Waspadalah, Aksi Peretasan Akun WhatsApp Kembali Marak Dengan Berbagai Modus

KendalĀ  SumateraPost.co – Aplikasi perpesanan (messaging) terpopuler saat ini yakni WhatsApp (WA) dengan jumlah pengguna aktif per bulan lebih dari 2 miliar user di seluruh dunia dan tersedia di 180 negara. Namun popularitas ini justru membuat pengguna WhatsApp kerap menjadi incaran para penjahat atau hacker untuk tujuan penipuan atau aksi kejahatan.

Belakangan ini kasus peretasan atau pembajakan akun WhatsApp (WA) kembali marak. Aksi scamming atau pembajakan akun WA biasanya diikuti dengan aksi penipuan atau kejahatan seperti pinjam uang, minta isi pulsa atau digunakan untuk mengirim pesan berantai (berita hoax) kepada orang-orang yang ada di daftar kontak korban yang akun WA-nya diretas.

Salah satu pengguna WhatsApp yang baru-baru ini menjadi korban scamming atau pembajakan akun WhatsApp-nya yakni Karyadi yang merupakan wartawan Biro Jawa Tengah di media siber realitasonline.id.

Saat ditemui dirumahnya di Weleri Kabupaten Kendal, Sabtu (3/4/21). Karyadi menceritakan, pembajakan akun WhatsApp nya, berawal ketika dirinya mendapat pesan elektronik di akun Media Sosial Facebook miliknya. Seseorang tak dikenal yang mengaku dirinya Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim mengajaknya berkenalan dan meminta nomer WA-nya.

Baca Juga :  Tekan Penyebaran Covid-19, Jajaran Polres Pekalongan Terus Tingkatkan Operasi Yustisi

Setelah nomer WA diberikan, beberapa saat kemudian peretas itu memintanya untuk mengirimkan kode berupa 6 digit angka yang terkirim melalui SMS. Peretas mengatakan jika kode itu merupakan kode konfirmasi pertemanan di nomor WA nya.

Awalnya Karyadi ragu untuk memberikan kode 6 digt angka itu ke orang yang mengaku sebagai Wakil Gubernur Lampung tersebut. Setelah kode 6 digit angka diberikan ke orang tidak dikenal itu, beberapa saat kemudian akun WA-nya sudah hilang di perangkat HP miliknya.

“Sebelumnya saya mengirimkan kode 6 digit ke orang yang mengaku dirinya Wakil Gubernur Lampung itu, beberapa saat kemudian akun WA saya hilang dari ponsel saya. Beruntung saya segera menghubungi tim backed WhatsApp lewat email untuk segera memblokir akun WA saya, agar tidak disalahgunakan untuk aksi kejahatan atau penipuan,” ungkap Karyadi.

Baca Juga :  Serda Budiono Laksanakan Pendampingan Pembelajaran Home Visit, Ini Tujuan

Karyadi menginggatkan, agar penguna WhatsApp waspada dan berhati hati dengan aksi scamming atau pembajakan akun WA yang kembali marak belakangan ini. Para pelaku scamming mengincar pengguna WA yang merupakan publik figur, pejabat, pengusaha atau orang orang yang memiliki pengaruh dengan berbagai modus.

“Jangan memberikan kode verifikasi dari WA yang terdiri dari 6 digit angka kepada siapapun atau orang tak dikenal”pesannya.

Menurut WhatsApp APAC Communications Director, Sravanthi Dev bahwa setiap akun WhatsApp akan ditautkan hanya dengan satu nomor telepon di satu perangkat Ponsel. Ketika kita mengganti ponsel, kita juga harus mengirimkan 6 digit kode verifikasi ke WhatsApp bahwa nomor telepon kita akan ditautkan dengan perangkat baru. Proses ini dilakukan melalui kode verifikasi yang dikenal dengan One-Time Password (OTP). Kode OTP terdiri dari enam digit yang dikirim aplikasi WhasApp ke nomor Ponsel pengguna melalui SMS untuk melakukan verifikasi akun WA pengguna.

Baca Juga :  Koramil 12/Jatinegara Bersama Polsek Jatinegara Gelar Operasi PPKM Mikro

Sravanthi Dev menyarankan, bagi pengguna WhatsApp yang mengalami Scamming atau pembajakan supaya segera melaporkan ke tim backed WhatsApp untuk memulihkan akun WA yang diretas melalui e-mail: support@whatsapp.com.

Pengguna akun WA yang diretas harus menjelaskan detail kronologi kejadian, termasuk kapan dan kemungkinan bagaimana akun WA nya diretas. Misalnya sebelumnya memberikan kode OTP (one time password) ke seseorang tak dikenal dan terjadi peretasan.

Tim backend WhatsApp merupakan tim yang cekatan (responsif), semakin cepat korban scamming atau pembajakan melaporkan, maka semakin cepat pula kemungkinan akun WhatsApp bisa dikembalikan.

Tim backend WhatsApp akan melakukan investigasi dan identifikasi, namun tim backend tidak bisa melihat pesan apa saja yang sudah dikirim pelaku scamming. Hal itu dikarenakan WhatsApp mengadopsi sistem end-to-end encryption. (KYD/sugiarto).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here