Sumaterapost.co | Lampung Timur – Kondisi Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tempat habitat Gajah, saat ini cukup kompleks dalam menghadapi tantangan serius seperti penyempitan habitat akibat perubahan zona inti menjadi zona pemanfaatan (untuk karbon) yang memicu konflik gajah-manusia, serta kebakaran hutan.
Berubahnya status TNWK dari zona inti ke zona pemanfaatan, sangat disesalkan dan meresahkan warga, pasalnya sebelum ada perubahan zona itu terkadang ada konflik gajah dengan warga, apa lagi ini dengan adanya perubahan zona akan mempersempit habitat, hal ini dikatakan Ahmad Latiful Mufti.S.Pd, salah satu tokoh Muhammadiyah Lampung Timur yang tinggal di desa Braja Asri berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas.
“Saya sangat sedih dan prihatin sudah beberapa kali konflik ini memakan korban tidak hanya menghancurkan tanaman warga tapi kali ini sang kepala desa nya langsung yaitu bapak Darusman Kepala Desa Braja Asri yang menjadi korbannya hingga meninggal dunia” kata Ahmad Latiful Mufti.
Dikatakan Ahmad Latiful Mufti, Almarhum kepala desa Darusman adalah sosok kepala desa yang sangat peduli dengan warganya khususnya dalam urusan konflik dengan gajah liar.
Almarhum dimasa hidupnya, sering menyampaikan aspirasi warganya baik dengan Balai TNWK, Pemda Lampung Timur, bahkan dengan Kementerian Kehutanan RI di jakarta.
Namun sangat disayangkan respon pemerintah kurang cepat dan tidak tepat, sebagai contoh ada bantuan yang diturunkan seperti lampu panel solar tapi tidak diposisikan di daerah yang tepat sering terjadinya konflik gajah dan warga, sehingga terkesan mubazir karena tidak bisa deteksi dini ketika ada kawanan gajah masuk.
Contoh lainnya yang dinilai Ahmad LM, tidak tepat sasaran, yaitu tanggul yang dibuat bukan tanggul permanen sehingga pasti tidak bertahan lama dan pasti akan hancur seperti yang sudah terjadi gajah akan bisa masuk lagi dengan leluasa.
Fenomena kejadian kemarin seharusnya menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk segera mangambil langkah cepat dan tepat sehingga tidak terjadi korban jiwa-jiwa lagi.
“Cukup Pak Darusman sebagai puncak perjuangan para petani Braja Asri, Jangan sampai warga berbuat anarkis dan bisa berbuat diluar kontrol pada satwa dilindungi yang selalu merusak tanaman-tanaman warga desa penyangga”kata Ahmad LM.
Anehnya mereka hanya datang pada waktu selesai tanam dan menjelang musim panen. Sebagai warga kami minta Menteri Raja Juli Anthony bertanggung jawab dan segera mengambil tindakan cepat dan tepat.
Ahmad Latiful Mufti pun mengusulkan tiga poin, yang pertama, Segera dibuat Tanggul permanen yang panjang dan tingginya menyesuaikan kebutuhan, yang ke dua Penerangan panel solar/PLN yang cukup dan tepat posisinya, dan yang ke tiga, kami berharap dibentuk kembali PAM swakarsa yang di honor oleh pemerintah pusat diambil dari petani desa penyangga, mereka diberi tugas untuk menghalau Gajah liar dan ditempatkan di Pos-pos penjagaan di sekitar tanggul perbatasan. (ndy)




