Zamakhsyari: Salah Tafsir Sebabkan Salah Memahami Perspektif Alquran

SumateraPost, Binjai – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kota Binjai kembali menggelar Muzakarah Ramadan 1442 Hijriah di halaman depan kantor MUI setempat, Minggu (02/05/2021) pagi.

Dalam kegiatan ketiga sekaligus muzakarah penutup pada Ramadan 1442 Hijriah ini, MUI Kota Binjai menghadirkan Rektor Universitas Dharmawangsa, Medan, DR H Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib Lc MA, selaku narasumber, dengan materi berjudul “Penyimpangan Penafsiran Istilah Alquran dan Pengaruhnya terhadap Tafsir Alquran Abad ke-21”.

Dipandu Ketua Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Kota Binjai, DR H Iman Jauhari SH MHum, selaku moderator, DR H Zamakhsyari Bin Hasballah Tahib Lc MA mengingatkan Umat Islam agar tidak salah dalam menafsirkan berbagai istilah dalam Alquran.

“Sadar atau tidak, saat ini banyak sekali penyimpangan penafsiran Alquran. Padahal salah memahami satu kata dalam Alquran, bisa salah memahami satu ayat. Salah memahami satu ayat, bisa salah memahami satu surat. Salah memahami satu surat, bisa salah memahami perspektif Alquran,” ungkapnya di hadapan puluhan eserta muzakarah.

Dikatakan Zamakhsyari, Alquran memiliki dua keunggulan. Pertama, Alquran merupakan kitab yang orisinil, karena bahasa, huruf, dan kata-katanya tidak ada mengalami perubahan sejak pertama diturunkan hingga saat ini. Kedua, Alquran memiliki kekuatan untuk menggugah hati pembacanya.

Atas dasar itulah, dia mengingatkan Umat Islam untuk tidak sembarangan menafsirkan berbagai istilah dalam Alquran. Sebab penafsiran Alquran hanya boleh dilakukan oleh alim ulama dan orang-orang yang memiliki kapasitas dan kompetensi khusus di bidang tafsir Alquran, serta tidak hanya mampu memahami arti dari setiap kata dan kalimat dalam bahasa Arab.

Baca Juga :  Dandim 0205/TK: "Dengan Mematuhi Aturan Pemerintah Anda Menyelamatkan Ribuan Manusia"

Selain itu, sambung Zamakhsyari, tidak semua istilah dalam Alquran mampu dipahami setiap orang secara gamblang. Sebab Abdullah Bin Abbas, salah seorang Sahabat Nabi yang paling pintar menafsirkan Alquran, menyatakan, sesungguhnya ayat dalam Alquran terbagi dalam empat kategori.

Keempat kategori itu antara lain, ayat yang hanya Allah Subhanahu Wa Taala yang tahu maknanya, ayat yang hanya dapat dijelaskan maknanya oleh ulama, ayat yang dapat diketahui maknanya oleh semua orang, serta ayat yang dapat diketahui maknanya oleh orang yang mengerti dan memahami kehidupan dan kebudayaan bangsa Arab.

“Ketahuilah, jihad terbesar Umat Islam di akhir zaman ialah jihad dengan Alquran. Cukup sampaikan hakikat Alquran, maka Alquran akan menunjukan jalannya sendiri. Karena itu pahamilah secara benar setiap kata dan ayat dalam Alquran,” seru Zamakhsyari.

Menariknya, kata Zamakhsyari, saat ini justru semakin banyak orang dengan mudahnya menafsirkan istilah dalam Alquran dengan cara mengartikan kata dan kalimat sesuai bahasa yang dia gunakan, terkhusus dalam menafsirkan makna kata-kata yang krusial. Hal inilah yang memicu penyimpangan penafsiran, sehingga berdampak negatif kepada pemahaman Umat Islam.

“Zaman dahulu, penafsiran Alquran hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang punya kompetensi. Namun sekarang Alquran justru diartikan dan ditafsirkan sendiri. Padahal banyak sekali istilah dalam Alquran yang tidak semua orang dapat menafsirkannya dengan tepat,” seru Zamakhsyari.

