Yang Muda Bercerita #8 .. Jose Amadeus Berkisah Tentang Budaya Peranakan

Jose menceritakan proses kreatifnya menciptakan Wayang Kronik kepada Walikota Semarang, Hendrar Prihadi

SumateraPost, Semarang – Rumah Cinta Wayang (Rumah Cinwa) menggelar seri diskusi budaya : Yang Muda Bercerita via Zoom mengusung topik :Generasi Milineal Pelestari Budaya Jawa – Tionghoa. Pada diskusi yang kedelapan yang ditaja, Minggu, (5/7) lalu menghadirkan pembicara dalang muda Jose Amdeus Krisna dari Semarang.

Pendiri Rumah Cinta Wayang, Dwi Woro Retno Mastuti, dalam sambutannya, berharap kegiatan Yang Muda Bercerita #8, yang digelar Rumah Cinwa ini bisa menjadi pemantik generasi milenial untuk tetap mencintai budaya warisan leluhurnya.”Mudah-mudahan kaum milenial menjadi tertarik, dan tumbuh rasa cintanya untuk ikut menjaga , merawat dan melestarikan seni budaya tentu menjadi sangat penting untuk memperkuat nasionalisme. Salah satunya lewat kesenian wayang, ” ujar founding Rumah Cinwa, yang bermarkas di Depok ini.

Jose Amadeus Krisna dalam ajang itu mengisahkan proses kreatifnya menggeluti dunia wayang , kuliner, juga budaya peranakan lainnya, berupa bangunan dan kearifan lokalnya.

Jose Amadeus yang tampil sebagai dalang pembuka dalam Pergelaran 4 Dalang dalam rangka peringatan 90 Tahun berdirinya Sobokartti, Sabtu, 12 Oktober 2019. Siapa sangka sang dalang yang wasis suluk, menyabetkan wayang kulit dan berkisah dalam bahasa Jawa adalah sosok pemuda keturunan Tionghoa?

Jose, panggilan karib, Jose Amadeus Krisna, pemuda kelahiran Semarang 21 Nopember 1998 ini, berkisah betul-betul “jatuh cinta” pada wayang purwa alias wayang kulit. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini tak tanggung-tanggung dalam mengakrabi jagat perwayangan.

Wayang Multikultural

Sebelumnya, Jose Amadeus, berkisah pada Christian Saputro dari Sumatera Post di Semarang.Dalang peranakan Tionghoa ini selain menguasai wayang purwa, juga sedang belajar mengakrabi wayang Potehi. Di sela kesibukanya Jose berhasil menciptakan wayang kronik. Usianya memang masih muda, namun dalang peranakan Tionghoa Foe Jose Amadeus Krisna ini tak hanya bisa mendalang. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga ini mengisahkan, sejak Imlek 2017 lalu, dirinya punya obesesi untuk membuat Wayang Kronik alias Wayang Multikultural. Sejak saat itu, Jose terus bergelut mematangkan konsep dan bentuk wayangnya agar bisa lebih sempurna.

Wayang Kronik adalah bentuk dari akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Jawa. Bentuknya mengambil Wayang Purwa Jawa, tetapi diberi ornamen-ornamen khas Tiongkok dan tidak meninggalkan tatanan serta komposisi Wayang Jawa.

Dalam dunia wayang kreativitas memadukan seni atau akulturasi, seperti Jawa dan Tiongkok biasanya disebut gagrak. Gagrak adalah model bentuk wayang sebagai hasil dari upaya mengotak-atik dan mempelajari wayang dari berbagai gaya. Maka lahirlah Wayang Kronik, akulturasi seni Jawa dengan Tiongkok.

Dalam konsep Wayang Kronik, untuk musiknya berupa gamelan Jawa bernada slendro yang dikolaborasikan dengan musik tradisional Tiongkok yang biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang Potehi. Dalam pertunjukannya, menggunakan peralatan budaya Tiongkok, seperti gawangan yang dipakai dalam Wayang Potehi hanya dalam ukuran yang lebih besar dan menggunakan kelir. “Wayang kroni masih terus berproses, nanti pada saatnya, akan saya pentaskan,” ujar Jose.

Belakangan ini Jose berkolaborasi dengan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) akan mengusung Wayang Geger Pecinan. Wayang ini tokoh-tokohnya merupakan para pelaku sejarah dalam era Geger Pecinan. Rencananya wayang ini pementasan perdananya akan dilakukan pada 10 Oktober 2020 mendatang. “Saya didukung UKSW sedang mempersiapkan wayang dan pendukungnya untuk pentas. Doa kan, ya, agar terealirir,” pungkas Jose mengakhiri perbincangan. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here