Semarang – Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah bagi Perkoempoelan Boen Hian Tong (BHT). Organisasi sosial-keagamaan yang berakar di kawasan Pecinan Semarang ini genap berusia 150 tahun. Perjalanan satu setengah abad tersebut menjadi bukti konsistensi dalam merawat nilai kebajikan, persaudaraan, dan kepedulian sosial lintas generasi.
Didirikan pada abad ke-19, Boen Hian Tong berkembang sebagai ruang perjumpaan nilai-nilai Tionghoa dan semangat kebangsaan. Dari masa kolonial, era kemerdekaan, hingga Indonesia modern, BHT tetap berdiri sebagai wadah kebersamaan. Nilai gotong royong dan toleransi menjadi fondasi yang terus dijaga di tengah perubahan zaman.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menyatakan bahwa usia 150 tahun merupakan refleksi perjalanan panjang sekaligus komitmen masa depan.
“Seratus lima puluh tahun bukan waktu yang singkat. Boen Hian Tong hadir bukan hanya untuk komunitas Tionghoa, tetapi untuk masyarakat luas. Kami ingin terus menjadi rumah kebajikan, ruang dialog, serta jembatan persaudaraan di tengah keberagaman,” ujarnya.
Dalam rangka memperingati HUT ke-150, panitia telah menyiapkan rangkaian kegiatan sepanjang tahun 2026. Agenda dimulai pada Februari dengan Ritual Basuh Kaki bersama Komunitas Kinasih serta Sembahyang Cap Go Meh. Pada Maret, digelar Haul Gus Dur, pembagian takjil, dan buka puasa bersama PITI sebagai wujud semangat lintas iman yang selama ini menjadi bagian dari kiprah BHT.
April akan diisi kegiatan Estungkara dan Cengbeng Gus Dur. Selanjutnya pada Mei, digelar peringatan Rujak Pare serta perayaan 10 tahun Kantin Kebajikan, program sosial yang telah membantu banyak warga. Memasuki pertengahan tahun, kegiatan Peringatan Hari Anak dan Fun Run 150 Tahun BHT akan meramaikan peringatan, sebelum puncaknya Gala Dinner pada Agustus mendatang.
Sejumlah agenda lain juga tengah dipersiapkan, seperti peringatan King Hoo Ping, konser budaya pada Oktober, serta pengobatan massal pada November. Seluruh kegiatan dirancang tidak sekadar seremoni, melainkan sebagai ruang perjumpaan lintas komunitas dan generasi.
Ketua Panitia Peringatan HUT ke-150 BHT, Agung Kurniawan, menjelaskan bahwa perayaan ini mengusung semangat “Mangayubagya”.
“Kami ingin peringatan ini menjadi gerakan bersama. Mangayubagya berarti merawat kebahagiaan dan kebajikan secara kolektif. Karena itu, seluruh rangkaian acara diarahkan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Bagi masyarakat Semarang, Boen Hian Tong bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga simbol harmoni dan ruang dialog kebangsaan. Selama 150 tahun, organisasi ini telah menjadi bagian dari denyut sosial kota, memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan.
Memasuki usia seabad setengah, Boen Hian Tong menegaskan kembali komitmennya untuk terus berkiprah. Mangayubagya 150 Tahun menjadi penanda bahwa warisan terbesar organisasi ini bukan semata sejarah panjangnya, melainkan dedikasi yang terus hidup untuk Semarang dan Indonesia. (Christian tahu)




