SEMARANG — Sebanyak 219 peserta mengikuti Evaluasi Tari Sobokartti 2026 yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Gedung Sobokartti Semarang. Kegiatan tahunan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan, pelestarian, dan regenerasi seni tari tradisional Jawa yang selama ini menjadi ruh pendidikan budaya di Sobokartti.
Mengusung tema “Memayu Hayuning Budaya Mrih Kuncaraning Bangsa”, evaluasi tersebut diikuti peserta dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pada Sabtu (27/6), evaluasi diperuntukkan bagi kelas remaja dan dewasa, sedangkan Minggu (28/6) diikuti peserta kelas A-1, A-2, dan B.
Sekretaris Perkumpulan Seni Budaya dan Gedung Cagar Budaya Sobokartti, Darmadi, mengatakan bahwa evaluasi tari merupakan agenda penting yang tidak hanya mengukur kemampuan teknis peserta, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan penanaman nilai budaya kepada generasi muda.
“Melalui evaluasi ini kami ingin memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik. Yang dinilai bukan hanya ketepatan gerak, tetapi juga penghayatan, kedisiplinan, serta pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam seni tari tradisional,” ujar Darmadi.
Menurutnya, tingginya jumlah peserta tahun ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap seni tari tradisi masih sangat baik. Hal tersebut menjadi kabar menggembirakan di tengah derasnya arus budaya populer dan perkembangan teknologi digital yang kerap menggeser perhatian generasi muda dari seni budaya tradisional.
Untuk menjaga kualitas dan objektivitas penilaian, Sobokartti menghadirkan tiga penguji yang memiliki pengalaman di bidang seni dan pendidikan. Mereka adalah Haryadi Dwi Prasetyo, S.Sn., M.M. dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Endik Guntaris S.Sn M.Pd (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), serta Siwi Wahyuningsih, S.E., M.M., alumni Tari Sobokartti yang saat ini menjabat sebagai Camat Semarang Utara.
Para peserta dinilai berdasarkan berbagai aspek, mulai dari teknik gerak, ketepatan irama, ekspresi, penguasaan karakter, hingga etika dalam membawakan tarian. Hasil evaluasi nantinya menjadi bahan pemetaan perkembangan peserta sekaligus dasar pembinaan pada jenjang berikutnya.
Darmadi menegaskan bahwa Sobokartti memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga keberlangsungan seni budaya Jawa melalui pendidikan yang berkesinambungan. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan, tetapi harus diwujudkan melalui proses belajar yang sistematis dan melibatkan generasi muda.
“Budaya akan tetap hidup apabila diwariskan. Karena itu, Sobokartti berkomitmen untuk terus menjadi ruang belajar, ruang berkarya, sekaligus ruang regenerasi bagi para penari dan seniman muda,” katanya.
Sebagai salah satu lembaga seni tertua di Semarang, Sobokartti telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah kebudayaan Jawa Tengah. Melalui Evaluasi Tari Sobokartti 2026, lembaga ini kembali menegaskan perannya sebagai penjaga warisan budaya sekaligus penggerak lahirnya generasi penerus yang mampu membawa seni tradisi tetap relevan di masa kini dan masa mendatang. (Christian Saputro)