Baca Juga :  Sekda Karo Terkelin Purba Imbau Kades dan BPD Menyelesaikan Perdes Terkait ADD

Menurutnya, penyimpangan penafsiran Alquran sebenarnya sudah banyak terjadi dan telah berlangsung lama, terkhusus pada masa setelah wafatnya Rasululullah Shallahu Alaihi Wasalam. Dalam hal ini, katanya, kelompok pertama yang bertanggungjawab atas penyelewengan tafsir Alquran ialah Kaum Khawarij, yang melakukan hal itu untuk kepentingan politik.

Namun memasuki abad ke-20, penyimpangan-penyimpangan istilah dalam Alquran justru semakin bertambah banyak. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya pemahaman rasionalisme dan sekulerisme secara global, untuk meninggalkan pemahaman spiritual dan syariat.

“Di zaman Nabi hampir tidak ada upaya penyimpangan tafsir Alquran. Kalaupun ada salah tafsir, itu hanyalah sebatas kesalahan saat pemaknaan istilah oleh para sahabat atau lebih kepada faktor ketidaksengajaan. Beruntung kesalahan itupun langsung diluruskan Nabi. Sehingga tidak sampai menimbulkan kebingungan umat,” terangnya.

Lebih jauh Zamakhsyari menyebut ada dua motivasi utama seseorang menyimpang dalam menafsirkan istilah dalam Alquran. Pertama, untuk mencari popularitas, agar dikatakan sebagai mujaddid (tokoh pembaruan). Kedua, ghuhur atau perasaan sombong karena menganggap dirinya memiliki ilmu dan pengetahuan yang lebih baik.

“Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan ada dua faktor utama yang menyebabkan seseorang menyimpang menafsirkan Alquran. Faktor pertama, upaya mencari dalil pembenaran dalam Alquran yang muncul dari pemikiranmya atas suatu masalah. Sedangkan faktor kedua, tindakan tergesa-gesa dalam menafsirkan Alquran,” jelasnya.

Baca Juga :  Jelang Lebaran Relawan Bam's Bukber dan Berbagi di Bulan Ramadhan Bersama Wartawan

Atas adanya penyimpangan penafsiran Alquran, Zamakhsyari pun menguraikan beberapa pengatih negatif yang dikhawatirkan akan terjadi. Di antaranya, pembatalan sebagian makna Alquran, berkurangnya pengaruh ayat Alquran kepada Umat Islam, memicu kekacauan pada pemikiran Umat Islam, meningkatnya keraguan Umat Islam terhadap validitas Alquran, dan munculnya generasi yang berani menggugat Alquran.

“Lantas, apa yang harus dilakukan Umat Islam, terkhusus para ulama, untuk mencegah terjadinya penyimpangan penafsiran Alquran?” seru Zamakhsyari.

Pertama, katanya, melaksanakan program pengkaderan yang baik, demi menciptakan para alim ulama dengan kemampuan menafsirkan dan menyaring hasil tafsiran Alquran secara tepat, serta tidak bertolakbelakang dengan aqidah dan syariat Islam.

Kedua, memperkuat ilmu dasar tafsir dan pengakijan tafsir Alquran secara mendalam, terkhusus bagi para alim ulama, agar bekal spiritual dalam diri setiap invidisu Islam dapat timbuh dengan semakin kuat.

“Harus kita ingat, tafsir itu adalah karya manusia. Pasti ada kemungkinan terjadinya kesalahan. Namun meskipun rawan kesalahan, setiap tafsir pasti ada keunggulannya. Artinya, kita juga harus selektif. Apalagi tafsir Alquran sangat dibutukan dalam menjawab tantangan zaman,” ujar Zamakhsyari.

Di penghujung kegiatan, DR H Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib Lc MA, turut menyumbangan salah satu buku karyanya berjudul “Mutiara Hikmah Ulama, Kumpulan Kutipan Nasihat Ulama dan Solihin”, kepada Sekretaris MUI Kota Binjai, H Japar Sidik SAg MSi. (andi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here