Suheldi: Anak Muda Kreatif Kunci Kemajuan Daerah

SumateraPost, Binjai – Akademisi yang juga tokoh enterpreneur nasional, DR H Suheldi SE MM, melaksanakan kunjungan ke Yayasan Pendidikan Panca Abdi Bangsa (Yaspen PABA) Kota Binjai, Rabu (12/02/2020) siang.

Dalam kunjungannya itu, Suheldi menyempatkan diri berbagi tips dan pengalaman berwirausaha kepada sejumlah tenaga pengajar dan perwakilan siswa, sebagai bagian dari upaya memotivasi anak muda dalam membangun usaha.

“Anak muda jangan pernah malu atapun ragu dalam memulai usaha. Sebab kunci sukses membangun dan mengembangkan usaha adalah keseriusan dan rasa percaya diri,” ujar dosen Universitas Islam Nusantara (Uninas) Bandung tersebut.

Menurut Suheldi, di era serba digital seperti saat ini, anak muda harus mampu menunjukan eksistensi dan peran strategisnya dalam mendukung pelaksanaan program pembangunan, terutama di bidang ekonomi.

Dalam hal ini, anak muda dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Apalagi arus modernisasi hanya akan berpihak pada individu-individu dengan kualitas sumber daya manusia dan tingkat daya saing tinggi.

“Tegas saya katakan, anak muda kreatif dan inovatif merupakan kunci kemajuan ekonomi suatu daerah. Sebab intelektualitas tidak akan bermanfaat dan berpengatuh banyak tanpa ada kreativitas dan inovasi,” ujar Suheldi.

Menyikapi peran anak muda dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Binjai, dia mengaku hal tersebut merupakan indikator mutlak yang harus dipenuhi. Sebab anak muda merupakan aset daerah paling berharga.

Sayangnya pemerintah daerah terkadang kurang memperhatikan peran dan eksistensi anak muda. Tidak jarang hak dan kebutuhan anak muda terabaikan, hanya untuk merealisasikan program-program jangka pendek.

“Kalau pemerintah daerah memiliki perhatian besar dalam hal pengembangan potensi dan kemampuan anak muda, saya yakin lulusan SMA sederajat di Kota Binjai punya keterampilan dan kemandirian untuk berwirausaha,” ungkap Suheldi.

Di sisi lain, pemerintah daerah pun harus lebih proaktif dalam mendukung kebutuhan anak muda, terutama yang berkaitan dengan pengembangan potensi sumber daya manusia, bakat dan kemampuan, serta pengetahuan dan keterampilan mereka.

Sebab meskipun anggaran pendidikan sudah mencakup 20 persen dari nilai APBD Kota Binjai, namun realisasinya lebih cenderung kepada pengadaan kebutuhan fisik, bukannya penguatan variabel lain, terutama peningkatan kualitas tenaga pengajar.

Selain itu, penanganan angka putus sekolah dan aksi kenakalan remaja juga harus ditekan dengan serendah mungkin. Cara paling efektif ialah dengan meningkatkan aktivitas anak muda pada kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat.

Untuk mendukung hal itu, tentu saja wadah kreativitas anak muda harus diberdayakan secara optimal peran organisasi kepemudaan perlu pula ditingkatkan, termasuk membangun sumber-sumber ekonomi baru, khususnya industri.

“Dengan modal ini, saya yakin anak muda Kota Binjai akan tampil sebagai tenaga-tenaga terampil dan profesional, serta memiliki kapasitas dan potensi menggeliatkan roda ekonomi daerah, termasuk menciptakan lapangan kerja baru,” seru Suheldi.

Secara khusus, ayah tiga anak itu pun menyoroti kualitas pendidikan Kota Binjai yang menurutnya belum cukup merata. Pasalnya, masih terdapat perbedaan kualitas yang mencolok antara satu lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan lainnya.

Dilema ini pada dasarnya terjadi karena adanya perbedaan perlakuan terhadap masing-masing lembaga pendidikan, terutama antara sekolah negeri dengan sekolah swasta.

“Saya rasa Kota Binjai perlu mencontoh Kabupaten Kutai Kertanegara. Di sana, kualitas sekolah negeri dan swasta sama. Bahkan gaji dan tunjangan guru, serta besaran beasiswa juga sama. Inilah yang pada dasarnya membuat kualitas pendidikan di sana cenderung lebih merata,” terang Suheldi.

Sistem seperti ini sebenarnya dapat saja diterapkan di Kota Binjai, meskipun dengan keterbatasan jumlah pendapatan asli daerah (PAD).

“Solusinya itu, pemerintah daerah harus mampu meyakinkan perusahaan besar agar mengalokasikan dana CSRnya untuk penyempurnaan sarana dan fasilitas pendidikan, termasuk pemenuhan beasiswa bagi pelajar kurang mampu,” jelas Suheldi.

Sebaliknya, lembaga pendidikan, terutama sekolah swasta, juga dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menerapkan metode pembelajaran yang tepat, agar mampu mengikuti tantangan dan perkembangan zaman.

Terkait pemenuhan beasiswa bagi pelajar berprestasi dan kurang mampu, menurut Suheldi, lembaga pendidikan swasta sebenarnya pun tidak harus bergantung pada anggaran pendidikan yang dialokasikan pemerintah.

Selain dapat memanfaatkan alokasi dana CSR, pengadaan anggaran pendidikan di luar kebutuhan teknis dapat pula diupayakan secara mandiri oleh sekolah swasta.

“Yang paling efektif itu, sekolah swasta harus meningkatkan laba perusahaan. Caranya dengan mengelola jenis usaha lain, atau membangun kemitraan usaha yang dapat mendukung kebutuhan sekolah,” terang Suheldi. (andi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here