TPID Harus Mewanti Tekanan Inflasi Sumut

0

SumateraPost.co,Medan-Tim Pengendali Inflasi Daerah atau TPID Sumatera Utara harus mewanti-wanti atas tekanan inflasi di Sumatera Utara menyusul melonjaknya harga minyak goreng pada Januari lalu.

Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok ini dari harga Rp 12 ribu menjadi Rp13.500 per kg akibat dipicu kenaikan harga CPO mencapai 3.100 ringgit per ton.Bahkan dido rong kenaikan harga produk turunan kelapa sawit.

“Namun, harga CPO kembali mengalami tekanan setelah ekonomi global terganggu dengan penyebaran virus corona dari Wuhan, China,” ujar pengamat ekonomi Gu nawan Benyamin kepafa media ini, Kamis (13/2/2020.

Saat ini harga CPO sekitar 2.700 ringgit per ton. Harga komoditas ini anjlok setelah sejumlah harga komoditas dunia terpukul seiring munculnya kekuatiran di pasar dampak penyebaran virus corona.

“Harga minyak goreng hari ini terpantau masih Rp 12 ribu -Rp 13.500/kg. Padahal 3 bulan terakhir di 2019 harga minyak goreng hanya Rp9000-Rp11.000/kg. Tapi minyak goreng diperkirakan turun lagi waktu dekat ini.Namun harus mewanti-wanti inflasi,” kata Benyamin

Meskipun harga CPO bukan satu-satunya patokan yang membentuk harga di pasar. Sejumlah bahan baku lainnya turut mendongkrak harga minyak goreng. Bahan baku pengolahan minyak goreng membutuhkan bahan baku impor. Erat kaitannya dengan kurs mata uang Rupiah.

Baca Juga :  Penurunan Ekspor Terbesar Terjadi Pada Komoditas LPG

Secara tidak langsung, harga minyak goreng juga dibayangi prospek perkembangan harga komoditas dunia yang dipengaruhi sentimen penyebaran virus corona belakangan ini.
Begitu pula harga cabai merah mengalami penurunan menjadi Rp 30 ribu-Rp 33 ribu per/ Kg. Cabai rawit turun di kisaran Rp30 ribu/Kg. Penurunan ini sangat berpotensi memicu turun inflasi. Selain itu, harga daging ayam turun menjadi Rp21.200/ Kg.Telur ayam Rp27 ribu/kg. “Harga daging ayam juga berpeluang menyumbangkan deflasi di bulan ini,” kata Benyamin(tiara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here