SEMARANG — Upaya memperkuat tradisi menulis dan budaya literasi akademik di Indonesia kembali mendapat momentum baru. Nusantara Institute akan menyelenggarakan Nusantara Academic Writing Award (NAWA) 2026 di Kota Semarang, sebuah ajang penghargaan yang ditujukan bagi para penulis, akademisi, peneliti, dan intelektual yang berkontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan gagasan kebangsaan.
Acara puncak penganugerahan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (27/6/2026) di Metro Park View Hotel, Semarang. Melalui kegiatan ini, Nusantara Institute ingin menegaskan bahwa karya tulis akademik bukan sekadar dokumen statis, melainkan medium strategis dalam membangun peradaban bangsa.
Pendiri dan Direktur Nusantara Institute, Sumanto Al Qurtuby, menyatakan bahwa penghargaan ini lahir dari keprihatinan sekaligus harapan terhadap masa depan tradisi intelektual Indonesia. Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi digital yang seringkali dangkal, karya tulis akademik tetap menjadi fondasi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“NAWA merupakan bentuk penghormatan kepada para penulis dan akademisi yang selama ini bekerja dalam sunyi. Mereka menghasilkan karya-karya yang memperkaya khazanah pengetahuan Indonesia. Kita ingin budaya menulis terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat,” ujar Sumanto saat memaparkan rencana pelaksanaan kegiatan di Semarang, Selasa (23/6/2026).
Sumanto, yang juga dikenal sebagai akademisi dan penulis produktif, menegaskan komitmen Nusantara Institute untuk menjadikan NAWA sebagai agenda tahunan. Tujuannya adalah mendorong lahirnya karya-karya akademik berkualitas serta memperkuat ekosistem literasi nasional yang inklusif dan kritis.
Sinergi Akademisi dan Dunia Usaha
Pelaksanaan NAWA 2026 tidak hanya mengandalkan dukungan komunitas intelektual, tetapi juga melibatkan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Keterlibatan dunia usaha ini dinilai menunjukkan semakin kuatnya sinergi antara korporasi dan komunitas akademis dalam memajukan pendidikan serta budaya literasi.
Sejumlah tokoh dari sektor korporasi dijadwalkan hadir memberikan sambutan dan menjadi bagian dari prosesi penghargaan. Di antaranya adalah Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, serta Sumanto Al Qurtuby sendiri sebagai perwakilan penyelenggara.
Kehadiran perwakilan dari institusi keuangan dan industri pangan raksasa seperti BCA dan Garudafood menandakan bahwa literasi akademik mulai dilihat sebagai aset berharga bagi pembangunan sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas.
Rangkaian Acara dan Hiburan Budaya
Acara penganugerahan akan dikemas dengan nuansa yang formal namun tetap hangat dan apresiatif. Rangkaian kegiatan akan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pertunjukan seni tari tradisional sebagai pembuka suasana.
Prosesi inti akan mencakup pengibaran bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sambutan dari para pemangku kepentingan, hingga momen puncak pembacaan nama-nama penerima penghargaan. Untuk menambah kemeriahan, acara juga akan dimeriahkan oleh penampilan seni dari Kertypro Official Entertainment dan vokal dari penyanyi Happy Imelda.
Lebih dari sekadar seremoni, NAWA 2026 diharapkan menjadi ruang perjumpaan (meeting point) bagi para akademisi, penulis, peneliti, dan pegiat literasi dari berbagai daerah. Melalui forum tersebut, Nusantara Institute bertujuan memperkuat jaringan intelektual yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan baru bagi kemajuan Indonesia.
Investasi Peradaban
Di tengah tantangan disinformasi dan penurunan minat baca, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa peran penulis akademik tetap krusial. Dari ruang-ruang penelitian, perpustakaan, kampus, hingga komunitas literasi, mereka terus berperan menjaga nyala tradisi intelektual bangsa.
Melalui NAWA 2026, Nusantara Institute menegaskan bahwa penghargaan terhadap karya tulis bukan hanya penghormatan kepada individu, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan peradaban Indonesia yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan semangat kebangsaan. (Christian Saputro)




