Sumaterapost | Binjai – Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahhanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai, drh Jefri Helmi, menyatakan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkiti hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi dan unta, bukan termasuk kategori zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya.
“Penyakit mulut dan kuku atau disebut juga dengan istilah Foot and Mouth Disease adalah sejenis penyakit hewan yang disebabkan infeksi Virus Aphtovirus. Tapi penyakit ini bukan tergolong zoonosis. Sama sekali tidak beresiko menular atau menjangkiti manusia. Bahkan daging hewan ternak yang terjangkit penyakit ini dapat dikonsumsi oleh manusia,” ungkapnya, Kamis (02/05/2022) siang.
Meskipun tidak berbahaya bagi manusia, namun Jefri tetap meminta setiap peternak untuk dapat mewaspadai PMK. Sebab penyakit ini sangat beresiko menular dan menyebabkan kematian terhadap hewan ternak, terutama pada hewan-hewan muda.
Dalam hal ini, hewan yang terjangkit PMK ditandai dengan suhu tubuh di atas 41 derajat celcius, pembengkakan limfoglandula mandibularis, hipersalivasi (air liur berlebihan), serta adanya lepuhan atau erosi di sekitar mulut, moncong hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku, dan puting ambing.
Namun menurut Jefri, penyakit mulut dan kuku dapat dicegah atau diminimalisir resiko penularannya dengan cara menjaga kebersihan kandang, pemberian pakan yang sehat, bersih, dan bernutrisi tinggi, melakukan vaksinasi dan pemberian vitamin, memisahkan hewan sakit dengan yang sehat, tidak menyembelih hewan sakit, serta tidak mengubur atau menempatkan bangkai, darah, tulang, kulit, dan organ-organ hewan yang sakit di sembarang tempat.
“Namun peternak tidak perlu terlalu khawatir. Sebab hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku tetap dapat disembuhkan. Terutama dengan pemberian obat, injeksi, dan perawatan secara maksimal,” terangnya.
Dikatakannya, sejauh ini pihaknya telah mengidentifikasi keberadaan sejumlah hewan ternak pada beberapa usaha peternakan di Kota Binjai yang terjangkit PMK. Namun Jefri mengaku, pihaknya telah melakukan upaya penyembuhan, termasuk juga sosialisasi pencegahan PMK kepada peternak.
“Alhamdulillah, dari upaya penyembuhan yang sudah kita lakukan, sebagian besar hewan ternak di Kota Binjai yang sempat kita temukan terjangkit penyakit mulut dan kuku, terutama sapi, saat ini sudah dinyatakan sembuh,” ungkapnya.
Sebagai tindaklanjut lain, dia juga meminta peternak segera melaporkan ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai jika ada menemukan hewan ternaknya terjangkit PMK. Sehingga upaya penyembuhan dan tindakan pencegahan penularan atas penyakit ini dapat segera dilakukan. (andi)




