Semarang — Yayasan Bhakti Brata Daerah (YBB D) Jawa Tengah menegaskan komitmennya dalam merawat dan mengembangkan seni tradisi pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 yang digelar di Gedung Baru Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (24/1/2026).
Selama lebih dari tujuh dekade, YBB D Jawa Tengah konsisten hadir sebagai ruang pembinaan kebudayaan. Yayasan ini tidak hanya berperan menjaga warisan seni tradisi, tetapi juga berupaya menjembatani nilai-nilai tradisi dengan dinamika zaman agar tetap hidup, relevan, dan bermakna bagi generasi penerus.
Pembina YBB D Jawa Tengah, Brigjen Pol (P) Drs. S.A. Soehardi, menyampaikan bahwa usia 74 tahun merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus pengabdian. YBB D, menurutnya, sejak awal berdiri telah menjadi wadah pelestarian dan pengembangan seni budaya yang menjadi jati diri dan kekayaan bangsa.
Ia menegaskan, seni tradisi tidak cukup hanya dijaga sebagai warisan masa lalu, tetapi perlu terus dibaca ulang agar mampu berbicara dengan generasi baru di tengah perubahan dunia yang kian cepat.
Peringatan HUT ke-74 YBB D Jawa Tengah ini menjadi momentum strategis bagi penguatan ekosistem seni budaya di Jawa Tengah. Pemanfaatan Gedung Baru TBRS Semarang sebagai ruang perayaan dan pertunjukan dinilai mencerminkan harapan tumbuhnya iklim kesenian yang sehat, terbuka, dan berkelanjutan.
Sebelum pagelaran wayang orang dimulai, acara diawali dengan pemotongan tumpeng sebagai penanda HUT ke-74 YBB D Jawa Tengah. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan tali asih kepada Wayang Orang Ngesti Pandowo sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan konsistensinya dalam menjaga seni tradisi. Tali asih diserahkan oleh Kepala Dinas Satpol PP Kota Semarang Kusnandir, mewakili Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, kepada Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo, Djoko Moeljono.
Puncak peringatan ditandai dengan pementasan lakon Dewa Ruci utawa Sang Bima oleh Wayang Orang Ngesti Pandowo. Lakon tersebut mengisahkan perjalanan Sang Bima yang tidak hanya sarat heroisme, tetapi juga menggambarkan laku batin manusia dalam mencari jati diri, kebenaran, dan kebijaksanaan hidup.
Dalam sambutannya, Pembina YBB D menilai lakon Dewa Ruci memiliki pesan yang sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Nilai-nilai kejujuran, keteguhan, pengabdian, dan welas asih yang terkandung di dalamnya dinilai penting untuk terus dihidupi, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Apresiasi juga disampaikan kepada Wayang Orang Ngesti Pandowo beserta seluruh seniman pendukung—sutradara, penata musik, koreografer, hingga kru—yang telah menghadirkan pementasan bermutu. Kehadiran seni tradisi di panggung baru TBRS Semarang dinilai sebagai simbol harapan bagi tumbuhnya ruang-ruang budaya yang hidup dan produktif.
Pemerintah Kota Semarang turut menyampaikan dukungan terhadap upaya pelestarian seni dan budaya. Seni tradisi dipandang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan strategis dalam membangun karakter masyarakat, memperkuat kohesi sosial, serta mendukung citra Kota Semarang sebagai kota yang inklusif, kreatif, dan berbudaya.
Sebelumnya, Ketua Panitia HUT ke-74 YBB D Jawa Tengah Tahun 2026, Drs. H. Agus Budi S., S.S.T.M.K., M.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini terselenggara berkat dukungan penuh Pemerintah Kota Semarang dan Wayang Orang Ngesti Pandowo. Panitia menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Kepala Dinas Satpol PP Kusnandir, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari, serta jajaran Wayang Orang Ngesti Pandowo atas sinergi yang terbangun.
Memasuki usia ke-74 tahun, YBB D Jawa Tengah diharapkan semakin kokoh dalam pengabdian kebudayaan, semakin terbuka terhadap kolaborasi, serta terus menjadi ruang pembinaan dan inspirasi bagi tumbuhnya generasi seniman dan pelaku budaya di Jawa Tengah.
(Christian Saputro)




