Semarang — Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) membuka ruang belajar inklusif melalui kegiatan pembelajaran seni rupa bersama sahabat difabel dari Roemah Difabel (Roemah D) di Laboratorium Seni Rupa UPGRIS, Sidorejo, Semarang, Jumat (30/1/2026). Kegiatan ini menjadi pertemuan antara dunia akademik dan komunitas, yang bertumpu pada semangat kesetaraan, kolaborasi, dan pemberdayaan.
Di ruang laboratorium tersebut, seni rupa tidak semata hadir sebagai mata kuliah, melainkan sebagai medium perjumpaan. Dosen pengampu mata kuliah seni rupa Program Studi PGSD UPGRIS, Singgih Adhi Prasetyo, S.Sn., M.Pd., menyampaikan bahwa laboratorium seni rupa sengaja dibuka sebagai ruang bersama—tempat belajar, bereksperimen, dan bertumbuh tanpa sekat.

“Saya mengampu mata kuliah seni rupa di jurusan PGSD UPGRIS. Kami berharap apa yang dipelajari teman-teman difabel hari ini dapat dikembangkan lebih lanjut, tidak hanya untuk penguatan keterampilan pribadi, tetapi juga memberi manfaat bagi teman-teman yang lain,” ujar Singgih. Ia menegaskan, seni tidak mengenal batas fisik maupun sosial, karena seni adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan dan menumbuhkan kepercayaan diri.
Apresiasi datang dari Founder Komunitas Sahabat Difabel (KSD), Noviana Dibyantari. Ia mengaku bangga dan bersyukur atas keterbukaan para pengajar UPGRIS yang bersedia terlibat langsung dalam perjuangan meningkatkan keterampilan siswa difabel agar memiliki pengetahuan dan kemampuan yang setara serta inklusif.
“Saya sangat mengapresiasi UPGRIS yang dengan hangat dan terbuka menerima sahabat difabel dari Roemah D untuk ngangsu kawruh di medan pendidikan seni dan praktik langsung bersama praktisi seni dan akademisi,” kata Noviana.
Menurutnya, peran dosen sebagai pendidik sangat penting dalam upaya memperluas akses belajar dan meningkatkan kualitas keterampilan difabel.
Hal senada disampaikan Giovanni Susanto, pamong Roemah Difabel Semarang sekaligus pengampu keterampilan seni rupa. Ia menyebut kolaborasi ini sebagai pengalaman berharga bagi para sahabat difabel untuk berproses langsung di lingkungan seni rupa akademik.
“Kami mengucapkan terima kasih telah diterima dengan ramah oleh Pak Singgih dan kawan-kawan dari UPGRIS. Kegiatan ini merupakan agenda Kelompok Fine Art Roemah Difabel untuk berproses secara lebih luas, menjalin jaringan, dan membangun persahabatan agar semangat inklusi terus memasyarakat,” ujar Giovanni, yang juga dikenal sebagai pelukis dan muralis.
Melalui kerja sama ini, para sahabat difabel diharapkan memperoleh pengalaman praktik langsung di dunia seni rupa sekaligus menegaskan bahwa berkarya adalah hak setiap manusia. Bagi UPGRIS, kegiatan ini memperkuat peran kampus sebagai ruang inklusi yang menjunjung nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan kreativitas. (Christian Saputro)




