu. Namun, ketika ada yang bertanya, para tamu akan diarahkan ke “dapur” keripik milik Cipto dan beberapa adiknya yang justru berada di sempalan Jalan Pagaralam. Yakni, Jalan Perum Griya Sejahtera, Segalamider.

Promosi dengan mendirikan gapura megah itu sangat efektif. Rasa penasaran orang untuk melihat dan merasakan sensasi aneka keripik buatan Lampung itu terus mengalir. Pengaruh itu menjadi tantangan para anggota kelompok usaha bersama untuk menyambut pengunjung.
“Karena banyak yang datang, maka kami juga jadi semangat. Banyak diantara anggota yang mengundang kerabatnya atau orang tuanya untuk investasi membangun gerai modern. Mereka tidak produksi, tetapi kami yang memasok. Jadilah seperti sekarang ini,” kata dia.

Di gerai-gerai yang saat ini menjadi warna khas hampir sepanjang Jalan Pagaralam ini, aneka keripik tersedia. Berawal dri keripik singkong buatan Cipto yang hanya *tersedia* rasa gurih, kini keripik singkong sudah ada banyak rasa. Juga keripik pisang, keripik nangka, keripik sukun, keripik talas, keripik ubi jalar atau mantang, dan lainnya.

Ada rasa original alias asli, ada rasa asin, gurih, manis, cokelat, moka, strawberry, melon, hingga rasa-rasa lain. Selain keripik, gerai-gerai ini juga menjadi reseller untuk produk-produk lain seperti kopi Lampung, kerupuk, lempok, dan lain-lain *sampai* terasi.
PTPN VII selain melepas dana kredit juga memiliki tanggung jawab untuk membantu para pengrajin melancarkan usahanya. Para pengrajin diikutkan berbagai pelatihan wira usaha, pelatihan manajemen pembukuan, promosi, packaging, pelayanan pelanaggan, hingga merancang perluasan bisnis.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PTPN VII. Sebab, melalui PTPN VII obsesi kami untuk menjadikan Jalan Pagaralam menjadi sentra industri keripik ini berjalan. Sekarang, nama Sentra Keripik Lampung ini sudah kondang se Indonesia. Saya bisa bertemu dengan kakak sepupu saya yang tinggal di Papua karena mereka melihat sentra keripik di sini,” kata dia.

Saat ini, terdapat 54 gerai keripik aneka rasa di sepanjang Jalan Pagaralam ini. Cipto mengakui, meskipun sebagai pemrakarsa dan yang memulai usaha keripik, saat ini dia hanya sebagai pemasok kecil untuk pemilik outlet-outlet besar. Ia meyakini, soal rezeki sudah ada takaran untuk siapa dan berapanya.

Tinggal di Gang Pubian di ujung jalan buntu Perumahan Griya Sejatera, Cipto bersyukur dengan apa yang dibagikan Tuhan kepadanya. “Saya pernah punya toko di depan, tetapi harus saya relakan dijual. Yang pasti, itu belum rezeki saya,” *kata* bapak tiga anak dengan satu cucu itu.
Nama Gang PU sebagai sentra keripik Lampung itu sudah tidak terlalu membutuhkan kehadiran gapura. Gapura yang dulu dibangun PTPN VII, kini sudah direhabilitasi menjadi warna silver. Masih ada logo PTPN VII, tetapi di sebelah kiri ada logo perusahaan telekomunikasi. Tetapi yang terpenting, kehadiran sentra keripik Lampung sebagai branding, kini telah menjadi jalan usaha ribuan pebisnis di jalur ini. Cipto menyebut, dari 54 gerai keripik di sepanjang jalur ini, berputar omset tak kurang dari Rp8 miliar per bulan. (HUMAS PTPN VII)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here